Teresa

Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Tentang Agnes Bojaxhiu

Di tengah bopeng kemanusiaan hari ini, inspirasi kisahnya justru makin terasa kita rindukan.

5 SEPTEMBER 1997. Hari tak hendak memberi isyarat duka, tapi akhirnya ia pergi—meski tak pernah benar-benar pergi. Kita kini meraba teladannya, mencoba mendekap kharismanya, tapi tetap gagal. Ia hendak mewarisi sebuhul kearifan dan rasa kasih-sayang, tapi sejarah manusia memang selalu bengkah dan meleset: pertumpahan darah tak terelakkan, serang-menyerang jadi keseharian. Kita gagal meneladaninya. Sepenuhnya manusia memang selalu singgah di jalan berkabut dan tak selamanya terang dalam hidup.

Agnes Bojaxhiu, perempuan kelahiran 26 Agustus 1910 di Skoplje, Yugoslavia, dari orangtua Albania itu, memberi dunia selaksa inspirasi. Sudah puluhan, bahkan ratusan, buku membahas curahan kasih-sayangnya. Ratusan esai membahas kearifannya. Tapi, mataair inspirasinya tak pernah kering. Di tengah bopeng kemanusiaan hari ini, inspirasi kisahnya justru makin terasa kita rindukan.

Hidup dari kelas menengah tak membuatnya jenak. Ia memutuskan belajar ke Ordo Misionari Biarawati Loreto di Dublin, Irlandia. Ia memasuki gerbang kehidupan baru: mendarmabaktikan hela nafas dan derap langkah untuk kemanusiaan. Maka, dalam usia yang teramat muda, dengan niat yang bulat, ia menjejakkan kakinya ke kapal uap menuju dermaga Calcutta, India—tempat kelak ia menyebarkan wangi bunga ke seluruh lorong dunia. Dialah Agnes Bojaxhiu, dan kini kita mengenalnya dengan nama Bunda Teresa.

Sampai di tanah India, Teresa riang mengajar geografi untuk bocah-bocah India di SMA Santa Maria, Entally, Calcutta. Teresa sempat menjadi kepala sekolah di tempat belajar kelas menengah Bengali tersebut.

Tapi, ada gelisah di lubuk hatinya, ada gundah yang menjalar dan menyeruak masuk nuraninya. Suatu hari pada 10 September 1946, di tengah deru suara kereta dan kepul asap hasil pembakaran batubara, dalam perjalanan menuju Darjeling, Teresa beroleh panggilan dari Tuhan. Di hari yang disebutnya sebagai ”panggilan di dalam panggilan” itu, dia merasa ada seruan yang kuat untuk keluar dari biara dan mengabdikan hidupnya penuh-seluruh untuk kaum papa. Itulah hari yang oleh kongregasi disebut sebagai ”hari yang penuh ilham”.

Baca juga:  Lelaku Manusia Jawa

Ketika itu dunia masih sesak dengan dengung senapan dan baluran darah segar karena perang. Teresa menolak untuk terbuai kehidupan tenang biara dan anggun kapela. Ia ingin, meminjam selarik sajak Sutan Takdir Alisjahbana, ”meninggalkan tasik yang tenang”: ia mendengar suara Tuhan, titah yang menuntunnya untuk meninggalkan biara dan memasuki kehidupan baru bersama orang-orang papa.

Sejak saat itu, ia lintang-pukang hidup bersama orang miskin yang paling miskin. Penderita lepra adalah karibnya, gelandangan ialah sobatnya, dan kemiskinan adalah temannya. Di Calcutta, kita tahu, memang amat mudah menulis tentang kekalahan. Di kota jahanam itu, kematian terdengar jauh lebih membahagiakan bagi kaum papa ketimbang derita luar biasa yang harus ditanggungkan sepanjang hayat masih dikandung badan. Orang mati tergeletak begitu saja di tepi jalan. Penderita lepra membiarkan lukanya menganga karena luka adalah kutukan. Kebusukan-kebusukan zaman bermunculan seolah tak akan pernah selesai dituliskan.

Di novel City of Joy, sebuah novel terkenal tentang harapan dan kemiskinan di Calcutta, ada satu bagian khusus yang menceritakan darma-bakti Bunda Teresa. Dominique Lapierre, sang novelis, memuji Bunda Teresa: ”Diberkatilah engkau, Calcutta, karena dari kebusukanmu telah engkau lahirkan orang-orang suci”.

Baca juga:  Somoulun 1966

Sebuah bangunan rendah tanpa pintu, dengan satu papan nama bertuliskan ”Nirmal Hriday Panti Kaum Papa yang Menunggu Kematian”, di sanalah orang-orang yang semula dihina-dina bisa merasakan cinta dan kedamaian. Teresa menampik keegoisan. Ia menghadirkan karya benderang tentang kepingan kearifan, meniupkan harapan bagi kaum yang hampir-hampir tak punya seperca asa dalam hidupnya.

Kisah hidup Teresa hadir ketika zaman sedang gemuruh oleh deru kebencian, sesak oleh konfrontasi yang tak jelas ujung-pangkalnya. Ia memberi sinyal kepada kita bahwa di tengah desing peluru, egoisme, dan darah yang melaburi sejarah manusia, melulu ada lilin yang menyala. Tidak mengherankan jika Time menyebut Teresa sebagai ”seorang Santa yang hidup”.

Teresa mengajak kita untuk saling berbagi, bahkan dalam keadaan paling menyedihkan sekali pun. ”Ketika kita tak memiliki apa pun untuk diberikan, mari kita persembahkan kepada-Nya kekosongan itu. Biarlah kekosongan itu tetap kosong sebagaimana adanya,” tuturnya.

Tapi, apa relevansi Bunda Teresa hari ini—saat kita hidup di tengah zaman yang kian bengis? Tahun-tahun ini kita hidup di dunia yang tengah menjadi basilika yang bengis dan sinis. Kepedulian dan saling sapa berada di titik nadir. Ribuan orang dan kendaraan berjalan cepat dan berseliweran seolah mereka sedang dikejar setan. Tak ada sapa, tentu saja—anonimitas dalam pengertian Harvey Cox. Satu dan lain saling menegasikan: pagar perumahan yang menjulang tinggi, resor-resor mewah nan bergengsi, pembangunan kota mandiri, nomor telepon yang dibatasi—yang dalam kata-kata Harvey Cox disebut sebagai ”berguna dalam rangka mempertahankan kepentingan pribadi yang penting bagi kehidupan sang manusia”.

Baca juga:  Feminisasi Kemiskinan

Dunia menjadi mesin-hasrat yang tak pernah lepas dari dahaga. Yang kita capai tahun ini harus tumbuh berlipat pada tahun depan. Peduli setan dengan orang lain. Karena itu, kita dan pabrik kendaraan tetap saja menambah jumlah motor dan mobil kendati macet kian memuakkan. Laporan keuangan jadi juara dibandingkan tingkat polusi udara.

Teresa memberi kita harapan: dunia tak melulu bopeng dalam kesejarahannya, dunia tak selamanya menjadi instrumen yang memerikan nestapa, juga mengeram luka. Logika tak selamanya harus terjebak menjadi instrumentalis.

Teresa menunjukkan kepada kita bahwa kepahlawanan kerap menyembul dari ruang-ruang yang kosong, justru ketika agama(wan) dan umat beragama kerap acuh pada penderitaan. Aksi nyata Teresa adalah godaman yang tepat menghantam ulu hati umat beragama kini yang hanya terpana pada keagungan rumah ibadah. Kepahlawanan tak lahir dari tiang gereja yang menjulang tinggi, juga tak mekar dari menara masjid yang seolah ingin mendekap langit. Ia justru datang dari tempat hina para penderita lepra.

Teresa adalah cermin bahwa kebengisan, sesuatu yang tak jelas itu, tak selamanya
mendekap tampuk kuasa. Tapi, seperti kita tahu dari sejarah, dunia memang selalu meminta permakluman untuk sebuah luka, untuk ruang-ruang penyesalan. Bunda Teresa adalah harapan, tapi ia juga memberi kita sebuah cermin besar yang teramat buram: kemanusiaan masih jauh, dan mungkin tak akan pernah sampai di dekapan tangan.

Ya, sejarah manusia memang kerap meleset.[]

bundateresautama - Teresa

Ilustrasi Historead

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi