Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Catatan Biografi

Literatur ataupun penelitian yang khusus membahas biografi Syekh Imam Tabbri masih sangat terbatas, sehingga peneliti dalam hal ini hanya mendapatkan sedikit informasi tentang kehidupan Syekh Imam Tabbri tersebut. Informasi berkaitan Syekh Imam Tabbri ini sepenuhnya penulis dapatkan dari penelitian Ahmad Wahyu Sudrajad dengan “Maulid Qasar dalam Naskah H. Tabbri” (Sudrajad, 2014).

Syekh Imam Tabbri adalah keturunan dari keluarga Tegalsari. Wilayah Tegalsari merupakan pusat berkumpulnya ulama dan santri. Hal ini dikarenakan di Tegalsari terdapat pesantren gerbang tinitar yang diasuh oleh Syekh Muhammad Besari. Pesantren itu menjadi penempa ksatria dan ulama. Tokoh-tokoh besar seperti Paku Buwono II, Pangeran Diponegoro, dan Ranggawarsita pernah mengenyam pendidikan di pesantren tersebut. Melihat tersebut, tidak heran jika para dzuriyyah Tegalsari juga menjadi pendakwah di berbagai wilayah, khususnya di Nusantara (Sudrajad, 2014).

Syekh Imam Tabbri lari dari Surakarta karena kejaran Belanda yang ingin menangkapnya. Hal ini dikarenakan Syekh Imam Tabbri pada masa itu mampu membuat uang sendiri. Kemudian, terlepas dari itu Syekh Imam Tabbri merupakan putra ketujuh dari Kyai Khalifan bin Syekh Muhammad Besari. Nasab Syekh Imam Tabbri dari pihak Ibu jika dirunut jalurnya akan sampai kepada Rasulullah, sedangkan dari pihak Ayah akan sampai kepada Raja Brawijaya V. Terdapat beberapa versi mengenai silsilah yang berkembang, jika merujuk dari naskah milik Kyai Abdul Mukti, pimpinan hizbullah Kota Ngawi akan sangat berbeda dengan salasilah yang di tuliskan di bawah ini (Nawawi, 1995). Hal ini tidak begitu berpengaruh karena dengan dua jalur nasab di bawah ini sudah menguatkan gambaran latar belakang Syekh Imam Tabbri sebagai salah satu Ulama Nusantara. Berikut adalah runtutan nasab Syekh Imam Tabbri (Sudrajad, 2014):

  1. Dari Jalur Laki-laki: Prabu Brawijaya V – Sultan Abdul Fattah/Raden Fattah – Sultan Trenggono – Sunan Prawoto – Panembahan Wirasmoro – Pangeran Demang I/Raden Jalu (Adipati Kediri 1585M) – Pangeran Demang II/Raden Irawan – Syekh Abdul Mursyad – Kyai Anom Besari – Syekh Muhammad Besari/Kyai Ageng Muhammad Besari – Kyai Chalipah – Syekh Imam Tabbri.
  2. Dari jalur Perempuan: Nabi Muhammad Rasulullah –  Sayyidah Fathimah Az-Zahra – Al-Husain –  Ali Zainal Abidin – Muhammad Al-Baqir – Ja’far Shadiq – Ali Al-Uraidhi – Muhammad – Isa – Ahmad Al-Muhajir – Ubaidillah – Alawi Awwal – Muhammad Sohibus Saumiah – Alawi Ats-Tsani – Ali Kholi Qosam – Alawi Ammil Faqih – Abdul Malik Al-Muhajir/Azmatkhan – Abdullah Khan – Ahmad Jalaludin Khan – Jamaluddin Al-Husain –  Ibrahim Zainuddin Al-Akbar – sunan Ampel – Sayyid Qasim Syafruddin/Sunan Drajad – Pangeran Trenggana (Adipati Surabaya) – Raden Panji Wirya Krama – Raden Panji Jayalengkara – Pangeran Pekik Jenggala – Pangeran Pengampon – Raden Satmoto/Kyai Ngarobi – Nyai Anom Besari – Syekh Muhammad Besari/Kyai Ageng Muhammad Besari – Kyai Chalipah – Syekh Imam Tabbri.
Baca juga:  Siklus

Salasilah pada masa itu menjadi hubungan kuat dalam jejaring ulama nusantara untuk melawan kolonialisme. Selain itu, Syekh Imam Tabbri juga dibesarkan dalam lingkungan pesantren yang membuat dirinya memiliki wawasan luas terkait dengan tatanan politik, sehingga tidak heran jika pada masa itu Syekh Imam Tabbri menjadi salah satu oposisi pemerintah. Pemahaman yang luas terkait dengan tatanan politik tersebut membuat Syekh Imam Tabbri mampu melihat bahwa pada masa itu pemerintah sudah keluar dari tatanan kepemimpinan yang adil dan mampu mewujudkan kemakmuran rakyatnya (Sudrajad, 2014).

Berkaitan dengan perlawanan di atas, Syekh Imam Tabbri menuliskan beberapa kritiknya terhadap pemerintah dan kolonialisme melalui naskah, salah satunya adalah rangkuman ayat-ayat Al-Qur’an yang ditulis dalam naskah primbonya. Upaya dan sikap kritisnya tersebut, pada akhirnya membuat Syekh Imam Tabbri menjadi buronan Keraton Surakarta dan juga Belanda sekitar tahun 1840-1860an. Hal ini bisa dilihat dari angka tahun yang ada dalam naskah primbon tersebut. Angka tahun tersebut ketika dikonversikan menjadi tahun masehi akan jatuh pada 1857 M (Sudrajad, 2014).

Baca juga:  Cantik dalam Serat

Setelah Syekh Imam Tabbri sadar bahwa dirinya menjadi buronan Kerajaan dan sekaligus Belanda, pada akhirnya Syekh Imam Tabbri pergi meninggalkan Tegalsari menuju desa Blagungan, Donoyudan, Kalijambe, Sragen  bersama keluarganya. Tempat tersebut tampaknya dipilihkan oleh Kyai Hamdani, adik Syekh Abdul Jalal Kaliyoso yang menjadi panglima perang Diponegoro. Tempat tersebut dipilih sebagai tempat persembunyian Syekh Imam Tabbri, tampaknya juga berdasarkan atas pertimbangan jejaring ulama’ seperjuangan  Syekh Imam Tabbri dalam perang Diponegoro (Sudrajad, 2014; Jalil, 2019).

Tempat persembunyian Syekh Imam Tabbri tersebut masih termasuk dalam wilayah Kaliyoso yaitu wilayah pardikan Keraton Surakarta yang dipimpin oleh Syekh Abdul Jalal 1. Tanah tersebut diberikan oleh Paku Buwono IV kepada Syekh Abdul Jalal 1 karena beliau mampu menolong Paku Buwono IV ketika hilang di Alas Jogopaten (sebelum diberi nama Kaliyoso oleh PB IV). Berawal dari situlah kemungkinan melalui jejaring Ulama dari Kyai Hamdani, Syekh Imam Tabbri diminta untuk menetap di wilayah tersebut. Selain itu, pada waktu itu Panglima Mojo yang bernama Kyai Abdullah putra Bupati Tuban juga berada di wilayah tersebut. Hal tersebut mempertegas adanya sebuah perencanaan untuk mengumpulkan panglima perang Pangeran Diponegoro dan Kyai Mojo yaitu: Kyai Hamdani (adik Syekh Abdul Jalal 1 dan panglima perang Diponegoro), Kyai Abdullah (putra Bupati Tuban dan panglima perang kyai Mojo), dan Syekh Imam Tabbbri (mewakili dzuryah tegalsari) (Jalil, 2019).

Melihat perkumpulan tersebut semakin memperjelas bahwasanya jejaring ulama pada waktu itu sangat kuat untuk melawan Kolonialisme Belanda. Bahkan, pada perjalanan selanjutnya Kyai Abdullah gugur dalam peperangan dan dimakamkan di Kaliyoso. Kemudian Kyai Hamdani diminta untuk pergi ke wilayah Pasuruan. Hal ini dikarenakan pada waktu itu Keraton mengadakan sayembara, yaiu “siapa yang mampu mencabut pusaka keraton, maka akan diberikan sebagian wilayahnya”. Ketika Kyai Hamdani mendengar sayembara tersebut saat pulang dari sholat jum’at di Masjid Agung Demak, Kyai Hamdani kemudian menuju Surakarta dan ikut sayembara yang di gelar di alun-alun Surakarta dan disaksikan masyarakat Surakarta. Kyai Hamdani mampu mencabut pusaka keraton tersebut, dan hal ini membuat Raja sangat kaget sehingga beliau kemudian pergi ke Kaliyoso menemui Syekh Abdul Jalal 1. Supaya Keraton Surakarta tidak malu karena harus menyerahkan sebagian wilayah Surakarta, maka Syekh Abdul Jalal 1 mengambil jalan tengah dengan menyuruh adiknya (Kyai Hamdani) untuk babad alas di wilayah Pasuruan (Jalil, 2019).

Baca juga:  Soccer War

Sementara itu, Syekh Imam Tabbri masih menetap di wilayah Blagungan (pada waktu itu masuk wilayah pardikan Kaliyoso) dan mengabdikan diri untuk mensyiarkan ajaran Islam ke masyarakat sekitar. Syekh Imam Tabbri menghabiskan hari-harinya untuk beribadah di surau kecil sambari menyebarkan ajaran Islam dan menulis beberapa kitab. Hal tersebut beliau lakukan sampai berumur sekitar 90-100 tahun, sampai pada akhirnya Syekh Imam Tabbri ingin melaksanakan rukun Islam yang kelima yaitu Haji. Atas keinginannya tersebut, anak pertaman Syekh Imam Tabbri yang bernama Mbah H. Ridwan pun kemudian memberangkatkanya untuk melaksanakan ibadah haji. Sebelum berangkat Syekh Imam Tabbri meminta kepada semua saudaranya untuk mendo’akannya supaya beliau meninggal di Mekkah (Sudrajad, 2014; Jalil, 2019).

Kemudian, setelah melaksanakan ibadah Haji Syekh Imam Tabbri memberikan kompas dari kayu kepada KH. Ridwan  untuk digunakan sebagai penanda sholat lima waktu. Syekh Imam Tabbri Juga berwasiat kepada KH. Ridwan untuk mendirikan masjid di dekat makam Mbah Blagung (makam tua yang dikeramatkan), supaya anak cucunya kelak tidak ada yang menyembah makam tua tersebut. Wasiat-wasiat itu  tampaknya menjadi keinginan terakhir Syekh Imam Tabbri sebelum beliau meninggal dan dimakamkan di tanah Haromain (Sudrajad, 2014; Jalil, 2019).[]covernajih 1 - Syekh Imam Tabbri

 

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi