Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Tentang Si Pincang dari Samarkand

Dia muncul dari Asia Tengah pada abad ke-14 dan melakukan serangan berdarah yang mengambil korban tak terhitung jumlahnya. Timurlenk mirip salah satu monster dalam film-film yang mengedutkan ekornya, setelah tampak seperti mati dan dengan kedutan terakhir itu melayangkan satu serangan penghancuran pamungkas yang memuakkan.

Bagi Timur, pertumpahan darah bukan sekadar strategi pertempuran yang campin. Dia tampak menikmati hal ihwal itu demi kepentingannya sendiri. Amukannya terlalu mengerikan untuk sama sekali tidak disebutkan dalam sejarah global: dia datang, dia melihat, dia membunuh, dan kemudian dia mati, lalu kerajaannya yang luas itu runtuh seketika dan tidak ada orang yang banyak mengenang perihal Timur, kecuali bahwa Sang Penakluk itu begitu menakutkan.

TIMURLENK

Timurlenk, atau Tamerlane (si Pincang), lahir pada 8 April 1336 M/25 Sya’ban 736 H di dekat Kesh (sekarang Khakhrisyabz, “kota hijau”, Uzbekistan), sebelah selatan Samarkand di Transoxiana. Ayahnya bernama Taragai, seorang kepala suku Barlas. Salah satu nenek moyangnya, Karachar Noyan adalah wazir (menteri atau pejabat pemerintah yang tinggi) untuk Jagatai, putra dari Jengis Khan. Keluarga Timur mengklaim sebagai keturunan langsung Jengis. Meski demikian, penulis biografinya yang bergaya satir, Ibn ‘Arab Syah, menyebutkan bahwa Timurlenk adalah anak seorang pembuat sepatu, dan pada awalnya hidup sebagai perampok.

Sejak usia sangat muda, keberanian dan keperkasaan Timur yang luar biasa sudah terlihat. Dia sering diberi tugas untuk menjinakkan kuda-kuda binal yang sulit ditunggangi dan memburu binatang-binatang liar. Nama pendeknya, Lenk (Lame) berasal dari lukanya yang dia peroleh ketika mencuri domba. Sewaktu berumur dua belas tahun, dia sudah terlibat dalam banyak peperangan dan menunjukkan kehebatan serta keberanian yang mengangkat dan mengharumkan namanya di kalangan bangsanya.

[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Abu al Zahrawi
Timurlenk
Halal dan Haram
Sang Pemula
Catatan Kaki dari Amuntai
[/su_box]
Baca juga:  Silat adalah Silaturahmi

Akan tetapi, baru setelah Jagatai wafat, masing-masing amir melepaskan diri dari pemerintahan pusat. Timurlenk mengabdikan diri kepada Gubernur Transoxiana, Amir Qazaghan. Ketika Qazaghan mangkat, datang serbuan dari Tughluq Temur Khan, pemimpin Moghulistan, yang menjarah dan menduduki Transoxiana. Timur bangkit memimpin perlawanan untuk membela nasib kaumnya.

Tughluq Temur

Tughluq Temur setelah melihat keberanian dan kehebatan Timur, menawarkan kepadanya jabatan gubernur di negeri kelahirannya. Tawaran itu diterima. Namun, setahun setelah Timur ditahbiskan menjadi gubernur, tahun 1361, Tughluq Temur mengangkat putranya, Ilyas Khoja menjadi gubernur Samarkand dan Timur menjadi wazir-nya. Tentu saja Timur murka. Dia segera bergabung dengan cucu Qazaghan, Amir Husain, mengangkat senjata memberontak terhadap Tughluq Temur.

Timurlenk berhasil mengalahkan Tughluq Temur dan Ilyas Khoja. Keduanya dibinasakan dalam pertempuran. Ambisinya untuk menjadi raja besar segera muncul. Karena ambisi itulah, Timur kemudian berbalik memaklumatkan perang melawan Amir Husain, walaupun iparnya sendiri. Dalam pertempuran antara keduanya, dia berhasil mengalahkan dan membunuh Amir Husain di Balkh. Setelah itu, dia memproklamirkan dirinya sebagai penguasa tunggal di Transoxiana, pelanjut Jagatai dan keturunan Jengis Khan, pada 10 April 1370. Sepuluh tahun pertama pemerintahannya, dia berhasil menaklukkan Jata dan Khawarizm dengan sembilan ekspedisi.

Setelah Jata dan Khawarizm dapat ditaklukkan, kekuasaannya mulai kokoh. Ketika itulah, Timur mulai menyusun rencana untuk mewujudkan impiannya menjadi penguasa besar dan berusaha menaklukkan daerah-daerah yang pernah dikuasai oleh Jengis Khan. Dia bertitah, “Sebagaimana hanya ada satu Tuhan di alam ini, maka di jagat seharusnya hanya ada seorang raja”.

Pada 1381, ketika mengepalai beberapa kelompok Tartar, Timur melakukan beberapa kali serangan ke berbagai wilayah, sehingga akhirnya berhasil menguasai Afganistan, Persia, Faris, dan Kurdistan. Pada 1393, dia menaklukkan Baghdad, dan pada tahun yang sama serta beberapa tahun berikutnya dia menyerbu Mesopotamia. Di Tikrit, kota kelahiran Shalah al-Din, dia mendirikan sebuah piramida yang terbuat dari tengkorak korban-korbannya.

Baca juga:  Teologi Asy’ariah di Era Kontemporer

Pada 1395, dia menyerbu wilayah kekuasaan Sultan Qipchaq dan menduduki Moskow selama lebih dari setahun. Tiga tahun berikutnya, dia memorak-porandakan India utara, dan membantai 80.000 penduduk New Delhi. Adalah utusan-utusan Timur yang oleh Barquq–menjelang akhir kekuasaannya–dieksekusi meskipun mereka datang membawa misi persahabatan.

Layaknya badai topan, Timur menyapu bersih wilayah Suriah Utara pada 1400. Selama tiga hari kota Aleppo dijarah habis-habisan. Lebih dari dua puluh ribu kepala muslimnya ditumpuk, sehingga tingginya mencapai sepuluh cubit dan diameter lingkarannya sepanjang dua puluh cubit, dengan semua wajah menghadap ke luar.

Sekolah-sekolah berharga di kota itu, dan masjid-masjid yang dibangun pada masa Nuriyah dan Ayyubiyah diluluh-lantahkan, dan tidak pernah dibangun kembali. Kota Hamah, Hims dan Baklabak jatuh ke tangannya. Kekuatan tambahan pasukan Mesir di bawah komando Sultan Faraj dihabisi, dan Damaskus direbut pada Februari 1401, sementara kota itu sendiri dirampok dan dibakar.

Sang Penyerbu–beragama Islam yang condong ke Syiah–memaksa para ulama untuk membenarkan tindakannya. Tak ada sedikit pun yang tertinggal dari masjid Umayyah kecuali dindingnya. Beberapa sarjana Damaskus, pekerja handal dan para perajin ahli dibawa oleh Timurlenk ke ibukotanya, Samarkand, untuk menanam benih-benih pengetahuan Islam, dan memperkenalkan beberapa industri kerajinan yang sejak saat itu hilang dari ibukota Suriah. Ibn Taghri-Birdi, yang ayahnya merupakan pemimpin keamanan istana al-Faraj, memberi kita penjelasan yang gamblang ihwal peristiwa penyerangan ini. Ibn Khaldun menemani al-Faraj dari Kairo dan memimpin utusan Damaskus untuk menegosiasikan perdamaian dengan Timurlenk. Dari Damaskus, penakluk liar ini kembali bergerak menuju Baghdad untuk membalas dendam atas kematian beberapa pejabatnya, dan kemudian memenuhi kota dengan sekitar 120 tumpukan kepala korban-korban keganasannya.

Baca juga:  Mana yang Lebih Baik, Oat atau Thiwul ?

Selama dua tahun berikutnya Timur menyerbu Asia Kecil, menghancurkan pasukan Utsmani di Ankara (21 Juli 1402), dan menawan Sultan Bayazid I. Lantas dia menaklukkan ibukota terdahulu, Brusa dan Smyrna. Tawanan-tawanan istimewa diikat dengan rantai sepanjang malam, dan diharuskan berjalan di atas kotoran yang dikelilingi terali (qafash) yang diangkut oleh dua ekor kuda. Kata qafash, didukung oleh catatan Ibn ‘Arab Syah yang keliru dimafhumi, mengingatkan kita pada legenda tentang Bayazid yang mati dalam sangkar besi.

Sekalipun dia terkenal sebagai penguasa yang sangat ganas dan kejam terhadap para penentangnya, sebagai seorang muslim Timur tetap memperhatikan pengembangan Islam. Bahkan dikatakan, dia seorang yang saleh. Konon, dia adalah penganut Syi’ah yang taat dan menyukai tasawuf tarekat Naqsyabandiyah. Dalam perjalanannya, dia selalu membawa serta ulama-ulama, sastrawan dan seniman. Ulama dan ilmuan dihormatinya.

[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Biola Berdawai
Bencana Alam Perdana
Budak, Perempuan, Non-Muslim
Buku, Manuskrip, Unta
Al Razi
[/su_box]

Kota Samarkand diperkaya oleh Timur dengan bangunan-bangunan  dan masjid yang indah. Di masa hidupnya, Samarkand menjadi pasar internasional, mengambil alih kedudukan Baghdad dan Tabriz. Dia datangkan tukang-tukang yang ahli, seniman-seniman ulung, pekerja-pekerja yang pandai, dan perancang-perancang bangunan dari negeri-negeri taklukannya; Delhi, Damaskus, dan lain-lain. Timurlenk juga meningkatkan perdagangan dan industri di negerinya, dengan membuka rute-rute perdagangan yang baru dengan India dan Persia Timur. Dia berusaha mengatur administrasi pemerintahan dan angkatan bersenjata dengan cara-cara rasional dan berjuang menyebarkan Islam.

Timurlenk sakit dan akhirnya wafat dalam usia 71 tahun pada 1404 di Otrar, dalam sebuah pertempuran melawan pasukan Cina. Momentum ini menjadi titi mangsa kemerdekaan Mesir pada periode Mamluk. Timur si Pincang dimakamkan di Samarkand. []

timurlenk2 - Timurlenk

Ilustrasi Historead

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi