Teologi Asy’ariah di Era Kontemporer

Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Tentang Menjadi Muslim Moderat

PADA tahun 2017, penulis diundang untuk menjadi keynote speaker dalam Borneo Undergraduate Academic Forum (BUAF) ke-2 yang diadakan pada 17 Juli 2017 sampai dengan 20 Juli 2017. Acara yang diadakan di UIN Antasari Banjarmasin dan diselenggarakan oleh konsorsium keilmuan yang terdiri dari UIN Antasari Banjarmasin, IAIN Pontianak, IAIN Samarinda, dan IAIN Palangkaraya, mengambil judul Contempary Islamin the Eyes of Young Researchers.

Di sela-sela pertemuan tersebut, penulis diminta oleh Pascasarjana UIN Antasari untuk memberi ceramah ilmiah tentang perkembangan teologi di dunia Islam. Penyelenggara juga meminta kepada penulis agar berbicara tentang disertasi penulis yang judul al-Jānib al-Insānī fī al-Khithāb al-Kalāmī ‘inda al-Asyā’irah di Universitas al-Azhar Mesir (2016). Kajian yang fokus untuk mencermati aspek humanis teologi Asy’ari tersebut diimaksudkan untuk mengkaji tentang bagaimana teologi Asy’ari mampu bertahan sampai berabad-abad lama-nya dan menjadi konstruksi ortodoksi Islam di mayoritas masyarakat muslim.

Dalam ceramah tersebut, salah seorang penanggap—dan ia adalah seorang profesor tentang filsafat Islam dan ilmu kalam—berpandangan bahwa pembahasan teologi Asy’ari ter­lalu rumit. Baginya, para teolog sepertinya memang sengaja membuat rumusan teologi menjadi rumit. Akibatnya, banyakmuslim yang tidak sanggup menalar cara berpikir mereka sehingga teologi seperti menjadi momok yang sulit dikuasai oleh muslim sendiri.

Dalam sesi tanya jawab tersebut juga muncul pertanyaan, mengapa masyarakat muslim di Indonesia tidak mengetahui bangunan Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari, padahal ia adalah pendiri mazhab Asy’ariah, yang dipeluk mayoritas muslim Indonesia? Menurutnya, muslim Indonesia hanya mengetahui teologi Sanusiyyah (teologi Asy’ariah yang dirumuskan oleh Imam Abu Abdillah Muhammad al-Sanusi) melalui kitabnya yang berjudul Umm al-Barāhīn. Mereka tidak mengetahui pikiran yang asli dari Imam al-Asy’ari, pendiri mazhab.

Tanggapan dan pertanyaan dari sebagian peserta ceramah ilmiah tersebut tidak berlebihan. Sejarah teologi telah mem­buktikan bahwa ilmu yang satu ini ialah ilmu yang rumit. Ia berangkat dari sebuah keinginan untuk membuat pembuktian tentang Tuhan dengan cara yang rasional. Ia digunakan untuk menjawab polemik yang dimunculkan oleh orang-orang yangtidak percaya kepada Tuhan atau orang yang meragukan kebenaran agama Islam. Oleh karena itu, menjadi beralasan mengapa pembahasan teologi Islam menjadi rumit.

Menjawab pertanyaan dan tanggapan tersebut, penu­lis menjelaskan bahwa penulis mempunyai keinginan untuk menuliskan kembali teologi Asy’ari yang lebih utuh dengan mengikutkan watak pemikiran Asy’ariah dari generasi awal dan generasi akhir. Lebih dari itu, penulis juga ingin menulis­kan tentang perkembangan dan pergeseran yang terjadi dalam tubuh bangunan pemikiran mazhab Asy’ariah pada tahun-tahun terakhir. Hal ini oleh para teolog mazhab Asy’ariah lang­sung disambut dengan baik. Mereka berharap keinginan terse­but akan terwujud dalam waktu yang tidak lama.

Namun, ternyata kenyataan berkata lain. Keinginan ter-sebut terbentur dengan kesibukan yang lain sehingga untuk beberapa lama hal tersebut belum bisa terwujudkan. Meski demikian, penulis tetap berusaha untuk menjaga keinginan tersebut dan berusaha ingin mewujudkannya jika kondisinya mendukung. Oleh karena itu, setiap kali muncul perdebatan-perdebatan tentang teologis baik yang bersifat akademik maupun yang bersifat populis, penulis berusaha mencermati-nya. Hal ini dilakukan untuk melihat relevansinya dengan mazhab Asy’ariah yang menjadi pijakan teologis mayoritas muslim Indonesia.

Perkembangan keagamaan di Indonesia dan di sejumlah negara mayoritas muslim secara langsung atau tidak langsungmempunyai hubungan dengan mazhab Asy’ariah. Hadirnya agama di ruang publik, yang oleh Jose Casanova (1994) disebut sebagai agama publik, memberi ruang yang luas bagi agama untuk mempengaruhi masyarakat dalam membentuk kecen-derungan keagamaan. Cara pandang seperti ini sangat relevan terutama apabila dikaitkan dengan agama Islam di Indonesia dan di sejumlah negara mayoritas muslim pada saat ini.

Seperti nanti akan dibahas, tumbangnya rezim Orde Baru pada tahun 1998 telah memberi kesempatan bagi sejumlah kecenderungan keagamaan yang sebelumnya tiarap menun­jukkan keberadaannya di ruang publik. Mereka menyuarakan pandangannya tentang Islam dan menciptakan politik identi-tas sebagai kesadaran untuk menempatkan diri dan mencari ruang identitas di tengah-tengah masyarakat. Mereka meru­muskan strategi identitas keagamaan tersebut berdasarkan pada pandangan teologis mereka yang cenderung tertutup.

Menguatnya politik identitas yang sering disebut denganislamisme (Bayat, 2013) dalam konteks Indonesia telah meng­gugah kesadaran baik para ulama tradisional maupun ulama mainstream untuk turun gunung. Mereka terpanggil untuk memberikan pandangan banding terhadap kecenderungan  keislaman yang dianggap keras dan tidak ramah tersebut. Melalui pengajian-pengajian rutin, pengajian pada peringatan hari Islam, dan dalam berbagai kesempatan publik, mereka berusaha memberikan penjelasan kepada masyarakat muslimtentang Islam dan muslim dalam konteks masyarakat dan negara-bangsa. Penjelasan tersebut didasarkan atas kesadaran teologis yang memiliki akar rumputnya pada mazhab Asy’ari.

Para ulama mainstream melakukan “penanggulangan” arus keislaman yang tertutup tersebut dengan memberikan sentu­han spiritual kepada kesadaran teologis Asy’ariah. Para ulama mengadakan pertemuan baik yang bersifat nasional maupun internasional untuk memberikan kesadaran publik tentang praktik Islam yang dianggap baik. Pada tingkat nasional, se-jumlah acara seperti Munas Alim Ulama, Muktamar NU, atauMuhammadiyah, istighasah atau lainnya, merupakan per­temuan dan perjumpaan publik yang digunakan para ulama untuk meneguhkan konsep Islam yang ramah terhadap, dan memberikan dukungan kepada, konsep negara bangsa.

Di antara pertemuan publik lainnya, yang diadakan oleh ulama mainstream di Indonesia, adalah pertemuan para sufi tingkat internasional di Pekalongan pada tanggal 8-9 April 2019. Pertemuan yang digagas oleh Habib Luthfi bin Yahya dengan bekerja sama dengan Kementerian Pertahanan inidihadiri oleh 91 ulama dari berbagai penjuru dunia. Dalam pertemuan tersebut Habib Luthfi menjelaskan tentang pen-tingnya meneguhkan sikap moderat untuk menghadapi gera­kan khilafah yang dilancarkan oleh islamisme transnasional dan bagaimana para sufi bekerja sama dengan pemerintah di negara masing-masing untuk kemajuan bersama. Hal itu juga diamini oleh mayoritas ulama yang ikut berpartisipasi dalam acara tersebut dengan sudut pandang yang beragam.

Baca juga:  Susan Moller Okin

Dalam pertemuan tersebut, penulis bertemu dengan Dr.Mukhlis Hanafi, seorang pakar tafsir dari Universitas al-Azhar dan Sekjen Organisasi Ikatan Alumni al-Azhar Indonesia (OIAAI). Dalam pertemuan yang santai sambil minum kopi tersebut, terjadi pembicaraan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan menguatnya radikalisme di Indonesia dan semakin memudarkan teologi Asy’ari di Indonesia. Ia merasa resah karena teologi Asy’ari semakin tak dikenal di kalangan generasi muslim muda. Muslim milenial sekarang ini lebih kenal teologi yang Salafi yang membuat mereka tertutup dan menciptakan ketegangan keagamaan terhadap kecenderungan dan praktik keagamaan yang berbeda dengan mereka.

Bermula dari keresahan tersebut, Mukhlis Hanafi tampak-nya sedang menjelaskan tentang efek yang dihasilkan dari memudarkan kehadiran teologi Asy’ari di ruang publik. Ia memandang bahwa generasi muda muslim Indonesia mem-butuhkan penjelasan tentang teologi Asy’ariah yang memadai dan lebih mudah dipahami. Baginya, mengenalkan teologi Asy’ariah kepada generasi muda muslim merupakan cara yang paling ampuh untuk menangkal menguatkan radikalisme Islam di Indonesia.

Pemikiran Mukhlis ini didasarkan pada prinsip bahwa teologi Asy’ari merupakan mazhab yang selama berabad-abad lamanya—sejak abad ke-4 Hijriah—telah berhasil melakukan konsolidasi keilmuan dengan ilmu-ilmu keislaman lainnya sehingga telah berhasil membentuk konstruksi ortodoksi dan ortopraksi. Kenyataan ini telah terbukti berhasil menghadir-kan Islam yang bisa bersenyawa dengan kultur masyarakat muslim yang berbeda dan menciptakan keragaman budaya Islam selama berabad-abad lamanya. Hal ini yang tidak bisa ditemukan dalam islamisme yang didasarkan pada mazhab teologis yang tertutup, yang sekarang ini sedang menguat dalam ruang publik Islam Indonesia.

Pertemuan dengan Sekjen OIAAI tersebut menggugahingatan penulis tentang janji yang pernah disampaikan di hadapan para sarjana di UIN Antasari Banjarmasin pada beberapa tahun sebelumnya. Perkembangan kecenderungan keislaman di Indonesia yang semakin tertutup dan dangkal ini memang telah menggugah kecemasan banyak kalangan.Oleh karena itu, seperti yang sudah disinggung, tidak sedikit para ulama yang memberi respons dan turun gunung untuk melakukan penyegaran kembali teologi Asy’ariah. Dengan demikian, perihal perkembangan mazhab Asy’ariah yang ter­jadi belakangan ini belum disinggung di dalam kajian-kajian yang pernah dilakukan sebelumnya.

Secara umum penelitian sebelumnya memusatkan kajian Asy’ariah pada konsep ortodoksi dan polemiknya dengan mazhab teologi lain dalam tradisi Islam klasik. Kajian yang paling menonjol dari aspek ini bisa ditemukan dalam karya Ali Sami al-Nasysyar, Jalal Muhammad Abdul Hamid Musa (1982), dan Wolfson (1976). Sejumlah kajian ini merupakan rintisan ilmiah yang otoritatif terhadap kajian teologi Islam secara umum—dan Asy’ariah secara khusus. Meskipun al-Nasysyar dan Wolfson secara umum mengkaji teologi Islam secara umum sebagai filsafat Islam, tetapi keduanya menaruh perhatian yang tinggi terhadap kemunculan mazhab Asy’ari dan formalisasi teologisnya dalam sejarah dan tradisi Islam. Hal ini merupakan pokok pikiran yang menautkannya dengankajian Abdul Hamid Musa yang secara khusus menelaah teo-logi Asy’ari namun hanya mencukupkan pada kajian klasik pada era al-Ghazali.

Kajian-kajian teologi Islam yang dilakukan setelahnya dalam tradisi ilmiah, hadir secara lebih beragam dan kom-pleks. Sebuah handbook yang ditulis oleh sejumlah sarjanaterkemuka dari berbagai negara, yang disunting oleh Sabine Schmidtke (2016), memuat perkembangan terakhir dari kajian teologi Islam dari berbagai sudut pandang dan pengalaman mereka masing-masing. Salah satu artikel yang dimuat dalam buku tersebut berjudul Main Trends of Islamic Theological Thought from the Late Nineteenth Century to Present Times yang ditulis oleh Rotraud Wielandt.

Dalam tulisannya, Wielandt berusaha menyoroti perkem­bangan terakhir teologi Islam. Pusat perhatiannya ditujukan pada persinggungan teologi dengan modernisme yang pada akhirnya arahnya bergeser kepada isu-isu seputar hubungan antara sains dan Tuhan yang digagas oleh Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, Ahmad Khan, dan Muhammad Iqbal. Selain itu, ia juga menyoroti usaha-usaha intelektual populis seperti Hasan Hanafi yang membawa teologi ke dalam isu-isu politik dan sosial yang revolusioner dan Nasr Hamid Abu Zaid yang berusaha membaca teologi berdasarkan pada hermeneutik dan menautkannya dengan teks-teks Al-Qur’an.

Wielandt tidak memberi perhatian terhadap bagaimana respons teologi Asy’ariah sebagai teologi arus utama terhadap munculnya modernitas dan proyek sains dan rasionalitasnya. Lebih lanjut, kajian tersebut terlalu fokus kepada perkemba-ngan teologi Islam dalam kurun waktu antara paruh akhir abad ke-19 dan paruh awal abad ke-20. Fokus tersebut pada akhirnya memang tidak mempunyai akses kepada perkem­bangan terkini dari teologi Islam secara umum—utamanya perkembangan Asy’ariah.

Perkembangan Asy’ariah dalam kurun sepuluh tahun ter-akhir sangat penting dalam ortodoksi Islam karena dikon-disikan oleh situasi geopolitik yang kompleks dan munculnya media baru. Kemunculan tersebut mengondisikan terjadinya kontestasi teologis yang sangat beragam dan mengakibatkan munculnya islamisme di ruang publik sebagai politik identitas yang merubah wajah Islam menjadi lebih tertutup. Perkemban­gan teologis yang tertutup dan bagaimana respons teolog Asy’ariah ini yang ingin ditelaah di dalam buku ini dengan bertitik tolak dengan pembacaan ulang sejarah teologi dan mazhab Asy’ariah dalam tradisi Islam.

pre 1 - Teologi Asy’ariah di Era Kontemporer

BERANGKAT dari keinginan untuk menulis kembali teologi Asy’ariah yang mencakup aspek kesejarahan, doktrin, dan perkembangan diskursif kekinian, dengan cara yang dapat dipahami oleh cara berpikir oleh muslim kontemporer, maka perlu ditegaskan beberapa hal dalam kaitannya dengan sifat buku ini. Sejak awal buku ini memosisikan diri tidak hanya sebagai karya akademik yang menempatkan penulisnya se-bagai peneliti yang tidak terlibat. Buku ini justru memosisi­kan diri sebagai kajian yang melibatkan diri ke dalam pusaran dinamika mazhab Asy’ariah dalam konteks ruang dan waktu.

Baca juga:  Saniyeh dan Bagaimana Kemiskinan Mengakrabinya

Tulisan seperti ini tentu saja berbeda wataknya dengan tulisan yang hanya fokus untuk memberikan penjelasan yang masuk akal terhadap fenomena atau pemikiran keagamaan. Tidak hanya sekadar berusaha menjelaskan fakta keagamaan, kajian ini berusaha untuk memberikan sudut pandang baru sebagai dasar kesadaran teologis yang selama ini dipraktik-kan selama berabad oleh mayoritas muslim, terutama di Indo-nesia. Dengan kata lain, tulisan ini berusaha membaca fakta yang sama tetapi dengan sudut pandang berbeda sehingga bisa memberikan pandangan yang baru terhadap praktik teologis yang telah mengakar dalam tradisi Islam.

Sudut pandang ini mencakup cara membaca sejarah teo-logis yang selama ini didominasi oleh pembacaan politis dan mengabaikan kesadaran terdalam dari muslim yang mela-kukan praktik teologisnya. Cakupannya yang lain meliputi kesadaran doktrinal yang menjadi praktik teologis yang di-dasarkan pada klaim, sebagai usaha mencari format moderat dalam polemik teologis dalam diskursus Islam. Lebih lanjut, kajian ini sebagaimana yang disebutkan sebelumnya, ber-usaha mencermati dari dalam tentang bagaimana kesadaran teologis dalam mazhab Asy’ariah “bertarung” melawan carut-marutnya kemunculan kesadaran teologis baru yang membuat prioritas teologisnya bergeser sebagai politik teologi Islam.

Cara seperti tentu saja tidak mengurangi watak ilmiah kajian ini—sebagaimana corak seperti ini juga bukan meru-pakan yang pertama kalinya. Hal ini karena sejumlah klaim kebenarannya dianalisis secara ilmiah dan didasarkan pada data-data yang dapat dipertanggungjawabkan dengan argu­mentasi yang bisa diperdebatkan. Kajian sebelumnya, yang mempunyai sifat seperti kajian ini, dapat ditemukan dalam karya Khaled Abou el-Fadl yang berjudul Speaking in God’s Name (2001).

El-Fadl berusaha menelaah terbentuknya nalar otoriter dalam perumusan hukum Islam dengan mengambil contoh kasus dari konstruksi nalar fatwa yang ada di kalangan ulama Arab Saudi. Dalam telaah itu, ia memberikan semacam pen-jelasan dan alternatif untuk menghindarkan diri dari ke-terjebakan diri ke dalam nalar otoriter. Ia menawarkan cara pandang baru untuk merumuskan hukum Islam yang otori-tatif sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara rasional dan bisa menjadi bagian kesalehan Islam.

Dalam usahanya, el-Fadl memanfaatkan teori hermeneu­tik, terutama rumusan Hans-Georg Gadamer yang reflektif dan filosofis, untuk mencermati apa yang terjadi ketika sese­orang memahami sumber-sumber pokok Islam dan bagai mana praktik perumusan hukum Islam dilakukan. Dengan menggunakan teori hermeneutik yang dicangkokkan pada ushul fikih, ia melacak kembali praktik perumusan hukum sejak dari masa sahabat dan masa formatif Islam klasik di tangan ulama-ulama yang otoritatif.

Pola yang digunakan dalam buku ini kira-kira tak jauh berbeda dari apa yang dilakukan oleh Abou el-Fadl. Buku ini berusaha untuk memberikan cara baca yang baru tentang kemunculan teologi dalam tradisi Islam. Dengan meman-faatkan teori kesadaran fenomenologiko-eksistensial yang di-gagas oleh Martin Heidegger dalam bukunya yang berjudul Being and Time (1978), buku ini berusaha mencermati ke-munculan teologi dalam Islam sebagai strategi mengada (dalam pengertian menemukan kesadaran diri dalam konteks historis) dalam ruang waktu dari muslim yang memilih untuk beriman kepada wahyu kenabian. Iman mengambil strategi yang beragam dari isu-isu yang bersifat harian dan yang tak berkaitan dengan agama (baca: agama) sampai pada akhirnya kesadaran atas iman mengalami formalisasi keilmuan dalam bentuk teologi yang resmi dan mengalami fragmentasi yang beragam.

Strategi mengada dari iman tersebut, selain bersifat feno-menologiko-eksistensial, juga bersifat hermeneutis. Hal itu disebabkan oleh kenyataan bahwa kemampuan iman seorang muslim untuk melakukan strategi mengada merupakan usaha untuk melakukan penghayatan wahyu kenabian yang tekstual dalam ruang dan waktu. Mengada adalah bentuk pembauran dua cakrawala (baca: cakrawala iman dan cakrawala Wahyu yang dihadirkan oleh teks Al-Qur’an dan hadis) agar meng­hasilkan kesadaran iman atas kenyataan ruang dan waktu. Oleh karena itu, pembacaan ini dicangkok dengan teori hermeneutiknya Gadamer—utamanya dalam bukunya Truth and Method (2006 [1975])—yang senyawa dengan fenome nologiko-eksistensialisme Martin Heidegger karena sifatnya yang reflektif dan filosofis.

Sementara itu, di sisi lain, kesadaran teologis yang pada akhirnya membentuk disiplin keilmuan membutuhkan stra-tegi untuk dapat membuktikan kebenaran pengetahuannya dan membangun jaringan dengan ilmu-ilmu keislaman lain-nya. Pada saat yang sama, teologi juga membutuhkan usaha untuk tetap bertahan dan berkembang dengan merespons tantangan di luar dirinya seperti tantangan politik dan kultur. Oleh karena itu, untuk menjelaskan kesadaran keimanan atas ruang dan waktu dalam merespons tantangan keilmuan dan politik keagamaan lintas generasi dan kultur tersebut, buku ini memanfaatkan teologi politik pengetahuan yang dirumuskanoleh Omid Safi dalam bukunya yang berjudul The Politics of Knowledge in Premodern Islam: Negotiating Ideology and Religious Inquiry (2006).

Politik pengetahuan dalam kajian ini menemukan rele-vansinya yang paling aktual dalam konteks kontemporer. Dalam konteks ini, pergeseran teologi Asy’ari dari ortodoksi yang memprioritaskan pada topik-topik seperti ketuhanan, kenabian, dan eskatologis menuju prioritas yang lebih praktis dan populis yakni politik teologis. Politik teologis merupakan bagian dari politik pengetahuan yang dilakukan untuk mem­berikan etos teologis bagi muslim dalam memahami konsep negara-bangsa yang mengandaikan keterbukaan dan toleransi terhadap minoritas dan non-muslim.

Baca juga:  Seandainya Tak Ada Wahib

Seperti nanti akan dijelaskan, cara ulama mainstrem yang bermazhab Asy’ariah—yang dalam banyak kesempa­tan difokuskan pada ulama Indonesia yang mewakili ulama non-Arab, dan ulama Mesir yang mewakili ulama Arab—dalam memberikan penjelasan tentang iman dan kesalehan Islam merupakan agumentasi yang kuat untuk klaim ini. Bagi mereka, iman dan kesalehan harus mampu memberikan kesadaran nasionalis merupakan bagian dari politik pengeta­ huan untuk membuktikan kemampuan teologi Asy’ari untuk melakukan penyesuaian pengetahuan dalam kultur dan gene-rasi yang berbeda dengan era klasik. Kesadaran teologis yang nasionalis ini digunakan untuk membuktikan nilai penting teologi Asy’ari di tengah-tengah menguatnya islamisme untuk memberikan kesadaran keagamaan yang nasionalis.

Karena keberadaan buku ini yang mencakup aspek seja-rah, doktrin, dan pergeseran arah prioritas teologis, data-data yang digunakan diambil dari sumber-sumber klasik dan kontemporer yang beragam. Terkait dengan sumber yang klasik, ia memasukkan sumber teologis baik dari mazhab Asy-’ariah sendiri—dari kitab-kitab yang ditulis oleh Imam al-Asy’ari sampai sampai buku yang ditulis oleh teolog kon­temporer seperti Mustafa Sabri, Mahmud Abu Daqiqah, dan Ahmad Tayyeb—ataupun dari mazhab lain seperti mazhab Syi’ah, Muktazilah, dan lainnya. Sumber data klasik yang lain mengikutkan kitab-kitab hadis, sejarah, dan sebagainya yang dibutuhkan dalam rangka untuk mendalami alur penjelasan yang dilakukan.

Adapun dari sumber kontemporer, buku ini memanfaat­kan sumber-sumber tertulis dari sarjana yang mapan dalam diskursus akademik. Selain itu, digunakan pula data-data yang bisa dilacak dan dipertanggungjawabkan dari website, terutama media dan Youtube. Data dari website ini sangat dibutuhkan mengingat bahwa tidak semua teolog memiliki karya tertulis. Sebagian dari mereka, lebih memfokuskan diri pada pengajaran lisan dalam bentuk pengajian umum atau pengajian kitab yang kemudian diunggah di laman Youtube atau diberitakan oleh website media massa.

Secara umum, buku ini dibagi ke dalam enam bagian. Bagian pertama merupakan pendahuluan yang menguraikan latar belakang dan alasan mengapa buku ini penting untuk ditulis. Alasan ini juga mencakup tentang posisi buku ini di antara kajian-kajian sebelumnya. Lebih lanjut, pada bagian ini dijelaskan tentang watak dari kajian buku ini yang sejak awal harus ditegaskan agar tidak mengalami kekaburan arah yang akan ditempuh. Dengan penjelasan watak ini, maka diharap­kan bisa meminimalkan kesalahpahaman yang bermula dari kegagalan untuk mencermati arah kajian yang dimaksud.

Perihal kemunculan teologi dalam tradisi Islam dengan cara baca yang baru, akan ditelaah secara khusus di bagian kedua. Kemunculan ini merupakan kesadaran iman dari yang praktis menuju ke kesadaran ilmu dalam kondisi yang lebih kompleks sehingga mengakibatkan fragmentasi teologis.Bagian ini diakhiri dengan telaah tentang posisi teologi di antara ilmu-ilmu keislaman yang lain serta otoritas dan fungsi yang dimilikinya dari jaringan keilmuan dalam membentuk ortodoksi Islam.

Kemudian dalam bagian ketiga akan fokus membahas tentang kemunculan mazhab Asy’ariah sebagai politik teo-logis yang dimaksudkan oleh Abu al-Hasan al-Asy’ari untuk menengahi ketegangan teologis. Ketegangan ini kemudian menjadi kompleks karena terjadi persekusi teologis oleh salah satu mazhab teologis (Muktazilah) terhadap semua praktik teologis yang berbeda dengan fasilitas yang diberikan oleh rezim politk saat itu. Kondisi ini memberikan kesadaran krisisbagi al-Asy’ari—bersama dengan kesadaran krisis yang lain yang lebih bersifat pribadi—untuk merumuskan teologi yang mampu menemukan jalan keluar dari ketegangan tersebut. Dalam bagian ini juga menguraikan strategi al-Asy’ari untuk mendapatkan penerimaan yang luas dari kalangan ulama atas rumusan teologis yang diakhiri dengan sikap teologisnya ter-hadap kecenderungan dan mazhab teologis yang berbeda di dalam Islam.

Perihal bagaimana nalar kolektif Asy’ariah membentukdoktrin teologis yang mencakup tentang ketuhanan, kena­bian, dan eskatologis, akan fokus diuraikan di dalam bagian ketiga. Penjelasan tentang doktrin teologis tersebut terutama dipusatkan pada perdebatan mengenai status manusia dan kehendaknya. Lebih lanjut, akan dijelaskan ragam pandanganteolog Asy’ariah tentang penafsiran kebebasan kehendak yang sesuai dengan kebebasan manusia dan kekuasaan ketuhanan. Ragam tersebut disurvei dari generasi Asy’ariah yang pertama pada periode klasik sampai dengan era kontemporer. Pen-jelasan tersebut dibangun berdasarkan pada argumentasi dan penafsiran yang dilandaskan pada Al-Qur’an dan hadis dan diakhiri dengan penjelasan tentang polemik tanzīh (penyu­cian) dan tasybīh (baca: antropofikasi) dan bagaimana para teolog Asy’ariah berusaha mencari solusi jalan tengah.

Bagian kelima berkaitan dengan perkembangan terakhir tentang teologi Asy’ariah dalam usahanya untuk merumuskan doktrin teologis sebagai respons terhadap sejumlah tantanganyang muncul pada era modern yang dikondisikan oleh me-nguatnya islamisme dan media baru. Lebih lanjut, tantangan teologis juga muncul dalam perdebatan tentang bagaimana kesadaran keislaman dikaitkan dengan kesadaran nasional-isme dalam konteks negara-bangsa sebagai fenomena baru yang tidak ditemukan pada era klasik Islam. Topik-topik yang mengemuka di antaranya adalah kewargaan, toleransi, minor-itas, dan nasionalisme negara bangsa. Pembahasan kemudian diakhiri dengan penjelasan tentang adanya pergeseran prio-ritas teologi Asy’ariah ke arah teologi praktis dalam ruang publik. Pergeseran prioritas tersebut pada gilirannya meng-ubah watak teologi secara mendasar.

Pada akhirnya, buku ini diakhiri dengan kesimpulan yang memberikan penjelasan yang mendasar tentang watak men­dasar dari kesadaran teologis Asy’ariah dan bagaimana ia ber-usaha untuk membuktikan diri sebagai teologi yang relevan saat ini di tengah-tengah menjamurnya kecenderungan teo-logis Islam yang saling berkontestasi dan berebut pengaruh di ruang publik.[]

MYM - Teologi Asy’ariah di Era Kontemporer

 

 

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi