Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Diterjemahkan oleh Harry Isra dan disunting oleh NS dan MA

“Krisis yang dipicu oleh pagebluk Covid-19 adalah peluang bagi kita untuk memikirkan kembali gagasan Marx tentang kebebasan umat manusia. Sebagaimana yang dituliskan David Harvey dalam Jacobin, langkah-langkah darurat untuk keluar dari krisis menunjukkan potensi untuk menata ulang masyarakat yang tidak bergantung pada kapital.”

Saya menulis artikel ini di masa krisis Covid-19 di kota New York. Ini adalah waktu-waktu sulit untuk tahu secara persis bagaimana merespons apa yang kini tengah berlangsung. Lazimnya, dalam situasi krisis seperti ini, kita—kelompok anti-kapitalis—akan berkumpul di jalan-jalan; berdemonstrasi dan mengagitasi.

Alih-alih berada di jalan raya, saya malah dibuat frustrasi karena mengisolasi diri, tepat pada sebuah momen di mana panggilan untuk kerja-kerja kolektif dibutuhkan. Akan tetapi, sebagaimana pendakuan Karl Marx yang tersohor, kita tidak dapat menciptakan sejarah di bawah kehendak kita sendiri. Jadi, yang mesti kita singkap adalah bagaimana menemukan jalan terbaik dengan memanfaatkan peluang yang kita miliki.

GettyImages 1207148401 - Tindakan Kolektif di Tengah Dilema Kolektif Akibat Covid-19

NEW YORK, NY – MARET 14: Seorang polisi menyebrangi zebracross di Times Square yang nyaris kosong pada 12 Maret, 2020 di New York, United States. (Foto oleh David Dee Delgado/Getty Images)

Posisi saya pun relatif mewah. Saya bisa tetap bekerja, meskipun dilakukan lewat rumah. Saya tidak kehilangan pekerjaan saya, dan tetap memperoleh gaji. Satu-satunya yang harus saya lakukan adalah bersembunyi dari kejaran virus.

Usia dan jenis kelamin saya menempatkan saya pada posisi rentan, sehingga tidak disarankan untuk memiliki kontak dengan orang lain. Situasi ini memberi saya banyak waktu untuk merefleksi dan menulis, di sela-sela tatap-muka-daring via Zoom. Namun, ketimbang berlarut-larut dalam keganjilan situasi yang saya alami di New York, saya pikir akan lebih produktif jika saya menawarkan beberapa refleksi tentang beberapa alternatif yang mungkin dilakukan sembari bertanya: Bagaimana pendapat seorang anti-kapitalis tentang keadaan yang kini tengah berlangsung?

Artikel ini pertama kali tayang dalam bahasa Inggris pada 24 April 2020 di Jacobinmag. Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Harry Isra  dan disunting oleh NS dan MA, untuk tujuan pengetahuan.

Elemen-Elemen Masyarakat Baru

Saya mulai dengan komentar Marx tentang apa yang terjadi pada gerakan revolusioner Komune Paris 1871 yang gagal. Marx menulis:

“Kelas pekerja tidak mengharapkan keajaiban yang datang dari Komune. Mereka tidak memiliki utopia yang siap-saji untuk diperkenalkan lewat dekrit rakyat. Yang mereka tahu adalah untuk mengupayakan emansipasi dari mereka sendiri—yang berjalan beriringan dengan perkembangan bentuk mutakhir masyarakat yang tak pelak lagi kian digerakkan oleh agensi ekonominya sendiri—mereka mesti melewati perjuangan panjang melalui serangkaian proses bersejarah yang mengubah manusia berikut keadaan di sekitarnya. Mereka tidak memiliki cita-cita yang siap diwujudkan, kecuali untuk membebaskan elemen-elemen tatanan masyarakat baru yang menggantikan tatanan masyarakat borjuis lama yang sedang berada diambang kehancuran.”

Izinkan saya memberi komentar dari potongan paragraf ini. Pertama, tentu saja, Marx tampak antagonistis terhadap pemikiran utopis sosialis, yang banyak bermunculan pada tahun 1840-an, 50-an, dan 60-an di Prancis. Ini adalah tradisi pemikiran yang lahir dari Joseph Fourier, Henri de Saint-Simon, Étienne Cabet, Louis Auguste Blanqui, Pierre-Joseph Proudhon, dan sebagainya.

Marx merasa bahwa kaum sosialis utopis adalah pemimpi, dan mereka bukan pekerja praktis yang benar-benar akan mengubah kondisi kerja di sini dan saat ini. Untuk mengubah kondisi di sini dan saat ini, dibutuhkan pemahaman yang baik tentang apa sebenarnya sifat masyarakat kapitalis.

Marx pun dengan gamblang menyebutkan bahwa proyek revolusioner mesti berkonsentrasi pada emansipasi-diri (self-emancipation) yang dimulai dari pekerja itu sendiri. Bagian “diri” dari formulasi ini penting. Sebab setiap proyek besar untuk mengubah dunia mensyaratkan perubahan di tingkat individu. Dengan demikian, para pekerja juga harus mentransformasi diri mereka sendiri. Cara pandang ini begitu mengemuka dalam pikiran Marx di masa-masa Komune Paris.

Akan tetapi, Marx juga mencatat bahwa kapital sesungguhnya menciptakan peluang untuk transformasi tersebut. Dan bahwa transformasi itu membutuhkan perjuangan panjang, kapital pun memiliki kemungkinan untuk “membebaskan” ciri khas sebuah tatanan masyarakat baru di mana para pekerja terlepas dari kerja-kerja yang membuatnya teralienasi. Tugas kelompok revolusioner adalah membebaskan elemen-elemen masyarakat baru—yang telah bercokol dalam rahim tatanan sosial borjuis lama yang sudah ambruk—yang seolah tampak membebaskan ini.

Membebaskan Potensi-Potensi Yang Ada

Sekarang, mari bersepakat bahwa kita hidup dalam situasi masyarakat borjuis lama yang sudah ambruk. Terang saja, tatanan ini mengandung segala hal yang menjijikkan seperti rasisme dan xenofobia. Hal yang tentu tidak ingin kita bebaskan. Toh, Marx pun tidak mengatakan “bebaskan seluruhnya dan semua yang ada di dalam tatanan masyarakat lama dan mengerikan itu”. Apa yang ia bilangkan adalah bahwa kita perlu memilih aspek-aspek masyarakat borjuis—yang telah ambruk itu—yang dapat berkontribusi pada emansipasi para pekerja dan kelas pekerja.

Ini kemudian menimbulkan pertanyaan: Apa-apa saja kemungkinan itu, dan dari mana asal-muasalnya? Marx tidak menjelaskan hal tersebut dalam pamfletnya tentang Komune. Akan tetapi, banyak dari karya teoretisnya yang terdahulu didedikasikan untuk mengungkap secara tepat seperti apa kemungkinan jawaban yang konstruktif bagi kelas pekerja. Salah satu tempat di mana ia memaparkan kemungkinan ini secara panjang lebar adalah dalam teks yang sangat besar, kompleks, dan belum selesai: Grundrisse, yang ditulis Marx di masa-masa krisis 1857–1958.

Beberapa bagian dalam karya itu menjelaskan apa sebenarnya yang mungkin ada dibenak Marx dalam pembelaannya atas Komune Paris. Gagasan tentang “pembebasan” berkaitan dengan pemahaman tentang apa yang terjadi di dalam masyarakat borjuis dan kapitalis. Inilah yang berulang kali berusaha dipahami Marx.

Dalam Grundrisse, Marx membahas panjang lebar pertanyaan tentang perubahan dan dinamika teknologi yang melekat pada sistem kapitalisme. Apa yang ia kemukakan ialah bahwa masyarakat kapitalis–berdasarkan sifat alamiahnya–akan banyak berinvestasi dalam membangun inovasi dan kemungkinan bentuk-bentuk baru teknologi maupun organisasi. Oleh karena itu, sebagai seorang individu kapitalis yang bersaing dengan kapitalis lain, saya akan mendapatkan untung berlebih jika teknologi dalam perusahaan saya lebih unggul daripada pesaing lainnya. Jadi, setiap individu kapitalis memiliki insentif untuk mencari teknologi yang lebih produktif ketimbang yang digunakan oleh perusahaan lain yang menjadi pesaing kapitalis tersebut.

Atas alasan tersebutlah dinamika teknologi bercokol di jantung masyarakat kapitalis. Marx menyadari hal ini sejak Manifesto Komunis (yang ditulis tahun 1848) dan seterusnya. Inilah salah satu kekuatan utama yang mampu menjelaskan karakter revolusioner kapitalisme yang permanen.

Kapitalisme tidak akan pernah puas dengan teknologi yang sudah tersedia. Itu sebabnya, mereka  akan selalu berusaha untuk memperbaharuinya dengan memberikan insentif kepada orang, perusahaan, atau kelompok masyarakat yang berkontribusi terhadap kemajuan teknologi. Negara, bangsa, atau blok adidaya yang memegang kendali atas teknologi nan mutakhir dan dinamis inilah yang akhirnya bakal memimpin. Dengan demikian, dinamika teknologi dibangun ke dalam struktur kapitalisme global. Itulah yang telah terjadi sedari awal.

Inovasi Teknologi

Perspektif Marx tentang hubungan antara kapitalisme dengan inovasi teknologi yang tiada henti sedemikian menarik dan mencerahkan. Ketika kita membayangkan proses inovasi teknologi, kita lazimnya memikirkan seseorang menciptakan sesuatu, lalu mencari pembaharuan teknologi atas hal yang telah mereka ciptakan. Demikianlah dinamika teknologi berlangsung spesifik pada pabrik tertentu, sistem produksi tertentu, situasi tertentu.

Baca juga:  Di Persimpangan Charhai e-Sadarat

Akan tetapi, rupanya banyak teknologi yang tumpah-ruah dari satu ruang produksi ke ruang yang lain. Mereka menjadi generik. Misalnya, teknologi komputer tersedia bagi siapapun yang ingin menggunakannya untuk tujuan apa pun. Teknologi otomatisasi tersedia baik untuk semua kalangan maupun  industri.

Apa yang Marx perhatikan pada tahun 1820-an, 30-an, dan 40-an di Inggris ialah bahwa penemuan teknologi baru telah menjadi bisnis yang mandiri dan berdiri bebas. Artinya, bukanlah orang yang membuat tekstil atau hal semacamnya yang tertarik pada teknologi baru itu, melainkan wirausahawan lah yang datang dengan teknologi baru sehingga dapat digunakan di semua tempat dan meningkatkan produktivitas tenaga kerja yang mereka gunakan.

Contoh paling awal dari hal ini di masa Marx adalah mesin uap. Mesin uap adalah alat multifungsi dan serbaguna, ia dipakai mulai dari mengeluarkan drainase air dari tambang batubara,untuk membuat mesin uap dan membangun rel kereta api, hingga diterapkan pada alat tenun listrik di pabrik-pabrik tekstil. Jadi jika Anda ingin masuk ke bisnis inovasi, maka teknik dan industri alat mesin adalah tempat yang baik untuk memulai.

Seluruh sistem ekonomi – seperti yang muncul di sekitar kota Birmingham, yang berspesialisasi dalam pembuatan mesin – menjadi kian berorientasi pada produksi. Tidak hanya teknologi baru, tapi juga produk baru. Bahkan di masa Marx, inovasi teknologi telah menjadi bisnis mandiri lewat caranya sendiri.

Tatkala Teknologi Menjadi Bisnis

Dalam Grundrisse, Marx menjelajahi secara rinci pertanyaan tentang apa yang terjadi ketika teknologi menjadi bisnis, tatkala inovasi ditujukan untuk menciptakan pasar baru atas kemunculan teknologi baru ketimbang berfungsi sebagai respons terhadap permintaan pasar tertentu yang sudah ada sebelumnya. Teknologi baru kemudian menjadi ujung tombak dinamika masyarakat kapitalis.

Konsekuensinya pun luas membentang. Salah satu yang paling kentara adalah bahwa teknologi tidak pernah statis: teknologi itu tidak pernah menetap, dan cepat usang. Mengejar teknologi termutakhir bisa membuat stres. Dan biayanya mahal. Mempercepat keusangan malah dapat menjadi malapetaka bagi perusahaan itu sendiri.

Kendati demikian, seluruh sektor-sektor yang ada di masyarakat, seperti elektronik, farmasi, bioteknologi dan sejenisnya, diberikan ruang untuk menciptakan inovasi demi menciptakan inovasi lainnya. Barangsiapa mampu menciptakan inovasi teknologi yang dapat menangkap imajinasi publik, seperti ponsel atau tablet, atau memiliki aplikasi yang paling beragam seperti chip komputer, makaakan muncul sebagai pemenang. Dengan begitu, ide bahwa teknologi telah menjadi bisnis merupakan catatan penting Marx untuk memahami ciri khas masyarakat kapitalis.

Inilah yang membedakan corak produksi kapitalis dengan yang lainnya.  Kemampuan berinovasi dapat ditemukan di mana-mana dalam sejarah umat manusia: mulai dari peradaban Cina kuno hingga pada masa-masa feodalisme. Akan tetapi, apa yang khas dari corak produksi kapitalisme adalah fakta sederhana bahwa teknologi telah menjadi bisnis, dengan produk generiknya yang dijual baik kepada produsen maupun konsumen. Corak produksi seperti itu adalah khas kapitalisme. Dan inilah salah satu pendobrak utama perkembangan masyarakat kapitalis. Suka tidak suka, kita hidup di dunia semacam ini.

Menjadi Embel-Embel Mesin

Selanjutnya, Marx menunjukkan akibat signifikan dari perkembangan ini. Agar teknologi dapat menjadi bisnis, Anda perlu memobilisasi bentuk pengetahuan baru dengan cara tertentu. Ini mensyaratkan penerapan sains dan teknologi sebagai cara yang khas untuk memahami dunia.

Penciptaan teknologi baru di lapangan kemudian terintegrasi dengan munculnya ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai disiplin intelektual dan akademik. Marx memperhatikan bagaimana penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan penciptaan bentuk-bentuk baru pengetahuan, menjadi penting untuk inovasi teknologi revolusioner ini.

Inilah aspek khas lainnya dari corak produksi kapitalis. Dinamika teknologi terintegrasi dengan dinamika dalam produksi pengetahuan baru yang teknis dan ilmiah, termasuk dengan konsepsi mental baru dalam memahami dunia yang seringkali revolusioner. Bidang sains dan teknologi menyatu dengan produksi dan mobilisasi pengetahuan atau pemahaman yang baru. Akhirnya, lembaga yang sepenuhnya baru, seperti MIT dan Cal Tech, mesti didirikan untuk memfasilitasi perkembangan tersebut.

Marx kemudian bertanya: Apa yang integrasi tersebut bisa hasilkan terhadap proses produksi dalam kapitalisme, dan bagaimana hal itu mempengaruhi cara di mana tenaga kerja (dan pekerja) dibaurkan ke dalam proses produksi? Dalam era pra-kapitalis, katakanlah abad ke-15 dan ke-16, buruh umumnya memiliki kendali atas alat-alat produksi–perkakas-perkakas yang diperlukan dalam proses produksi–dan menjadi terampil dalam pemanfaatan perkakas tersebut. Buruh yang terampil kemudian memonopoli jenis pengetahuan tertentu. Jenis pemahaman tertentu yang, menurut catatan Marx, selalu dianggap sebagai seni.

Namun, tatkala kita sampai pada sistem pabrik, dan terlebih lagi dalam dunia kontemporer, keterampilan tersebut tidak lagi dibutuhkan. Keterampilan tradisional buruh dianggap mubazir karena telah berhasil diambil-alih oleh teknologi dan ilmu pengetahuan. Teknologi, sains dan bentuk-bentuk pengetahuan baru menyatu dengan mesin. Dan, proses produksi kehilangan seninya.

Marx, dalam serangkaian bagian yang menakjubkan dalam Grundrisse– halaman 650 sampai 710 edisi Penguin, jika Anda tertarik – di dalamnya dibahas tentang cara teknologi dan pengetahuan baru tertanam di dalam mesin: pengetahuan tersebut tidak lagi berada di dalam otak buruh, dan buruh dipaksa menepi untuk menjadi embel-embel mesin alias operator mesin belaka. Seluruh intelijensia dan pengetahuan yang dulunya milik para buruh–yang memberikan mereka kekuatan monopoli tertentu dalam berhadap-hadapanan dengan modal–menghilang.

Para kapitalis yang dulunya membutuhkan keterampilan tradisional buruh sekarang dibebaskan dari kebutuhan tersebut, sebab pengetahuan itu kini terkandung di dalam mesin. Pengetahuan yang dihasilkan lewat sains dan teknologi mengalir ke dalam mesin, dan mesin menjadi “jiwa” dalam dinamika kapitalisme. Itulah kondisi yang digambarkan oleh Marx dalam Grundrisse.

Menuju Emansipasi Kelas Pekerja

Dinamika yang berlangsung dalam masyarakat kapitalis sangat bergantung pada inovasi tanpa henti yang didorong oleh mobilisasi sains dan teknologi. Marx melihat dengan mata kepala sendiri dinamika kapitalisme yang terjadi pada masanya. Ia menuliskan semua tentang hal ini pada 1858! Terang saja, sekarang kita berada dalam situasi di mana masalah ini menjadi semakin runyam dan krusial.

Pertanyaan terkait kecerdasan buatan (AI) sebetulnya merupakan versi kontemporer dari apa yang dulu dibicarakan Marx. Yang perlu kita tahu sekarang ialah sudah sejauh mana kecerdasan buatan dikembangkan lewat sains dan teknologi, dan sampai sejauh mana pula AI diterapkan (atau mungkin diterapkan) dalam proses produksi. Efek paling mencolok yang mungkin dihasilkan adalah tergantikannya kerja-kerja manual manusia oleh kecerdasan buatantersebut. Lebih jauh lagi, AI juga melucuti dan mendiskreditkan kapasitas imajinatif, keterampilan, dan keahlian yang dimiliki para pekerja manual dalam proses produksi.

Mari kita simak komentar Marx berikut ini dalam Grundrisse. Izinkan saya mengutipnya untuk Anda, karena saya kira pernyataan tersebut benar-benar menarik:

“Transformasi proses produksi dari proses kerja sederhana menjadi proses ilmiah, yang menundukkan kekuatan alam dan memaksanya bekerja untuk melayani kebutuhan manusia, muncul sebagai kualitas kapital tetap (fixed capital) yang bertolak belakang dengan tenaga kerja hidup. . . Dan dengan demikian, seluruh kemampuan tenaga kerja dialihkan ke dalam kekuatan modal.”

Di masa-masa sekarang, pengetahuan dan keahlian ilmiah menjalankan mesin dan berada di bawah komando para kapitalis. Kekuatan produktif tenaga kerja dipindahkan ke dalam kapital tetap, sesuatu yang berada di luar tenaga kerja. Kelas pekerja pun dipaksa untuk menepi. Dengan begitu, kapital tetap (fixed capital) menjadi pemikul pengetahuan dan kecerdasan kolektif kita dalam hal produksi dan konsumsi.

Baca juga:  Kesunyian Kus Jing-jing

Lebih dari itu, Marx turut pula mendalami fase-fase bunting kehancuran tatanan masyarakat borjuis, yang pada gilirannya membuat kerja-kerja manual menjadi kurang relevan. Begitulah kapital “yang seolah-olah berlangsung secara alamiah: mengurangi jumlah tenaga manusia dan pengeluaran energi ke tingkat minimum. Para pekerja yang tidak lagi relevan inilah yang menjadi katalisator terciptanya emansipasi.” Dalam pandangan Marx, kemunculan otomatisasi atau kecerdasan buatan merupakan prasyarat yang memungkinkan emansipasi kelas pekerja.

Dari Tindakan Kolektif ke Emansipasi Individu

Mengemansipasi “diri” buruh dan kelas pekerja dari jerat alienasi adalah hal yang sentral dalam bagian yang saya kutip dari pamflet Marx tentang Komune Paris. Seluruh prasyarat yang memungkinkan emansipasi itu adalah sesuatu yang perlu dirangkul. Tapi, prasyarat-prasyarat seperti apakah yang berpotensi membebaskan atau mengemansipasi?

Jawabannya sederhana. Semua ilmu pengetahuan dan teknologi meningkatkan produktivitas sosial tenaga kerja. Seorang pekerja, yang merawat semua mesin-mesin itu, dapat menghasilkan sejumlah besar komoditas dalam waktu yang sangat singkat. Mengutip pendakuan Marx dalam Grundrisse:

“Tatkala industri besar kian berkembang, akumulasi kekayaan riil makin kurang bergantung pada waktu dan jumlah tenaga kerja yang dipekerjakan ketimbang pada kekuatan agensi yang bergerak selama waktu kerja, di mana “kekuatan efektivitasnya” itu sendiri melampaui semua proporsi waktu kerja langsung yang dihabiskan untuk produksi mereka. Alih-alih, akumulasi itu lebih bergantung pada ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi, atau penerapan ilmu pengetahuan dalam proses produksi. . . kekayaan riil memanifestasikan dirinya – dan industri besar lah yang membeberkan hal ini – dalam disproporsi mengerikan antara waktu kerja yang diterapkan, dan produknya.”

Tetapi kemudian Marx melanjutkan, dan di sini ia mengutip salah seorang sosialis Ricardian yang menulis pada masa itu: “Betapa sejahteranya sebuah bangsa jika dalam satuhari kerja memiliki jam kerja 6 jam ketimbang 12 jam. Kesejahteraan tidaklah berkuasa di atas surplus waktu kerja. . . Waktu-tidak-terpakai di luar surplus waktu kerja lah yang justru diperlukan dalam proses produksi langsung, untuk setiap individu dan seluruh masyarakat.”

Inilah yang menyebabkan kapitalisme menghasilkan kemungkinan untuk “emansipasi individu” termasuk para pekerja, lewat praktik konsumsi di waktu-tidak-terpakai. Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, dan akan saya katakan lagi: Marx selalu, dan selalu menekankan bahwa emansipasi individu adalah titik akhir dari tindakan kolektif yang menjadi katalisator emansipasi tersebut. Pandangan awam yang mengatakan bahwa Marx mendukung tindakan kolektif yang menindas individualisme sesungguhnya adalah hal yang keliru.

Sebaliknya, Marx malah mendukung mobilisasi kolektif untuk meraih emansipasi di tingkat individu. Kita akan kembali ke gagasan itu sebentar lagi. Akan tetapi, potensi untuk emansipasi individu lah  yang merupakan tujuan penting kita di sini.

Kerja-Kerja Esensial dan Non-Esensial

Mobilisasi kolektif yang berujung pada emansipasi individu dipicu oleh “pengurangan jumlah tenaga kerja yang esensial”, yaitu jumlah tenaga kerja yang diperlukan untuk melangsungkan kehidupan sehari-hari masyarakat. Dengan demikian, produktivitas meningkat, sehingga kebutuhan dasar masyarakat dapat dengan mudah terpenuhi. Akibatnya, waktu-tidak-terpakai menjadi semakin berlimpah, yang kemudian bisa dipakai oleh individu untuk pengembangan potensi artistik dan ilmiah.

Pada awalnya, keberlimpahan waktu-tidak-terpakai tersebut hanya bisa dinikmati segelintir orang. Akan tetapi, pada akhirnya, semua orang akan menikmati waktu-tidak-terpakai nya. Dengan kata lain, membebaskan individu untuk melakukan apapun yang mereka inginkan sangatlah penting, karena Anda dapat mengurus kebutuhan dasar dengan menggunakan teknologi canggih.

Masalahnya, kata Marx, kapital itu sendiri adalah “kontradiksi yang bergerak.” Kapital “menekan pengurangan waktu kerja ke tingkat minimum. Di saat yang bersamaan, kapital juga menempatkan waktu kerja sebagai satu-satunya ukuran dan sumber kekayaan.” Oleh sebab itu, kapital mengurangi bentuk waktu kerja yang esensial – yang benar-benar diperlukan tentu saja – untuk meningkatkan apa yang Marx bilangkan sebagai nilai lebih (surplus value).

Pertanyannya kemudian, siapakah yang akan merebutnilai lebih itu? Masalah yang didapati oleh Marx bukanlah bahwa nilai lebih itu tidak tersedia, melainkan nilai lebih itu tidak tersedia untuk kelas pekerja. Sementara di satu sisi terdapat kecenderungan “untuk menciptakan waktu-tidak-terpakai,” di sisi lain terdapat pula tendensi “untuk mengkonversi waktu-tidak-terpakai menjadi surplus tenaga kerja” yang ujung-ujungnya menguntungkan kepentingan kelas kapitalis.

Kecenderungan tersebut tidak berlaku bila hendak diterapkan untuk mendorong emansipasi kelas pekerja. Ia diterapkan untuk memperkaya kaum borjuis, dan demi akumulasi kekayaan lewat cara-cara tradisional di dalam masyarakat kapitalis.

Inilah kontradiksi pokoknya, sebagaimana yang diungkapkan Marx: “Bagaimana kita memahaminya kesejahteraan suatu bangsa? Nah, Anda dapat memahaminya dengan melihat jumlah uang dan semua hal yang diperintahkan oleh seseorang. ” Kendati demikian, bagi Marx, seperti yang telah kita lihat, “bangsa yang benar-benar sejahtera adalah jika dalam sebuah hari kerja memiliki jam kerja 6 jam ketimbang 12 jam. Kesejahteraan tidaklah berkuasa di atas surplus waktu kerja. . . Waktu-tidak-terpakaidi luar surplus waktu kerja lah yang justru diperlukan dalam proses produksi langsung, untuk setiap individu di seluruh kelompok masyarakat. ”

Dengan begitu, kekayaan suatu kelompok masyarakat diukur dari seberapa banyak waktu luang yang kita miliki untuk melakukan apa pun yang kita suka tanpa kendala yang berarti, sebab kebutuhan dasar kita telah terpenuhi. Dan inilah argumen Marx: Anda perlu memiliki gerakan kolektif untuk memastikan bahwa masyarakat seperti itu dapat dibangun. Akan tetapi, yang menjadi batu sandungan adalah relasi kuasa antar kelas yang tidak setara, serta praktik penggunaan kekuasaan kelas kapitalis.

Kuncitara

Ada gaung yang menarik dalam situasi kuncitara (lockdown) dan ekonomi yang ambruk akibat pagebluk Covid-19. Banyak di antara kita, secara individu, berada dalam situasi di mana kita memiliki banyak waktu yang tidak terpakai. Sebagian besar dari kita terkungkung di rumah. Kita tidak bisa berangkat kerja, kita tidak dapat melakukan hal-hal yang biasanya dilakukan. Apa yang bisa diperbuat dengan waktu yang kita miliki? Jika memiliki anak, tentu ada banyak hal yang bisa dilakukan. Akan tetapi kita telah mencapai situasi di mana kita memiliki waktu luang yang berlimpah.

Kedua, terang saja saat ini kita mengalami PHK massal. Data terkini memaparkan bahwa di Amerika Serikat, terdapat sekitar 26 juta orang kehilangan pekerjaan mereka. Bisa saja saat ini kita menyebutnya sebagai musibah, dan benar adanya, ini merupakan sebuah musibah. Sebab ketika Anda kehilangan pekerjaan, Anda juga kehilangan kapasitas yang Anda miliki untuk bekerja menghasilkan uang dengan pergi ke swalayan, karena Anda tidak memiliki uang.

Banyak orang kehilangan jaminan kesehatan, banyak juga yang mengalami kesulitan untuk mengakses tunjangan tuna karya. Hak-hak hunian terancam jatuh tempo akibat tidak mampu melunasi pembayaran. Sebagian populasi AS – barangkali sebanyak 50 persen dari penghuninya – memiliki simpanan tidak lebih dari $400 di bank untuk menghadapi situasi darurat ringan, apalagi untuk krisis besar seperti sekarang.

Baca juga:  Guncangan Ekonomi Politik di Masa Covid-19

Kelas Pekerja Baru

Orang-orang yang tengah kehilangan pekerjaan, berikut anak-anak mereka, rentan terlempar ke jalanan dan menghadapi ancaman kelaparan. Kendati demikian, mari kita telaah situasi ini lebih jauh.

Barisan pekerja yang diminta untuk merawat jumlah orang sakit yang membludak, atau untuk menyediakan pelayanan minimum bagi keberlangsungan kehidupan sehari-hari pada umumnya sangat ter-gender-kan, ter-ras-kan, dan ter-etnis-kan. Inilah “kelas pekerja baru” sebagai wajah dari kapitalisme kontemporer. Barisan yang harus menanggung dua beban, yakni sebagai kelompok paling berisiko tertular virus melalui pekerjaannya, dan di waktu yang sama rentan di-PHK tanpa sokongan finansial yang memadai akibat penghematan ekonomi yang dipicu pagebluk Covid-19.

Kelas pekerja kontemporer di Amerika Serikat – sebagian besar terdiri dari keturunan Afrika-Amerika, Latin, dan buruh wanita – menghadapi pilihan yang sulit: menderita kontaminasi saat merawat pasien dan menjaga fungsi pokok pengadaan (seperti toko bahan makanan) tetap buka, atau menjadi pengangguran tanpa tunjangan seperti fasilitas kesehatan yang cukup.

Para pekerja ini telah sejak lama dituntun untuk berperilaku sebagai aktor neoliberal yang baik, yang berarti menyalahkan diri sendiri atau Tuhan bila ada yang salah tetapi tidak pernah berani berpikir bahwa mungkin kapitalisme lah masalahnya. Bahkan pelaku neoliberal yang baik dapat melihat bahwa ada yang salah dengan cara menanggapi pandemi ini, dengan ketidakmerataan beban yang harus dipikul untuk menjaga keberlangsungan tatanan sosial.

Menciptakan Situasi Baru

Bentuk-bentuk tindakan kolektif diperlukan untuk mengeluarkan kita dari krisis serius saat menghadapi Covid-19. Kita membutuhkan tindakan kolektif untuk mengontrol penyebaran – perilaku menjaga jarak, mengurung diri, dan praktik sejenisnya. Kerja kolektif ini diperlukan secara bertahap agar dapat membebaskan kita sebagai individu untuk hidup dengan cara yang kita sukai. Sebab kita tidak dapat melakukan apa yang kita senangi saat ini.

Situasi tersebut kemudian menjadi metafora yang bagus untuk memahami apa itu kapital. Yang artinya menciptakan sebuah kelompok masyarakat di mana sebagian besar kita tidak bebas untuk melakukan apa yang diinginkan, lantaran sangat sibuk menghasilkan kekayaan bagi kelas kapitalis.

Apa yang akan dikatakan Marx, barangkali jika 26 juta pengangguran ini menemukan cara mendapatkan uang guna mencukupi kebutuhannya, membeli kelengkapan untuk bertahan hidup, dan membayar sewa rumah untuk mereka tinggali, lalu kenapa mereka tidak memperjuangkan emansipasi dari pekerjaan yang mengasingkan?

Dengan kata lain, apakah kita ingin keluar dari krisis ini hanya dengan berujar bahwa ada 26 juta orang yang membutuhkan kembali pekerjaan mengerikan yang mungkin mereka lalui sebelumnya? Begitukah cara yang kita harapkan untuk keluar dari situasi ini? Atau mungkinkah kita ingin bertanya, adakah cara untuk mengelola produksi jasa dan kebutuhan pokok sehingga semua orang memiliki sesuatu untuk dimakan, semua orang memperoleh tempat tinggal yang layak, dan kita dapat menaruh moratorium pada penggusuran, dan setiap orang dapat menempati sewaan secara gratis? Bukankah ini momen di mana kita dapat benar-benar menggagas penciptaan sebuah alternatif kelompok masyarakat?

Jika kita cukup tangguh dan cerdik menghadapi virus ini, maka kenapa tidak mengambil-alih kapital di saat yang sama? Ketimbang menyatakan kita semua ingin kembali bekerja dan mendapatkan kembali pekerjaan itu, mengembalikan segala sesuatu seperti semula sebelum krisis melanda, mungkin seharusnya kita berkata: kenapa kita tidak melepaskan diri dari krisis dengan mereka tatanan sosial yang benar-benar berbeda secara menyeluruh?

Kenapa kita tidak mengambil unsur-unsur dari runtuhnya masyarakat borjuis yang sedang hamil ini – sesuatu yang mengejutkanbagiilmu pengetahuan dan teknologi, serta kapasitas produktif – dan membebaskan mereka, memberdayakan kecerdasan buatan dan perubahan teknologi, serta bentuk-bentuk organisasi hingga kemudian kita dapat benar-benar menciptakan sesuatu yang secara radikal berbeda dengan yang pernah ada sebelumnya.

Selayang Pandang Sebuah Alternatif

Terlepas dari situasi darurat yang terjadi saat ini, kita tengah bereksperimen dengan beragam pilihan tatanan, mulai dari pengadaan makanan pokok gratis untuk kelompok dan area yang kekurangan, pengobatan gratis, alternatif akses ke sejumlah fasilitas melalui internet, dan lain sebagainya. Pada kenyataannya, banyak atribut dari masyarakat sosialis baru ini yang sudah ditelanjangi – barangkali inilah alasannya mengapa golongan sayap kanan dan kelas kapitalis menjadi sangat cemas, dan membawa kita kembali pada permainan status quo.

Inilah kesempatan untuk membayangkan pilihan yang mungkin terjadi. Inilah momen di mana peluang terwujudnya sebuah alternatif sungguh-sungguh mungkin. Alih-alih bereaksi secara spontan dan berujar, “oh, kita harus segera memperoleh kembali 26 juta pekerjaan itu”, ada baiknya kita mengusahakan perluasan hal-hal yang sedang berlangsung saat ini, seperti organisasi tandon yang kolektif.

Situasi tersebut sudah berjalan di bidang pelayanan kesehatan, dan mulai merambah pada sosialisasi ketersediaan bahan pangan hingga makanan jadi. Saat ini beberapa restoran di New York masih buka, dan berkat donasi mereka bisa menyuplai makanan gratis untukorang-orangyang telah kehilangan pekerjaannya dan tidak bisa pergi kemana-mana.

Ketimbang berkata, “oke, kita lakukan ini pada situasi genting”, kenapa kita tidak bilang bahwa inilah saatnya kita mulai menyuarakan pada restoran-restoran itu bahwa misi kalian adalah memberi makan masyarakat, dan oleh karenanya setiap orang bisa mendapatkan makanan yang layak setidaknya satu atau dua kali dalam sehari.

Imajinasi Sosialis

Di sini kita telah memiliki unsur-unsur dari masyarakat sosialis. Sebagai contoh, banyak sekolah yang menyediakan makanan bagi siswanya. Mari pertahankan hal itu, atau paling tidak belajar dari kemungkinan yang ada jika saja kita peduli. Bukankah ini merupakan momen di mana kita dapat memberdayakan imajinasi sosialis ini untuk membangun sebuah alternatif kelompok masyarakat?

Ini bukanlah utopia. Ini adalah ungkapan, sebagaimana, lihatlah tempat-tempat makan di Upper West Side yang sudah tutup sementara waktu. Mari kumpulkan kembali orang-orang – mereka bisa mulai memproduksi penganan dan membagikannya pada orang-orang di jalanan, di rumah, juga pada orang-orang tua. Kita membutuhkan tindakan kolektif yang demikian agar kita semua dapat terbebas secara individu.

Jika 26 juta orang yang saat ini menganggur harus kembali bekerja, maka jam kerja bisa menjadi enam jam, bukannya dua belas jam per hari. Itu berarti kita dapat merayakan munculnya pemahaman berbeda tentang arti hidup di negara terkaya di dunia. Mungkin inilah yang dapat membuat Amerika benar-benar hebat–America truly great (biarkan “again” membusuk dalam tempat sampah sejarah).

Dan inilah poin yang ditulis Marx berulang-ulang: bahwa akar dari individualisme,  kebebasan, dan emansipasi yang sesungguhnya, berlawanan dengan rekayasanya yang secara terus-menerus terdoktrin dalam paham borjuis. Situasi di mana semua kebutuhan kita terpenuhi melalui tindakan kolektif, sehingga kita hanya perlu bekerja enam jam sehari dan bisa menghabiskan sisanya sesuka hati.

Akhir kata, bukankah ini adalah momen menarik untuk benar-benar memikirkan dinamika dan peluang bagi terciptanya sebuah alternatif, yakni, masyarakat sosialis? Namun untuk dapat memasuki jalur emansipatoris tersebut tentunya kita perlu membebaskan terlebih dahulu diri kita untuk melihat bahwa gagasan baru memang dapat muncul berdampingan dengan sebentuk realita baru.[]

covermarx - Tindakan Kolektif di Tengah Dilema Kolektif Akibat Covid-19

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi