The Santri

Bangunan khas Pondok dengan banyak jendela kamar Pondok Kyai Syarifudin, Lumajang, Jawa Timur menjelang senja pada 22 Juni 2015.Santri Pondok Kyai Syarifudin laki-laki dan wanita sedang belajar menulis kitab dengan ruang yang disekat disalah satu ruang belajar pondok pada 22 Juni 2015.Para santri Pondok Kyai Syarifudin sedang berdoa usai membaca Kitab pada 22 Juni 2015. Para santri dan warga sekitar Pondok Kyai Syarifudin membaur bersama melaksanakan Shalat Maghrib di Masjid Pondok Kyai Syarifudin pada 22 Juni 2015.Para santri Pondok Kyai Syarifudin sedang makan bersama usai aktifitas pondok pada 22 Juni 2015.
Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Teks dan Foto oleh Arimacs Wilander

Di sudut kota Lumajang, di Desa Wonorejo. Sebuah bangunan bercat hijau bertingkat tampak kokoh. Jika melintas tepat di depan bangunannya, tampak jendela-jendela berjajar menandakan ruang-ruang kamar. Pondok ini berdiri 12 April 1912 dengan nama Pondok Pesantren Tashilul Mubtadi’in, dan kemudian berganti nama menjadi Pondok Pesantren Kyai Syarifudin.

Memasuki ruang-ruang didalamnya, atmosfer khas pondok pesantren begitu kental. Suara santri-santri mengaji, kaligrafi di dinding, dan lalu lalang santri berkopyah dan bersarung menambah kental rasa keislaman di tiap lorong bangunan Pondok Pesantren ini.

Aktivitas di Pondok ini nyaris tak pernah putus. Pagi sampai malam, hingga menjelang pagi sekalipun. Bangunan dibagi menjadi dua wilayah, wilayah pondok putra dan pondok putri. Dari dua pembagian wilayah ini, tiap gedung dibagi menjadi ruang-ruang tersendiri. Ruang kamar dan ruang belajar. Dari ruang-ruang ini para santri menimba ilmu dan mengenal lebih dekat makna kebersamaan.

Baca juga:  Gagasan Pokok Pesantren dan Kebudayaan

Dari belajar kitab, makan, tidur, hingga bermain. Santri  membaur dengan segala latar belakang budaya masing-masing kota asalnya. Tentu saja, kalaupun saat belajar bersama dengan lain jender, ada sekat yang memisahkan santri putra dan santri putri, ini sebuah kebijakan pondok yang tak bisa ditawar dengan alasan prinsipil, pedoman agama.

Di Pondok Pesantren yang lambat laun terus berkembang ini, santri dari berbagai asal daerah terus datang. Setidaknya disekitaran Tapal Kuda, Jawa Timur, ada juga yang dari Bawean. Bagi para santri, pondok pesantren tak hanya menawarkan sebuah pendidikan agama. Namun juga memberikan ruang-ruang kreasi dan kebersamaan yang kokoh, tentu saja juga soal kemandirian.

Baca juga:  Pesantren Waria al Fatah, Kisah Waria Pencari Tuhan

Spirit menimba ilmu agama dan kebersamaan jadi dorongan kuat untuk terus berproses. Para santri sadar benar, selain ilmu pengetahuan, pendidikan agama di pondok pesantren patut jadi sandingan. Mereka sepaham, itu sebuah pegangan hidup yang tak bisa ditawar.[]

utama - The Santri

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi