Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Tentang Jurnalis Nasionalis Kwee Thiam Tjing

Pada Jum’at sore, 10 Desember 2010, aku dan beberapa kawan berkesempatan menemani guru kami, Ben Anderson–profesor emeritus dalam bidang Studi Internasional di Universitas Cornell Amerika Serikat–dalam acara rilis dan diskusi bukunya (diedit bersama Arief W. Djati, seorang aktivis dari Yayasan Arek Surabaya) berjudul Menjadi Tjamboek Berdoeri: Memoar Kwee Thiam Tjing di Galeri Cemara 6, Jl. HOS Tjokroaminoto No. 9-11, Menteng Jakarta Pusat.

Buku ini menceritakan pengalaman Kwee Thiam Tjing, orang yang melegenda dengan julukan “Tjamboek Berdoeri”. Sepilihan esai ini, semacam memoar Tjamboek Berdoeri di harian Indonesia Raya. Ditulis dari 22 Juli 1971 sampai 28 Juli 1973. Buku ini menggambarkan kenangan Tjamboek Berdoeri terhadap dunia sekelilingnya, selama periode pemerintahan kolonial Hindia Belanda, zaman Jepang sampai awal kemerdekaan Indonesia. Karya ini merupakan semacam “kelanjutan” dari memoar penulisnya dalam Indonesia Dalem Api dan Bara (IDAB).

Dalam esai ini, aku hanya akan bercerita seputar Tjamboek Berdoeri dan karyanya IDAB saja, guna memberikan informasi singkat kepada sidang pembaca yang belum mengenal karya nan dahsyat ini.

IDAB adalah buku memoar sastrawi karya Tjamboek Berdoeri yang diterbitkan pertama kali pada 1947 di kota Malang, yang pada saat itu diduduki oleh Tentara Belanda. Ketika pertama kali diterbitkan, nama penerbit dan identitas asli penulisnya sengaja tidak dicantumkan untuk melindungi penerbit beserta penulisnya, kalau-kalau buku ini mendapat sensor dari tentara Belanda.

Buku ini diolah dengan menggunakan bahasa Melayu Tionghoa Pasaran, yang dibumbui oleh bahasa Belanda dan Jawa Timur-an. Isinya menceritakan pelbagai peristiwa yang dialami langsung sang penulis dari tahun 1941 hingga 1947. IDAB diterbitkan kembali tahun 2004 lalu  atas prakarsa Ben Anderson, dengan tetap mempertahankan keaslian bahasa dan ejaannya.

buku - Tjamboek Berdoeri

Tjamboek Berdoeri

Buku yang aslinya berjudul Lelatoe Jang Djadi Laoetan Api ini, merupakan suatu liputan jurnalistik keadaan kota Malang, baik sebelum maupun semasa pendudukan Jepang dan masa awal revolusi Indonesia. Ditulis oleh seorang nasionalis, tetapi kisahnya bukanlah ihwal suatu keberhasilan. Laporannya berpuncak, bukan pada penyerahan kedaulatan, tetapi pada taktik bumi hangus pelbagai kelompok revolusioner, ketika kalah berat menghadapi serangan besar-besaran tentara Belanda pada Juli 1947.

Baca juga:  Kepada Facebook Kita Mengadu

IDAB bukan sebuah kisah berbagai kebijakan pemerintah RI atau risalah kejadian tingkat nasional. Lebih tepat, dikatakan sebagai reportase piawai tentang kehidupan di Malang, menurut pengamatan Tjamboek Berdoeri. Dia mengisahkan pengamalannya, tetapi fokus perhatiannya bukanlah pada dirinya sendiri, melainkan dunia lokal sekitarnya. Gambarannya tenang, terlibat tetapi juga berjarak. Ia sangat sadar akan hirarki masyarakat di sekelilingnya, tetapi tidak mempunyai kepentingan pribadi di dalamnya. Dalam pengertian demikian, mungkin saja dia merupakan produk cerdas masyarakat kolonial. Dia melihat, bahkan merasa bergantung pada masyarakat stabil, yang berdasarkan keseimbangan pelbagai perbedaan.

Maka, ketika tata sosial berubah secara mendadak, Tjamboek Berdoeri kadang-kadang tersenyum. Sebagai contoh di Malang, seorang, yang dulu menjadi jongos restoran favoritnya semasa revolusi menjadi perwira, lalu pindah ke satu rumah bekas kediaman orang Belanda yang menyingkir tanpa sempat membawa harta bendanya. Dan orang ini, sang bekas jongos yang mendadak menjadi orang penting di Malang, ternyata tidak mengerti bagaimana cara menggunakan kulkas di rumah barunya. Peristiwa ini diceritakannya dengan tertawa akrab, tanpa sedikit pun rasa jengkel atau ketus.

Baca juga:  Catatan Kaki dari Amuntai

Tjamboek Berdoeri menempatkan reportase itu dalam kerangka lokal–bukan karena dia picik, melainkan–karena pengalaman langsungnya adalah lokal, walaupun dia sangat sadar bahwa kejadian-kejadian di Malang merupakan sebagian kecil dari semacam perubahan besar yang berskala dan pentingnya bersifat global.

Maka dengan sinis dia membandingkan letusan Perang Dunia II di Eropa sebagai akibat permainan poker antara Hitler, Inggris, dan Perancis (yang mengakibatkan jatuhnya Belanda ke tangan sekutu Hitler, Jepang). Di lain pihak, perspektifnya luas dengan diletakkannya reportase ini dalam kerangka dunia. Dia juga seorang nasionalis, tetapi bersimpati pada penderitaan orang-orang Belanda di bawah kekuasaan “Dai Nippon” Jepang.

Dia menyaksikan banyak kejadian karena selalu penuh rasa ingin tahu. Perkiraannya beranjak dari reaksinya saat itu, reaksi-reaksi yang dimiliki seseorang yang simpatik dan manusiawi. Dia melukiskan kebrutalan sistematis oleh orang-orang Jepang, dengan teliti dan gusar, pun kadangkala dengan adonan humor pahit.

Contohnya, pada satu ketika di mana dia pergi berjualan telur asin dan kebetulan bertemu dengan rombongan tahanan Belanda yang dikawal ke pasar oleh tentara Jepang. Dengan harapan dapat menjual telurnya kepada orang Belanda itu, dia mendekati mereka, tetapi dicegat oleh serdadu Jepang, dan diminta membuka bungkusannya. Akibatnya telur asinnya masuk kantong serdadu Jepang tanpa dibayar!

Meskipun juga, reaksi kalem ini sangat berbeda ketika Indonesia menghadapi zaman “api dan bara”. Tjamboek Berdoeri menyalahkan sekaligus membiarkan kelas bawah yang tidak terdidik, atau sebagian dari mereka. Ceritanya sebagian besar berkisar kepada individu, tetapi ketika sampai ke penjarahan yang dilakukan orang-orang pribumi tertentu, saat Jepang mulai memasuki Malang dan kerusuhan yang berlangsung selama praktik bumi hangus pasca mundurnya TNI (Tentara Nasional Indonesia), kisahnya merupakan pertanyaan kelas. Bahkan di sini, bagaimanapun, dia mempersoalkan para pelakunya, dengan menyebut mereka ‘Djamino’ dan ‘Djoliteng’.

Baca juga:  Dua Seni Rupa

Djamino dan Djoliteng, menurut Tjamboek Berdoeri, berasal dari kelas tertentu, sedikit di atas kelas paling rendah. Mereka dapat ditemukan dalam pelbagai masyarakat yang berkelas, tanpa memperdulikan kebudayaannya. Mereka kemudian terbagi lagi, bila mengingatnya, yakni ke dalam ‘rakyat’ (gepeupel) dan unsur yang jahat (gespuis). Nama Djamino dan Djoliteng berasal dari bahasa Jawa; dan, berasal dari kesenian ludruk. Tontonan ini, di mana lelaki memainkan semua peranan, termasuk peranan perempuan, jelas mencerminkan kemampuan Djamino dan Djoliteng untuk muncul dalam bentuk tokoh yang berbeda-beda, sesuai dengan perubahan suasananya.

Pendekar pena kita ini, si Kwee Thiam Tjing, lahir di Pasuruan pada 9 Oktober 1900. Ia pernah bekerja sebagai wartawan harian Lay Po (1920), Pewarta Soerabaja (1921), Sin Jit Po (1929), dan Pembrita Djember (1933). Kwee dikenal sebagai jurnalis yang memiliki gaya yang khas, ‘nakal’ dan berani mengungkap ketidakadilan yang ditemuinya.

Karena ke-nakalan-nya ini, Kwee terpaksa harus mendekap di penjara selama 10 bulan, karena tersangkut delik pers, dengan tuduhan menghina pemerintah Hindia Belanda pada 1925.
Setelah menulis pengalamannya dalam buku IDAB, Kwee pergi ke Malaysia dan menetap di sana. Pada 1970, ia kembali ke Indonesia dan menulis artikel untuk koran Indonesia Raya milik Mochtar Lubis. Pada 28 Mei 1974, Kwee meninggal dunia sebagai seorang biasa yang namanya terlupakan oleh sejarah dan bangsanya sendiri: Indonesia, hingga diterbitkannya kembali IDAB ini.[]

cambuk - Tjamboek Berdoeri

Tjamboek Berdoeri

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi