Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Ulasan buku "The Longest Journey: Southeast Asians and the Pilgrimage to Mecca"

Prof. Eric Tagliacozzo hadir kembali dengan buku barunya yang sangat menarik, The Longest Journey: Southeast Asians and the Pilgrimage to Mecca (Oxford, UK: Oxford University Press, 2013). Dia menyajikan kepada kita, tentang sejarah perjalanan ibadah haji orang-orang asal “negeri bawah angin” Asia Tenggara sejak periode modern awal, ketika catatan arsip perihal haji tersedia pertama kalinya, sampai fenomena kontemporer (hlm. 3). haji tamu allah

Penulisan sejarah dengan topik haji Asia Tenggara belum pernah dicoba sebelumnya pada skala ini. Meskipun hal ihwal itu telah disebutkan secara singkat dalam karya-karya yang lebih umum mengenai salah satu rukun Islam ini, namun sangat sedikit yang mendiskusikannya secara rinci, dan beberapa di antaranya berada di tempat yang tidak mudah diakses oleh publik, seperti: tesis dan disertasi  yang tidak diterbitkan, bab dalam monografi, dan arsip laporan resmi zaman kolonial (hlm. 11).

a 1 - Tamu Allah dari Negeri Bawah Angin

Studi Tagliacozzo menjelaskan ‘kehidupan internal dan eksternal manusia’ secara lebih luas, dan merupakan upaya untuk menulis sejarah baru dari Timur Dekat dengan desentralisasi narasi yang jauh dari geografi itu (hlm. 9). Dia menetapkan sejak awal perihal pentingnya ibadah haji dalam peta peradaban (hlm. 4-5) dan dampaknya sebagai ritual bagi umat Muslim di seluruh mayapada, yang menabalkan pentingnya untuk mempelajari historiografi haji.

Buku ini sukses dalam kontribusinya terhadap sejarah haji kawasan Asia Tenggara dan Timur Dekat, serta sumbangsihnya dalam menganalisis kompleksitas pengalaman manusia yang terikat dalam parameter itu. Secara keseluruhan, Tagliacozzo memberikan kontribusi besar untuk kanvas yang lebih luas–sejarah masyarakat Muslim di seluruh mayapada, sejarah haji, dan sejarah di mana kita melihat persimpangan dan persinggungan antara perdagangan, perniagaan, wisata, ritual, pengabdian, politik, kerajaan, elit, pria dan wanita (gender), negara, dan kenangan. The Longest Journey memang ditujukan kepada pembaca yang begitu luas.

Struktur buku ini sangat terorganisir, terdiri dari tiga bagian: pertama: ‘Deep structure, longue dureecharting the Hajj over the centuries’; kedua: ‘Sailor, doctor, statesman, spythe Hajj through four colonial windows’; ketiga: ‘Making the Hajj “Modern”pilgrims, states and memory’. Setiap bagian terdiri atas empat bab. Bab-bab yang relatif pendek ini memiliki keuntungan dalam hal narasi keseluruhan dalam teks, dan akan berguna untuk para pengajar yang dapat mengatur bab masing-masing sebagai bahan bacaan saja–mereka dapat dibaca sama produktifnya sebagai karya yang berdiri sendiri atau sebagai bagian dari kesatuan buku. Penyusunan yang kronologis ini berhasil menggugah kita perihal bagaimana haji dari Asia Tenggara telah berubah dari waktu ke waktu, dan memungkinkan kita dengan mudah untuk membandingkan narasi haji periode modern awal dengan analisis sejarah lisan zaman modern a la ‘Haji’ Tagliacozzo di bab pungkasan.

Bab satu, ‘Ancient pilgrims’, merajut ulang sejarah awal haji Asia Tenggara dari awal abad ke-17, menempatkannya dalam konteks spasial Samudera Hindia dan meningkatnya jumlah orang yang menyeberangi lautan itu untuk urusan agama dan tujuan lainnya. Penekanan Tagliacozzo di sini adalah untuk menyoroti pentingnya peningkatan hubungan antara Asia Tenggara dan Timur Dekat, dalam istilah ‘manusia’ dan ‘material’. Kekuatan bab ini disorot ketika pembaca mencapai bagian akhir dari buku–bahwa koneksi antarhaji yang ramai, ditempa di Samudera Hindia sebagai produk dari kegiatan abad yang lama, mendahului era kolonial Eropa.

Bab dua, Mecca’s tidal pull’, terlibat dengan studi tentang Samudera Hindia dengan berfokus pada Laut Merah dan Arabia Barat (sekarang Yaman modern) melalui ‘komoditas dalam gerakan’ dan ‘sejarah lokal dari tempat translokal’ (hlm. 42). Tagliacozzo berpendapat bahwa perdagangan dan diplomasi membentuk latar belakang penting fenomena haji, dan bahwa peziarah Asia Tenggara adalah salah satu dari sekian banyak komunitas yang terlibat dalam proses itu. Bab yang cergas ini didasarkan pada karya-karya sebelumnya, seperti misalnya, Michael Pearson, The Pilgrimage to Mecca: the Indian experience 1500-1800. Bahwa latar pentingnya perdagangan dan perniagaan sebagai faktor yang memungkinkan bagi peziarahan haji, dan menunjukkan bagaimana Laut Merah dan Jazirah Arab sebagai ruang bagi kedua sumber bisnis itu, untuk berbagai barang dan modal yang mereka distribusikan. Motif ekonomi berjalan sejajar dengan kesalehan.

Bab tiga, ‘Financing devotion’, ialah studi yang berharga perihal nilai ekonomis ibadah haji pra-modern. Meskipun wujud gravitasi spiritualnya berupa ritual, ziarah itu mungkin ‘tidak dalam hati dan pikiran orang, melainkan melalui pundi-pundi harta mereka’ (hlm. 63). Tagliacozzo menjelaskan pergeseran grafik dalam ongkos pembiayaan haji antara era pra-kolonial dan kolonial, dengan melihat peralihan dari sejumlah perjalanan dari sedikit peziarah yang (agak) kaya, dengan munculnya negara-negara kolonial Eropa dan perubahan teknologi melalui kapal uap–kedua tren ini memungkinkan munculnya lebih banyak peziarah untuk berangkat haji. Dia berpendapat bahwa pembiayaan ibadah haji untuk jamaah di era itu, dilakukan ‘sebagian besar melalui pengawasan pemerintah kolonial yang berhak memeriksa dan mengizinkannya’ (hlm. 64). Bab ini berfungsi sebagai fondasi ekonomi yang vital dalam uraian The Longest Journey.

Bab empat, ‘Sultanate and crescent’, sangat bermanfaat melalui analisis yang cermat atas teks-teks berbahasa Melayu yang menampilkan informasi, dan menafsirkan, ibadah haji dari abad ke-17 hingga awal abad ke-19. Bab ini lebih mendedahkan pada ‘alam mental’ dari pengadilan dan tata negara Melayu, dan berpendapat bahwa ibadah haji ‘memainkan peranan penting saat mandulnya kekuasaan agama dan politik, baik di Melayu maupun dunia Samudera Hindia’ (hlm. 84). Dalam analisisnya, Tagliacozzo menunjukkan bagaimana ibadah haji semakin penting di kalangan Melayu dan Muslim di Samudera Hindia, saat keduanya bepergian melintasi Samudera Hindia dan mereka yang tinggal di rumah, dan peta tentang bagaimana orang-orang Asia Tenggara larut ke dalam dunia agama dan intelektualitas Arab dan negeri-negeri Muslim sekitarnya.

Baca juga:  Pelarangan dengan atau Tanpa Seleksi

Bab lima, ‘In Conrad’s wake’, merupakan uraian yang khas dari seorang sejarawan cum ilmuan susastra. Tagliacozzo menyediakan analisis segar–yang sangat dibutuhkan, tentang Lord Jim dan ‘inspirasi’ di balik cerita: kasus naas kapal haji SS Jeddah tahun 1880. Argumen kuncinya ialah bahwa Lord Jim harus dibaca ‘sebagai produk sejarah pada masanya, di samping sumber-sumber sejarah periode lain’ (hlm. 109). Melalui penilaiannya yang berhati-hati  khas sejarawan dan kritisi, penggunaan karya fiksi Conrad itu dan analisis perihal catatan terkait insiden Jeddah (singkatnya–kapal itu mengalami masalah yang serius dan ditinggalkan oleh para awak kapalnya yang notabene orang-orang Eropa, para peziarah kemudian berhasil menyelamatkan kapal itu, ada skandal besar atas tindakan bangsa Eropa ini), argumen Tagliacozzo ini dinilai berhasil.

Dia menyatakan bahwa sebelum penerbitan Lord Jim, adalah ‘aman untuk mengatakan bahwa Barat rata-rata hampir tidak mengerti’ tentang haji (hlm. 117). Hal ihwal ini nyatanya tidak memperhitungkan keberhasilan  catatan perjalanan dari Richard Burton yang begitu populer (diterbitkan pada 1855-6), yang bisa dibilang pengantar kepada publik Barat untuk subjek “Haji”. Analisis bab dalam The Longest Journey melebar keluar untuk mempertimbangkan pandangan Conrad tentang  kerajaan dan visi kolonial ihwal haji, membuat pokok berharga atas ras dan Islam (hlm. 125-8). Bab ini merupakan kekuatan yang diulang dalam buku, kemampuannya untuk bergerak dari detail halus untuk melakukan intervensi yang lebih besar dalam perdebatan seperti itu, lebih dari persepsi kolonial atas dunia yang terjajah.

Bab enam, ‘A medical mountain’, laporan yang segar bagi kalangan sarjana tentang topik pengobatan era kolonial haji, masalah wabah penyakit dan kontrol sanitasi. Tagliacozzo terlibat begitu mendalam dengan literatur medis dalam waktu dan lewat berbagai bahasa sumber. Perang melawan wabah penyakit adalah arena utama di mana ‘kekuatan agresif Eropa berusaha untuk mengelola bidang kehajian, atas dasar kekhwatiran terhadap wabah epidemiologi yang mengglobal’ (hlm. 134). Analisisnya atas kasus kolonial Belanda sangat bagus, tapi saya pikir diskusi perihal para peziarah haji asal British Malaya (kini Malaysia dan Singapura) seharusnya mendapatkan ruang yang banyak untuk mengembangkan masalah ini lebih lanjut.

Tagliacozzo mengatakan dengan tepat, bahwa tempat-tempat macam stasiun karantina Pulau Kameran di Laut Merah adalah ‘simbol kemungkinan dari zaman modern’, tetapi penitikberatan atas tempat itu, mungkin hanya akan jatuh pada kemungkinan belaka–sedangkan tindakan sanitasi dan karantina tentu memiliki dampak besar terhadap pengalaman perjalanan ibadah haji. Pertempuran epidemiologi ialah sebuah perjuangan berat selama periode ini. Bahkan, setelah pemusnahan penyakit kolera  di Arab Saudi pada awal abad ke-20, penyelenggaraan ibadah haji tetap menjadi bahaya kesehatan akut bagi banyak orang, yang ditunjukkan oleh angka kematian yang menakjubkan, terutama di kalangan peziarah Melayu, yang berlangsung pasca Perang Dunia Kedua berakhir.

Bab tujuh, ‘The skeptic’s eye’, melukiskan sosok Orientalis kolonial Belanda yang (mungkin) paling penting dan kontroversial berkaitan dengan masalah haji, Christian Snouck Hurgronje. Analisis Tagliacozzo ihwal surat-surat pribadi Hurgronje, memberi kita pandangan baru tentang seorang pria Londo yang meneliti masalah haji untuk meraih gelar doktor di Leiden, masuk Islam dan tinggal di Mekah pada 1884-5, kemudian menjadi penasihat Pemerintah Hindia Belanda, dan sangat terlibat dalam penindasan brutal terhadap perlawanan rakyat Aceh terhadap Belanda selama perang yang pahit (1873-1914) ini. Penggunaan surat-surat pribadi dan catatan kolonial negara silih-berganti itu, memberi kita pandangan yang jauh lebih bernuansa, atas apa yang Tagliacozzo sebut sebagai ‘negara kolonial besar’ Belanda,  daripada yang telah disajikan dalam karya-karya sebelumnya.

Sementara Hurgronje menghasilkan sejumlah besar materi ihwal fenomena ibadah haji untuk majikan kolonialnya, kecenderungan yang menarik  bagi Tagliacozzo, ialah saat Hurgronje mengunduran diri dari jabatannya, bahwa ‘itu merupakan keputusan besar bagi seorang yang pernah sepenuhnya menguasai atau mengendalikan…’ (hlm. 171). Kita bisa memperpanjang uraian atas masalah ini, terkait ibadah haji dan negara-negara kolonial lain di periode yang sama, apakah mereka berada di Asia Tenggara, Asia Selatan, atau Afrika. Tagliacozzo tidak terlalu berhasil dalam menggambarkan ambiguitas keterlibatan sosok Hurgronje dengan masalah ibadah haji.

Baca juga:   Para Pencandu Buku

Bab delapan, ‘The Jeddah Consulates’, bermeditasi pada fenomena pengawasan negara melalui studi kasus spionase Eropa di Hijaz selama periode kolonial. Tagliacozzo memetakan bagaimana Laut Merah sebagai sebuah arena kompetisi antara kekuatan besar dan pertarungan politik, dan konsulat ialah kunci permainan dalam perebutan yang lebih luas. Mengingat ruang lingkup atas apa disebut sebagai Muslim dari Persemakmuran Inggris dan keterlibatannya dengan masalah haji (selama periode kolonial, peziarah paling ‘luar negeri’ yang datang dari wilayah Inggris, lalu diikuti oleh sejumlah ziarawan dari Hindia Belanda), kebanyakan penelitian yang ada hanya difokuskan pada kasus Inggris.

Tagliacozzo datang dengan sudut pandang baru tentang visi untuk mempertimbangkan posisi Perancis, Belanda, dan Italia, serta Albion (yang licik). Studi kasus Belanda-nya yang jelas dalam memeriksa informasi yang dihasilkan di konsulat Jeddah dan tingkat lokal di seluruh Hindia Belanda, dan bagaimana aparat penerangan ini berinteraksi dengan bagian-bagian penyusunnya. Tagliacozzo jelas menabalkan motivasi sekaligus kecemasan dari para pejabat kolonial Belanda yang mendorong keinginan untuk menggali pengetahuan atas perihal ini, yaitu ketakutan yang tak disadari oleh subyek mereka. Studi kasus Inggris memberikan potret dari pelbagai skala dan intelijen Inggris yang berkaitan dengan masalah haji, yang merupakan produk dari skala besar Muslim dari Persemakmuran Inggris dan peran paralel Inggris sebagai kekuatan global, di mana haji terbentuk hanyalah sebagai satu komponen saja.

Deskripsi Tagliacozzo perihal ‘narasi intelijen Inggris’ di wilayah Laut Merah terasa agak canggung, karena dia melihat cerita itu diawali dengan pendudukan oleh 1.882 orang Inggris atas Mesir. Peristiwa ini sebenarnya sudah terlambat, dan tampaknya akan bertentangan dalam kalimat berikutnya, ketika pendudukan Inggris dari Aden pada 1839 yang disebutkan–fase peristiwa yang lebih tepat (hlm. 179). Mengenai intelijen Inggris bidang haji, berita awal terbaik pada 1850-an tersedia dengan merata, tetapi pada pertengahan 1860-an Konsul Inggris di Jedah sedang menyusun laporan tahunannya tentang haji, meskipun kualitasnya bervariasi.

Lebih lanjut, sementara Tagliacozzo benar dalam memfokuskan penelitiannya kepada pelbagai arsip yang luar biasa melimpah, ihwal ‘sanitasi dan keamanan’, namun akan lebih baik jika ia telah melakukan kritik sumber yang lebih tajam. Misalnya, ia mungkin telah meneliti peran penting yang dimainkan oleh karyawan muslim di Belanda dan Inggris dalam administrasi kerajaan bidang haji (hlm.182). Dia menempatkan para pengembang kolonial sebagai bagian dari paradigma kolonial yang lebih luas dari pengawasan, kriminalisasi dan sistem kontrol (hlm. 195). Ini adil, tetapi sebagai sebuah paradigma atas para peziarah yang mampu dikontrol, meskipun mungkin akan lebih sukses, jika mereka datang dari Afrika dan Asia Selatan, daripada contoh kasus di Asia Tenggara.

Bab sembilan, ‘Regulating the flood’, adalah kelancaran transisi antara dunia haji zaman kolonial dan pasca-kolonial Asia Tenggara. Sistem pengelolaan negara pasca-kolonial di Malaysia, Singapura, dan Indonesia dianalisis. Tabung Haji, sebuah organisasi asal Malaysia, merupakan sebuah studi kasus yang sangat menarik (hlm. 213-5). Publikasi resmi perihal haji, seperti buku panduan, yang berisi survei, seperti meningkatnya kompleksitas dari organisasi negara yang berhubungan dengan ibadah haji. Tagliacozzo memberikan penjelasan  yang baik perihal bagaimana, meskipun keterbatasan finansial, negara-negara pascakolonial seperti Indonesia dan Malaysia, mampu membangun birokrasi yang sangat kompleks yang mereka memiliki, dan memfasilitasi ibadah haji bagi banyak warganya.

Bab sepuluh, ‘On the margins of Islam’, melihat perubahan narasi yang membawa kita mengikuti tuturan Tagliacozzo pada persinggahannya di seluruh wilayah. Meneliti haji dari negara-negara Muslim minoritas adalah konsekuensi berharga untuk bab sebelumnya, dan menyoroti kesulitan-kesulitan untuk pergi haji dari tempat-tempat seperti Burma dan Kamboja, dan pelbagai bentuk usaha umat Islam yang aktif dalam mensiasatinya. Tagliacozzo menjelaskan perjalanan haji dari negara-negara berbeda, namun rincian perbedaan-perbedaan dalam cara yang unik dan menarik itu, menenun bersamanya dengan sejarah politik Islam abad pertengahan, lewat cerita wawancara rahasia (sejarah lisan) dengan warga Muslim di Burma yang diperintah oleh junta militer.

Bab sebelas, ‘I was the guest of Allah’, memberikan analisis mendalam terhadap memoar haji pasca-kemerdekaan dari Asia Tenggara. Ini merupakan analisis yang penting, mengingat bagaimana memoar haji dapat ‘ditulis, dibahas dan problematis’ (hal. 251). Tagliacozzo menganggap tema berbagai tempat–Jedah, Mekah, Arafah, Mina, dan Madinah–di mana masalah haji direpresentasikan dalam lokus, dan juga introspeksi sang peziarah. Dia memberi kita analisis memoar tentang haji Asia Tenggara yang selama ini sangat minim, yang seharusnya mendapat tempat sentral di samping narasi haji dalam studi yang telah ada. Foto-foto dalam bab ini (hlm. 260-3) memberikan pelbagai citarasa di mana kisah ihwal haji disajikan secara visual di wilayah ini.

Baca juga:  Buku, Manuskrip, Unta

Bab duabelas, ‘Remembering devotion’, merupakan bab terakhir yang kuat untuk menggugah suara-suara para peziarah, hasil laporan lapangan Tagliacozzo di seluruh wilayah muncul di panggung kisah. Sejarah lisan ini berhak mendapat bagian penting dari cerita ini. Aku tidak akan merusak cerita ini, namun beberapa dari tuturan mereka cukup menghantui dan tak terduga (hlm. 284). Tagliacozzo menjalin bersama diskusi perihal jagat material dan spiritual dalam wawancara ini untuk menyajikan sajian yang renyah dari pengalaman hidup ziarawan haji di Asia Tenggara masa kini.

b 1 - Tamu Allah dari Negeri Bawah Angin

Prof. Eric Tagliacozzo

Salah satu kritik kecil di bagian ketiga buku ini secara keseluruhan adalah bahwa Tagliacozzo tidak menyebutkan masalah kuota haji bagi setiap negara yang diatur mutlak oleh Kerajaan Saudi Arabia yang terasa dipaksakan. Ini merupakan inovasi dari peraturan paling penting yang diperkenalkan di era pascakolonial. Akan lebih menarik jika kita dapat mengetahui apakah isi wawancara Tagliacozzo (dan penulis memoar haji pasca-kemerdekaan) berpikir ihwal kuota ini, mengingat fakta bahwa dia mengeksplorasi banyak aspek lain dari haji zaman modern dari narasumbernya, yang hasilnya mungkin bisa membuat tidak nyaman membacanya bagi kalangan resmi Saudi Arabia. Namun demikian, The Longest Journey secara terampil telah menarik simpulan yang berpautan dengan argumensinya dan merupakan akhir yang memuaskan untuk sebuah tour de force.

Catatan: ‘Haji’ Eric Tagliacozzo adalah Guru Besar Sejarah dan Studi Asia pada Universitas Cornell, Ithaca, New York, Amerika Serikat. Karya perdananya berjudul Secret Trades, Porous Borders: Smuggling and States along a Southeast Asian Frontier, 1865–1915 (Yale, 2005). Salah satu teori yang menarik dari sejarawan cerdas, humble dan ganteng ini adalah: “Soto Revolusi” untuk menjelasan fenomena unik dari sejarah revolusi Indonesia, 1945-1950. Untuk referensi lebih lanjut ihwal sejarah haji asal Nusantara (Indonesia), lihat, misalnya: M. Shaleh Putuhena, Historiografi Haji Indonesia (LKiS, 2007); M. Dien Majid, Berhaji  di Masa Kolonial (Sejahtera, 2008) & Henri Chambert-Loir (ed.), Naik Haji di Masa Silam: Kisah-kisah Orang Indonesia Naik Haji, 1482-1964 (KPG, 2013).

Penggunaan berbagai sumber oleh Tagliacozzo adalah salah satu hal yang sangat menarik dari buku ini, untuk rentang waktu yang luar biasa–dalam bentuk dan lanskap geografis–dan cara di mana ia telah menguasai semuanya. Catatan milik Dutch East India Company (VOC), laporan wisatawan Eropa di Arab Saudi, Laut Merah, Samudera Hindia, dan Asia Tenggara, naskah-naskah Jawa, narasi haji berbahasa Arab, naskah Melayu, dan teks yang bersumber dari seluruh kawasan Malaysia dan Indonesia, arsip laporan kolonial Belanda, catatan kolonial Inggris, artikel koran, karya sastra (fiksi) seperti Lord Jim, dan catatan medis menganai kolera dan wabah penyakit lainnya serta karantina, dalam bahasa Perancis dan Eropa lainnya, surat-surat pribadi Joseph Conrad dan Snouck Hurgronje, arsip dari organisasi ziarah negara Malaysia dan Indonesia, publikasi resmi dari Malaysia dan Indonesia pasca-kemerdekaan tentang haji–berupa buku, pamflet, dan serial majalah, rekaman sejarah lisan, serta catatan lapangan dari sejarah lisan sang penulis di seluruh Asia Tenggara (sekitar 100 wawancara). Daftar arsip (hlm. 307-14) yang dihimpun dari 25 lokasi (lembaga arsip dan perpustakaan) di Amerika Serikat, Eropa, Timur-Tengah, dan Asia Tenggara.

Buku ini merupakan prestasi besar dan benar-benar telah membuat analisis  yang begitu kuat–prestasi ‘Haji’ Tagliacozzo ini dikokohkan oleh melimpahnya bahan arsip dan berbagai naskah yang luas dan mendalam. Salah satu kekuatan utama buku ini terletak pada powerful-nya sang penulis dalam menyajikan penelitiannya yang  ambisius atas banyak arsip, yang dilakukan selama sepuluh tahun terakhir  dengan cara yang mudah ini. Analisis dan wawasan dari arsip seperti 22.000 mikro film dari Konsulat Belanda di Jeddah, yang harus diteliti berbulan-bulan, disajikan cepat dan ekonomis, serta lewat narasi prosais yang elegan. Meskipun pelbagai topik disajikan begitu rinci dalam buku ini, Anda tidak pernah merasa terhambat oleh hal-hal kecil.

Dalam hal penuturan, buku ini diproduksi secara baik, kecuali untuk ukuran peta yang terlalu kecil. Misalnya, salah satu rincian peta mini perjalanan ekstensif, saat sang penulis mewawancarai peziarah di Asia Tenggara; peta lebih lanjut yang menunjukkan asal para peziarah dari berbagai teks Melayu berkaitan dengan masalah haji–tentu hal ini layak digambarkan setengah halaman atau penuh, seperti yang dilakukan oleh banyak peta informatif lainnya. Akhirnya, buku ini adalah sebuah prestasi kesarjanaan, dan kontribusi yang sangat penting untuk pemahaman kita tentang sejarah haji, dan sejarah kawasan Timur-Tengah dan Asia Tenggara–penanda bahwa ruang-lingkup pekerjaan ini telah menunjukkan sangat bisa ditembus dan saling berkelindan erat. The Longest Journey adalah bacaan penting bagi orang yang ingin melihat bagaimana strategi sebuah negara dalam sejarah mayapada ini dibuat dan diterapkan.[]

Allah ampuni kami - Tamu Allah dari Negeri Bawah Angin

Haji Tamu Allah dari Negeri Bawah Angin

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi