Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Seri Cerita Pendek Historead

Cinta dan duka itu tampak serupa tapi tak sama dan tak dapat dipisah. Ada yang bilang keduanya seperti sungai dan laut, yang selalu bermuajah di muara. Mungkin hal itu bisa dikatakan benar dalam arti relatif. Sebab cinta dan duka berasal dari sebuah noktah kecil yang tepatnya berada di pusat hati, kemudian muncul apa yang dinamakan ´rasa´ dan menyebar ke seluruh tubuh makhluk yang bernyawa. Lalu, tubuh merespon aliran itu hingga bereaksi. Sama halnya dengan energi gerak yang dapat mengahasilkan energi listrik laiknya dinamo pada sepeda pedal yang mampu menghidupkan lampu. Cinta dan duka pun seperti itu. Cinta bisa membuat seseorang meneteskan air mata. Duka pun demikian juga sama-sama meneteskan air mata.

Tapi pernyataan di atas tidak berlaku bagi Iran. Anak desa yang tubuhnya dekil, perutnya buncit, dan  kedua matanya buta—terpejam—, semenjak dia keluar dari rahim ibunya. Waktu lahir pun dia tak bisa meneteskan air mata, menangis. Berbeda halnya dengan bayi pada umumnya, menangis seraya menjerit-jerit seakan-akan bayi itu mengetahui betapa belakanya dunia ini yang dia tempati saat ini. Atau tangisnya, mengisyaratkan pada fenomena dunia yang super-kompleks dan masih menjadi sebuah misteri. Perihal itu tidak berlaku pada Iran, apa karena dia yang buta mata dan hatinya, jadi sulit menitikkan air mata. Entahlah.

Tentunya kita tahu, orang buta pasti meiliki sahabat setia, yakni tongkat. Teman sehati Iran, saban hari, adalah sebuah tongkat yang berasal dari ranting pohon jati—yang katanya tongkat itu dicari tepat pada hari jum´at legi dengan ujung pangkalnya menghadap ke arah barat, yang menurut desa (setempat) itu bisa menjaga seseorang yang  buta dari bala´—.

Iran mengenal kedua orang tuanya hanya dari jenis suara. Jika suara itu bernada mayor maka dia memastikan orang yang diajaknya bicara adalah seorang pria. Yang suara besar, bernada tinggi dan agak kasar dalam berbicara seraya selalu membentak diasumsikan adalah sesosok pria. Persis suara ayahnya. Sedangkan pita suara seseorang yang menghasilkan suara minor dia mendekretkan dengan sesosok wanita. Persis seperti ibunya yang lemah lembut, sabar, dan selalu halus dalam berbicara dengannya.

Baca juga:  Solidaritas Kemanusiaan

Ironisnya, Iran buta aksara. Tentu tak bisa membaca dan menulis. Lagi pula, mana ada sich di desa yang terpencil itu—jauh dari perkotaan lagi, ada ´sekolah luar biasa/SLB´: tempat belajar siswa yang cacat. Cacat dalam arti fisik. Jadi, kedua orang tuanya pun tak tak tahu bagaimana harus mengenalkan sebuah wawasan ilmu pengetahuan. Dan pemerintah setempat ´menafikkan´ itu. Di desanya hanya ada sekolah dasar. Iran tak diizinkan bersekolah di tempat itu. Sekolahnya juga sangat mengenaskan. Genteng-gentengnya dikebaki bebolongan jadi kegiatan belajar-mengajarnya terganggu di saat musim hujan seperti nasib tanaman jagung yang masih belia di musim hujan—yang menanti nasib sialnya dan siap-siap untuk layu lalu kering dan mati. Dinding-dindingnya bukan dari bata melainkan gedhek yang syarat berlubang sebab pasukan rayap suka bersemayam padanya di kala musim hujan.

Pemerintah setempat tak mau tahu dengan hal itu. Apakah para pejabat setempat buta dan tuli dengan segala hal itu! Tapi tak mungkin, kalau mereka buta dan tuli tak mungkin mereka bisa mendapatkan jabatan sebagai para elitis kota yang digaji oleh pemerintah. Ataukah, karena desa Iran itu berada pada dataran tinggi yang banyak dijejali dengan pohon-pohon raksasa, jalan-jalan berkerikil lagi tanahnya yang gambut dan jalannya terjal.

Hari-hari Iran selalu dihabiskan di dalam rumah. Duduk di teras, menjadi aktifitas wajib baginya sambil menunggu rasa kantuk, seraya dia menerka bentuk-bentuk isi semesta ini. Dari cericit burung-burung di atas pohon sampai pada suara amukan halilintar yang sering hadir di kala  langit sedang murung bahkan menangis. Sesekali saja ia berjalan menyusuri lorong sempit di desa itu.

Dia tidur dengan segumpal harapan bahwa dia dapat melihat—takkan buta lagi—isi semesta alam kelak, saat dia sudah beranjak dewasa, —seperti yang dikatakan ibunya semenjak Iran kecil, sebagai dongeng pengantar tidur. Sampai-sampai segumpal harapan itu menjelma sebuah cahaya ´keyakinan´. Cahaya yang selalu menerangi hati Iran untuk tetap berpegang teguh pada yang diyaknini. Sampai-sampai orang yang mendengar pernyataan itu—bahwa dia takkan buta lagi saat dia sudah dewasa—tertawa karena dia culun dan bodoh. Saking Iran yakin dengan kata-kata ibunya, dia tak sadar bahwa setiap hari, bulan, tahun umurnya kian bertambah.

Baca juga:  Museum, Kenangan, Melankoli

***

Suatu hari, saat matahari serasa membakar ubun-ubun, ibunya baru saja pulang dari pasar, sehabis berbelanja, dengan keadaan pakaiannya yang kumal dan lusuh. Ibunya tengah menangis tersedu-sedu. Mendengar ibunya, Iran bingung bercampur aneh. Ada apa dengan ibu, kata-kata itu yang mengganjal dalam bibir mulut kecil di hatinya. Akhirnya Iran memberanikan diri menghampirinya seraya berjalan pelan dengan mengibas-ngibaskan tongkatnya ke arah muka supaya dia lebih mudah menuju ibunya, tanpa harus terhalang oleh benda apapun yang berada di mukanya.

¨Bu, kenapa ibu menangis, kata Ibu nangis itu tak jelek, lalu kenapa ibu menangis?¨ Tanya Iran keheranan dengan nadanya yang serba lugu seperti anak yang masih berumur tujuh tahun padahal umur dia sudah menginjak dua puluh tahun.

Mendengar kata-kata Iran, ibunya terhentak. Aliran darah dia deras, makin deras, dia naik pitam dengan kata-kata Iran—anaknya—tadi.

Kau ini. Apa katamu barusan,¨ sahutnya dengan bentak-bentak.

Iran langsung kaget. Hatinya semakin bingung. Kenapa ibuku langsung berubah menjadi seorang pria, padahal dia ´kan wanita. Sejak kapan dia menjadi pria. Iran pun mengerutkan dahinya, kebingungan.

¨Kau ini, anak bodoh,¨ tambah ibunya seraya menampar pipi kiri Iran. Plak, kira-kira begitu bunyi tamparannya.

Iran, kemudian, tersungkur ke tanah. Dia amat kaget. ´Aduh´ hanya kata-kata itu yang tersembul dari mulut dia secara mendadak. ¨Apa yang ibu lakukan terhadapku,¨ sahutnya enteng, serba kebingunan. Iran tak menyadari sikapnya.

Melihat anaknya tersungkur, jatuh di lantai, hati ibunya langsung terpukul serasa ada godam yang menghantam ke dadanya. Matanya menatap kosong. Rasa penyesalan menyelubungi dirinya. Dia tak sadar dengan apa yang dilakukan terhadap anaknya, baru saja. Ibunya pun langsung bersimpuh di sisi Iran seraya memboponginya, untuk membantu anaknya berdiri. Rasa penyesalan itu saja yang menggugah hati dan tubuhnya.

¨Apa yang ibu lakukan terhadapku,¨ sahut Iran lirih.

Ibunya menangis sedih serasa ada sesuatu yang tergores di lubuk hatinya yang amat dalam. Rasanya pedih, pedih… Air matanya menyucur lebih deras tetapi mulutnya terkunci, yang ada hanya suara sesenggukan yang bisa di tangkap oleh kuping Iran.

Baca juga:  Geografer, Sultan, Kitab Rujar

¨Nak, maafkan ibu. Ibu khilaf. Ibu tak sengaja,¨ lirih ibunya seraya mengelus-ngelus rambut kepala Iran dan menempelkan pada dadanya.

Bah, ibuku sudah berubah lagi menjadi seorang wanita. Suaranya lembut seperti alunan harmoni. Kata-kata seperti itulah yang berputar seperti gangsing dalam benak Iran. ¨Bu, kenapa ibu menangis?¨ tanyanya lagi.

¨Nak ibu lagi ditimpa musibah besar. Ibu…¨ katanya terhenti serasa pita suara Ibunya terputus. Sulit untuk melanjutkan kalimat.

¨Ada apa bu.¨

Ibunya lebih memilih membisu sebab musibah yang ditimpanya merupakan sebuah aib.

Hati ibunya bimbang dan terguncang. Dia berat untuk berucap. Perasaan dia tegang bercampur malu, apabila dia harus bercerita tentang musababnya menangis. Sebab tangisan dia menyiratkan hati penyesalan bercampur kekesalan, (atau bisa menjadi) kegusaran bercampur pemberontakan atas apa yang menimpanya. Dia menyesali sebagai janda yang ditinggal suaminya mati dengan keadaan ekonomi yang pas-pasan. Dia kesal terhadap para lelaki yang tak bernama, yang telah tega menggerayangi bahkan menindihnya—hanya sekedar melampiaskan hasrat nafsu bejatnya.

¨Bu, kenapa baju ibu berbau kecut dan apek?¨ Tanya Iran, tiba-tiba, sampai ibunya merasa tersudutkan.

¨Oh…Ibu masih belum mandi ya, habis pulang dari pasar.¨ Tambahnya lugu.

Pikiran ibunya tambah kusut setelah mendengar kata-kata Iran. Dia tak tahu harus berkata apa. Dia tetap saja menangis. Air matanya selalu menetes tanpa disuruh. Tiba-tiba saja ibunya beranjak dari sisi Iran. Dia meninggalkan Iran sendiri di dalam kamar. Dia menuju dapur untuk mengambil sebilah pisau, yang tiap hari selalu menjadi teman setianya di pasar.

Saat pisau itu berada dalam genggamannya, ibu Iran hanya bergumam; mari kita selesaikan hidup ini. Tubuh Iran pun rubuh. Ibu, ibu, ibu, sakit, ucapnya sembari menahan sakit. Cairan merah mulai keluar dari tubuhnya hingga melumuri lantai. Kaki ibunya merasakan suatu yang dingin. Cairan amis menempel ujung kakinya.

“Sekarang giliranku,” gumamnya pada pisau.[]

Tidak ada artikel lagi