Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Arsip Majalah Zenith edisi No. 1 Tahun I 15 Djanuari 1951

Seni Buah Kejujuran

Akan saya ceritakan kepada Tuan beberapa segi kehidupan seniman. Tidak akan saya katakan bahwa itu manusia istimewa dengan rasa dan pikiran serta kehidupan yang istimewa, tetapi lebih tepat saya katakan, dia adalah orang biasa yang mempunyai satu keistimewaan, seperti juga tiap orang ada keistimewaannya. Saya mulai dengan mengatakan bahwa seniman adalah orang biasa seperti tuan sendiri.

Cuma bedanya, dia mempunyai suatu sifat yang berbeda dengan orang lain. Sifat inilah bisa merasakan seni dan bisa membuat barang seni. Seni itu dilihatnya dimana‐mana. Daun gugur berterbangan misalnya bisa menggerakan irama perasaannya. Hingga dibikinnya lagu: Musim Gugur. Bunga mawar yang mulai luruh kelopak‐kelopaknya bisa menyentuh rasa harunya, hingga tercipta nyanyian: Mawar Terakhir. Kesedihan, kegirangan, cinta‐kasih, kematian, perjuangan bangsanya dan lain‐lain perasaan yang pernah dialami setiap insan, bisa menghasilkan buah‐buah seni. Mengapa buah‐buah itu bisa menyenangkan orang lain? Bisa dirasakan sedihnya, girangnya, aneka ragam emosi yang mempertalikan hati pembuat dengan pembacanya, penontonnya dan sebagainya? Karena hasil‐hasilnya itu berasal dari kalbu yang murni, artinya yang jujur menggerakkan irama serta keindahan harunya yang oleh resonansinya dapat mengetarkan kalbu orang lain.

Demikianlah pertama‐tama saya katakan bahwa tiap‐tiap seniman sejati itu orang yang jujur. Ia tak dapat bohong. Kalau bohong, keseniannya akan menjadi kebohongan atau kepalsuan. Tiap‐tiap kebohongan dalam hasil karyanya akan segera terlihat oleh orang yang berasa‐seni, setidak‐tidaknya akan membawa kebimbangan; pernah disebut orang dengan tepat: kesan‐jari (vingerafdruk) dari seorang pencuri, yang berakibat bahwa akhirnya kita ketahui pencurinya. Sebab tak ada pohon mangga yang berbuah durian. Dan niscaya perbuatan seseorang itu pancaran wataknya. Perhatikan saja orang yang pemarah misalnya yang main kartu atau main sepak bola. Sifat pemarahnya kentara di situ, pun sifatsifat lain umpamanya: kikir, serakah, dengki, pemurah hati dan lain lain. Jika Tuan percaya bahwa pekerjaan seni itu pancaran jiwa, hati dan otak yang sedalamdalamnya, tentu tuan akan heran, bila saya tegaskan: apa lagi dalam seni itu yang terpancar watak dan batin seseorang.

Jadi seni sejati itu mesti jujur, dalam arti kata: orang penakut tentu bertindak takut, pemarah mesti marah, si lemah mesti lemah, si baik hati tidakboleh‐tidak baik, si jahat tidak‐boleh‐tidak jahat. Artinya, kalau penakut purapuraberani, akan kentaralah keberanian yang dibikin‐bikin itu; kalau si lemah mau mengelabui mata kita dengan berlaga kuat, dia akan kita tertawai, kalau si borjuis membanggakan kedemokrasiannya, akan nampaklah kebohongannya. Inilah yang saya maksudkan dengan kejujuran tadi. Demikianlah hanya seniman yang jujur saja yang bisa benar, bisa mencapai kebenaran (waar‐akhtigheid) yang fitri (natuurlijk). Bukan barang mustahil bahwa makna kejujuran dan kebenaran ini lebih jauh dan besar dari pada yang Tuan sangka. Pembuatan hasil seni bukan hanya bermakna untuk menghias dinding kamar dengan sebuah lukisan, atau membuat kita ngelamun oleh sebilah syair dan lagu yang merdu. Perbuatan hasil‐hasil adalah pertanggungan jawab si seniman terhadap dirinya sendiri, terhadap masyarakat bangsanya, terhadap kebudayaan dunia. Ia mesti berjanji kepada ketiga‐tiganya bahwa ia berlaku jujur serta menunaikan janji itu dengan hasil yang sebaik‐baiknya. Inilah cita‐cita seniman dalam praktiknya. Pembohong oleh seorang yang mengakui dirinya seniman dengan tidak jujur adalah kejahatan besar terhadap tiga hal itu! Entah dia sadar atau tidak, tapi kejahatan itu saja sudah mendesakkan kepala kita supaya bertindak radikal. Sulitnya di sini ialah karena orang umumnya tak sanggup melihat kepentingan nasional yang besar ini.

Jika kita cari sebab‐sebabnya, dalam garis besarnya dapat saya sebut: dunia seni dan dunia kebudayaan sebagaian besar adalah dunia abstra, tak lekas dilihat dan dirasakan oleh dari pada yang kongkrit. Orang lebih lekas ingat pada perbuatan kursi, pada perut kosong dari pada ingat cita‐cita keseniaan kebudayaan yang sulit untuk dipahamkan.

Seni Buah Penderitaan

Saya menegaskan bahwa pekerjaan seni adalah akibat kebutuhan yang tak dapat dipaksa‐paksa dan yang sesudah terlaksana akan memberi kebahagian pada pembuatnya. Dan keadaan ditanah air kita banyak menghalang‐halagi dia melaksanakan pernyataan hidupnya itu. Syukurlah setiap makhluk mempunyai naluri untuk bertahan diri terhadap kesulitan serta penindasan, dan kian kuat pribadinya, kian besarlah juga daya‐keseniannya. Maka disamping akibat‐akibat yang merugikan karena kesengsaraan hidup itu ada pula maknanya yang menguntungkan. Zaman yang penuh kesukaan menggembleng kita menjadi makhluk‐makhluk yang lebih tahan ujian daripada beberapa angkatan yang mendahului kita. Itulah sebabnya kita saksikan ditanah air kita tumbuhnya pribadi‐pribadi yang mengandung benih bagus untuk perkembangannya.

Lain dari kemajuan seni dinegeri Belanda dalam Abad Keemasan‐nya (Abad‐17), lain dari Zaman Rokoko di negeri Perancis, perkembangan seni modern Indonesia tidak di waktu ada kemewahan, tetapi malahan di waktu kita serba kekurangan, mengalami perjuangan, bencana dan penderitaan, ialah di waktu bangsa kita yang telah lama sekali menderita kemiskinan, kemunduran akhlak serta berkurang pengetahuan itu sekonyong‐konyong meletakkan ke atas pundaknya suatu tugas yang berat sekali dan menghendaki keuletannya. Maka hasil kesenian pun banyak sekali merupakan hasil penderitaan. Akan kami tinjau ini lebih lanjut di akhir tulisan ini.

MajalahZenith - Penghidupan Seniman

Zenith- edisi No. 1/Tahun I/15 Djanuari 1951

Seni dan Sikap‐Hidup

Sekarang marilah Tuan lebih dulu ikut saya menyingsingkan layar dan masuk ke dunia seniman. Saya ajak Tuan ke tempat bekerjanya pelukis, sanggar (atelir) namanya. Ruangan itu “kerajaannya” , di man ia memerintah sesuka hati dan tiada mau diperintah orang lain. Kalau Tuan hendak memaksa dia memakai warna kuning misalnya, padahal ia mau pakai warna, maksud Tuan akan kandas.

Baca juga:  Hamka Setuju Larangan Buku "Bumi Manusia"

Barangkali Tuan akan heran, mengapa ia menggambar orang tidak persis seperti orang, atau membikin sapi dengan warna hijau, atau dibikinnya bentuk‐bentuk yang tidak karuan, berbeda sekali dengan apa yang Tuan lihat sehari‐hari. Tapi Tuan lupa bahwa dia sudah mempunyai konsepsi sendiri sebelum memulai pekerjaannya, mempunyai angan‐angan, bahkan impian sendiri yang tak jarang berlainan sekali dengan apa yang Tuan alami dengan pancaindra Tuan. Konsepsi, angan‐angan serta impian itu hendak dijelmakannya dengan kain dan cat, dikendali oleh segala tenaga batinnya. Itulah yang menggerakkannya dan itu sebabnya ia tak mau terganggu dan sering mau lepas dari bentuk‐bentuk. Banyak sekali seniman yang sangat kuat jiwa individualistisnya, tidak mau dikekang, ingin lepas sebebas‐bebasnya. Karenanya ia banyak berpikir, hendak kreatif, kritis dan tidak lekas puas. Tak sedikit pejuang kemerdekaan diseluruh dunia adalah seniman. Mereka membenci konvensi yang dipaksakan, adat istiadat serta agama yang tegang dan terlalu dogmatis, apa lagi penjajahan, penindasan serta kelaliman. Karenanya ia berjiwa perikemanusiaan, hingga tak adalah seniman yang suka pada kejahatan dan pembunuhan.

Individualiteitnya, beriringan dengan kemauan kerasnya untuk melaksanakan konsepsi, angan‐angan serta impiannya sendiri itu tak hendak hanya di capai dalam pekerjaan seninya, tapi juga dalam segala cara hidupnya. Tak jarang ia dinamakan orang aneh yang berlaian sekali tingkah lakunya dengan orang lain. Memang ada pseudo‐seniman yang gemar menarik perhatian orang dengan kelakuan aneh‐aneh, misalnya membiarkan rambutnya tumbuh panjang, atau memakai pakaian yang mencolok mata, atau dengan sengaja memperkosa adat‐adat masyarakat dengan tiada alasan.

Saya katakan pada Tuan: seniman tulen tak suka pada bombasme, show, pose, pura‐pura dsb. Cukuplah jika saya ambil perbandingan bahwa seorang pendekar pencak budiman pun tak suka mempertontonkan kepandaiannya, jika memang tidak ada tempatnya. Seniman tulen berkerja dengan tiada gemborgembor, bukan pujianlah yang dicarinya, tak ada pamrihnya (eigenbelang) selain membuat buah seni, tempat ia berkecimpung dalam kebahagiaannya. Kalau Tuan menyangka bahwa ia senang bilamana buah kerjanya dibeli orang‐‐‐meski bagaimanapun mahalnya‐‐‐Tuan hanya sebagaian kecil saja mendapat kebenaran.

Kalau saya sebut bahwa ikatan batin seniman pada hasil kerjanya itu sama atau sangat dekat persamaannya dengan ikatan batinnya terhadap anak atau istrinya yang dicintainya, Tuan mungkin geleng‐geleng kepala. Tapi begitulah sesungguhsungguhnya.

Oleh kejujurannya ia dibawa ke suatu alam pikiran dan rasa, yang membawanya pula ke sikap hidup tertentu yang tak jarang jauh berbeda dari sikap hidup orang lain. Dia bisa terharu oleh sekilat cahaya matahari yang singgah di air, oleh rumput yang tumbuh di celah‐celah batu dan lain‐lainnya, yang menurut pandangan orang sehari‐hari disebut remeh‐remeh. Dia paling taat mendengarkan bisikan sukmanya, gemar dan awas menangkap kebenaran dan keindahan yang terkandung di pangkuan alam, di hati manusia, dalam sifat‐sifat pelbagai bintang dan benda di sekelilingnya. Itu sebabnya ia paling konsekuen lagi jauh menuruti kehendak hati serta pendiriannya yang sekali dipeluknya, paling tabah merambah jalannya yang sekali dipilihnya. Dalam kesungguhannya mencari nilai‐nilai hakiki perlu guna memuaskan dahaga hati dan jiwanya, maka dalam  perkembangan batin serta kecakapannya untuk meningkatkan sesuatu menurut kata hatinya, dia acapkali bosan atau bersikap tak acuh terhadap apa yang dianggap lazim dan sudah memuaskan oleh orang‐orang se zaman dan semasyarakat.

Pada tingkatan itu dia tak lagi senang dengan keadaan yang dilihatnya sehari‐hari, hingga larilah ia ke alamnya sendiri yang dicita‐citakan, jauh di luar batas pikiran, perasaan serta sikap‐hidup kaum manusia di zamannya. Dia lalu seolah‐olah terlepas dari dari masyarakat, tak puas dengan apa yang dihidangkan oleh masyarakat itu, dan dia lari kesuasana ciptaannya sendiri itu, tempat ia mengecap kelezatan idam‐idaman, cinta serta ilhamnya.

Tiap‐tiap seniman pernah merasakan ini. Pernah merasa bahwa ia menghasilkan sesuatu yang harus bisa disari madunya oleh orang‐orang khususnya yang sanggup memahamkannya. Pelarian tersebut kadangkala berlaku di dunia abstrak saja, kadangkala betul‐betul di dunia kongkrit. Contohnya mengenai yang akhir ini misalnya penyair Li Tai Po yang mengembara di seluruh kerajaan Tiongkok, Gauguin yang merantau ke kepulauan Haiti dan Van Gogh yang akhirnya membunuh diri.

Contoh belakangan menunjukkan bahwa pelarian ke dunia konkrit dan abstrak, tempat si seniman mencari kenikmatan serta kepuasan bagi dahaganya yang fitri itu tak selalu berlaku dan berakhir dengan kesenangan, bahkan sering dengan kepedihan, sampai‐sampai pada ajalnya. Begitulah dia bisa menjadi korban dari sifat‐sifatnya sendiri yang khusus itu.

Baca juga:  Hikayat Kopi

Pada seniman yang cukup berarti, apa yang dicapainya dalam dunia khususnya itu mungkin merupakan hasil‐hasil yang baru diakui oleh angkatanangkatan manusia sesudah dia sendiri mati. Dalam hal itu dia melihat ke depan dengan pandangan batin yang melampaui batas umumnya, melampaui batas batas paham manusia‐manusia yang seangkatan dengan dia; bagi senimanseniman besar hal ini berarti bahwa ia hidup abadi.

Dengan uraian diatas mengenai pengejaran kebahagian seniman itu orang mungkin mengira bahwa ia hendak mengurung diri dalam menara gadingnya yang tinggi, dengan tiada mengindahkan kebutuhan dan keadaan masyarakat di sekitarnya. Tidak begitulah yang saya maksudkan. Itu akan berarti memuja semboyan I’art pour I’art, sedangkan ini terasa sebagai kemewahan yang tak sesuai dengan perkembangan sejarah di negeri kita. Dia sebagai buah‐alam di bumi tanah‐airnya mesti juga memperhatikan kehidupan dengan segala perhatian dan facet‐nya dikalangan rakyat lapisan apa saja, membuat kehidupan itu menjadi miliknya serta memulangkan buah‐buah yang dibenuhkan oleh kehidupan itu dalam jiwanya kembali kepada masyarakat. Dan ini bukan soal yang mudah.

Meninggalkan faham I’art pour I’art serta menjalankan seni dari rakyat dan untuk rakyat betul‐betul bukan bukan hanya semboyan belaka. Ini bisa terjadi dengan pesat, bilamana beberapa syarat telah dipenuhi:

  1. Seniman mendapat tempat (pengakuan) dalam masyarakat.
  2. Negeri berada dalam kemakmuran sampai tingkat yang menghapuskan kesengsaraan ekonomis.
  3. (Fakultatif) pendidikan (pengajaran) sudah merata di kalangan rakyat biasa.

Baru demikianlah seniman yang jujur dapat menjalankan peranannya sepuas‐puasnya dengan tiada terganggu, baik individuil maupun secara bersama (merapat pada rakyat). Sekarangn keadaan seniman masih merana dan banyak yang kurang kuat imannya dan mengejar keenakan yang diberikan dia sendiri tenggelam tak tentu rimbanya, menjadi sesuatu yang tak sesuai dengan bakatnya, hingga hilanglah keuntungan yang mestinya bisa diperoleh masyarakat dan bakatnya. Beberapa banyaklah seniman‐seniman terpendam seperti ini yang hilang terdesak karena penjajahan dan kemiskinan?

Sekarang di zaman kemerdekaan kita harus berusaha jangan sampai hal itu terulang‐ulang dalam sejarah. Dengan keadaan negeri dan pemerintah pada waktu ini sangatlah saya sangsikan akan bisanya terpelihara bakat‐bakat tadi. Tak lain karena masih tebalnya rasa borjuisme, neo‐feodalisme, birokrasi dan main menang‐menangan dikalangan kaum atasan, yang egoistis serta bekerja sebagai konservator kebudayaan melulu. Sedangkan telah berkali‐kali rakyat menunjukkan keuletannya, dalam perjuangan dan dalam kehidupan kulturil.

Suatu keajaiban yang mencerminkan keuletan kulturil rakyat itu ialah di pulau Bali misalnya. Di sana pernyataan kehidupan seniman itu merata diantara rakyat, sudah mendapat tempat, bahkan menjadi darah‐dagingnya, sedangkan faktor‐faktor kemakmuran dan pendidikan belum lagi terjamin sebagaimana diinginkan. Ini disebabkan jiwa keseniannya di situ telah menjadi unsure intrinsic dalam pernyataan hidup rakyat, menjadi sebagian dari keadaan sehari‐hari, suatu kemenangan naluri dan intuisi atas materi, kemenangan juga dari pribadi, rasa seni dan rasa kerakyatan atas formalisme, birokrasi dan borjuisme , atas rasio abad ke 20. Jiwa seni tak usah terkekang oleh kecerdasan mutlak, pun tidak ditundukan oleh tidak adanya kemakmuran seperti yang dikejar oleh kaum borjuis‐kapitalis‐feodalis yang kini merajalela dalam pemerintahan kita.

Jadi kedudukan seniman di Bali itu sudah menjadi hak milik rakyat, lain halnya dengan banyak pulau‐pulau lainnya di Indonesia.

Seniman dalam Masyarakat

Kebahagian pelukis ialah jika ia mempunyai cukup bahan‐bahan untuk bekerja, bisa melukis disanggarnya, di sawah atau di jalanan. Pada hakikatnya sama halnya dengan kebahagian seorang nyonya rumah jika ia bisa tinggal dirumahnya dengan nyaman dengan perabotan‐perabotan yang cukup dan anakanak yang manis; sama halnya dengan pegawai kalau ia bisa memberi uang belanja yang cukup pada istrinya. Tapi penghidupan seniman secara seluasluasnya masih terasa janggal bagi masyarakat kita; ini menandakan rintangan bagi seniman itu, mungkin mematahkan semangatnya, karena ia tak mungkin hidup dai buah seninya saja dan tak ada dorongan dari luar dirinya memperkuat ketabahannya. Disamping idealis ia juga seorang realis; di kedua dunia dia harus menjaga keseimbangannya, agar jangan sampai tumbang.

Seniman merenung bukan hanya untuk merenung. Ia menyiapkan konsepsinya yang akan berubah nyata dalam bentuk lukisan, lagu, syair dan sebagainya. Ia berfikir untuk memperluas serta memperdalam tinjauannya dan kesadarannya. Bagi orang yang bekerja di kantor ia nampaknya pemalas, nampaknya tak berbuat apa‐apa. Bagi orang‐orang yang burgerlijk1 ia seolah cerabah (slordig) atau tak punya sopan‐santun, atau dinistakan karena miskin dan tak punya kedudukan. Memang bagi mereka yang mengukur harkat dan derajat orang dengan kekayaan material atau kedudukan dia adalah orang yang nista. Padahal ia termasuk kategori yang tinggi karena daya penciptanya. Padahal negara‐negara banyak menjadi masyur juga oleh karena kesenian yang diciptakan Demikian kita saksikan tragik ini meliputi kehidupan seniman yang benarbenar hidup dalam dan dari kesenianya.

Barangkali Tuan menganggap ini berlebih‐lebihan dan berkata bahwa di zaman kini setiap orang rata‐rata menderita. Baiklah saya terangkan bahwa yang kita utamakan ialah pemeliharan jiwa seni. Seni yang jarang terdapat, rengkuh karena kehalusannya, adalah patut diperhatikan. Dahulu kala, di zaman feudal, di zaman pertenngahan, orang‐orang kaya dan bangsawan‐bangsawan melindungi kaum seniman, meski ada pamrihnya, yakni supaya dia menyanyikan kebesaran mereka. Di Indonesia kita kenal adanya pujonggo dalem (dalam keraton). Lalu di zaman liberal, dan zaman demokrasi kini, ditengah‐tengah realiteit arus gelombang, maka seni dan penderitaan merupakan tujuan dan mesti tergembleng bersatu‐padu dalam jiwa seniman‐seniman kita. Ia mesti menghasilkan yang jujur dan menyajikannya kepada masyarakat dan bangsanya. Kadang‐kadang ia terpaksa menjual celananya supaya bisa makan dan membeli cat, pernah terjadi terpaksa melepaskan kekasih atau istrinya kepada orang lain yang lebih baik kedudukannya, sedangkan munngkin dari celana atau kesedihan yang dideritanya itu akan timbul buah seni yang dikagumi orang dari zaman ke zaman. 

Baca juga:  Badingsanak

Seni Buah Pelarian 

Dalam keadaan menderita orang bisa memilih berbagai jalan untuk penyalurannya. Dia bisa tenggelam, tumbang dilambung taufan. Dia pun bisa lari. Tak betah terhadap penanggungan yang dialaminya sehari‐hari, lalu dicarinya tempat lain, alam lain dimana ia menghibur diri, tempat dilepaskannya anganagannya, kadang‐kadang berdasarkan sesuatu yang real, tapi lebih sering bertumpul pada yang fiktif, khayal, alam palsu tempat ia berayun dalam keindahan dan kedamaian, dalam bahagia yang tak pernah dijumpainya di dunia yang sebenar‐benarnya. Kemungkinan ketiga, ia bisa tergembleng oleh pukulan nafas, menjadi tabah, malahan lebih kuat lagi dari semula.

Dalam hal pertama, mustahil kita harap‐harapkan apa‐apa lagi dari padnya, sesembuh‐sembuhnya dia hanya pulih menjadi invalide2 kerohanian, atau mengkhianati bangsanya. Dalam hal kedua‐‐‐yang terbanyak terjadi!‐‐‐banyaklah timbul kemungkinan‐kemungkinan:

  1. Dia mungkin menjadi utopis yang tak ada manfaatnya bagi kita.
  2. Mungkin tersesat atau terhenti pada suatu tingkatan yang belum tinggi, sebab terus lari berarti menghabiskan nafas, sedangkan dia tak sanggup pula menemukan jalan kembali. Akibatnya, dia tak mampu menghasilkan apa‐apa lagi yang bernilai.
  3. Dalam keadaan sub‐b dia tidak tau jalan, namun bersikeras asal berjalan saja dengan membohongi diri akan kepandaiannya; selanjutnya dia membohongi pula masyarakat, lantas setelah masyarakat percaya padanya, maka dia pun percaya pada kebohongannya (wisselwerking). Hasi‐hasinya menjadi buah‐buah dekadensi, kebohogan serta kepalsuan yang membahayakan masyarakat.
  4. Dengan sadar atau tak sadar ia lari dari ideolagi yang bisa menyelamatkan bangsanya, ia mungkin tak mau mengakui itu kepada masyarakat. Mungkin dia produktif, tapi produksinya menjadi steril, sebab tak ada ketumbuhan kerohaniannya. Kelemahan itu disembunyi‐sembunyikannya, dan sering untuk memuaskan dirinya ia memilih jalan yang termudah (weg van de minste weerstand) secara egoistis dengan berideologi mementingkan dirinya sendiri. Ini menyebabkan dia menjadi korup, dekaden, borjuis, kapitalistis; dalam akibat yang terjauh bisa menjadi penghianat bangsanya. Di tanah air kita orang begini biasnya menjadi birokrat tulen, orang‐orang (misalnya “ahli‐ahli” dan “seniman‐seniman”) yang hanya pandai mengkonservir dan mengulangi saja apaapa yang sudah ada, pengecut‐pegecut yang takut pada pembaharuan, kalau kalau soal‐soal yang baru itu akan menumbangkan kedudukannya (keenakannya)!
  5. Bukan barang mustahil bahwa orang sambil berlari itu masih menemukan sesuatu yang agak bernilai. Kesenian yang dihasilkannya niscaya belum tinggi mutunya, banyak bersifat romantic‐sentimentil ala terang bulan, sehidup‐semati, sapu tangan yang harum, dan sebagainya, (kroncong) atau pun seni rakyat dalam keadaan tertekan tak bisa berkembang seluas‐luasnya (ketoprak)! Kita menghargai kesenian‐kesenian ini dengan mengingat keadaankeadaan rakyat yang terjajah. Sungguhpun ada dekadensinya sedikit, namun ada bedanya dengan dekadensi tersebut sub‐c dan d, berkat keuletan serta kemurnian yang ada pada kehidupan kebudayaan rakyat jelata. Keuletan dan kemurnian rakyat ini berisi kebenaran dan kejujuran, yakni dua hal yang disamping rasa seni adalah tulang‐punggung tiap‐tiap buah kesenian.

Walaupun kini masih dalam keadaam bersahaja (ketoprak), tetapi dalam udara kemerdekaan yang mulai kita kecap ini, mungkin sekali kesenian jelata (proletkult) itu akan berkembang menjadi seni yang 100% bernilai. Hal mana kah mungkin sama sekali kita harapkan dari kesenian “borjuis‐dekaden” seperti kesenian pelukis‐pelukis Dullah dan Basuki Abdullah.

Kesenian yang timbul dari keadaan sub‐e inilah satu‐satunya yang kita harapkan dari dalam keadaan pelarian. Dalam hubungan itu adalah jahat sekali, bahwa rakyat sudah mengalami penjajahan putih dan kuning, kini terjajah oleh sawo matang, hal mana sudah mulai Nampak dimata kita! Jahat sekali kalau ia suruh terus berlari!

Penutup

Tinggallah kini merembuk kemungkinan ketiga seperti saya sebut diatas. Tetapi membutuhkan satu tulisan tersendiri! Mudah‐mudahan akan timbul kepuasannya dalam majalah ini. Kepuasan itu hendaknya mengandung tinjauan tentang daya‐kreatif, baik mengenai kerakyatan maupun individual: contohcontoh misalnya tercermin dalam hasil‐hasil seni lukis dan seni sastra kita pada waktu ini. Kecuali kekuatan pribadi, maka salah satu dorongan terkuat bagi dayakreatif itu ialah kemerdekaan jiwa yang sudah disadarkan dan dilaksanakan oleh kaum pencipta tadi. Kalau hal itu sudah merata di kalangan rakyat, barulah benar benar kita menghadapi zaman gemilang! Dan dalam hal ini sudah ada beberapa pelukis angkatan muda yang memelopori bangsanya, meski belum nampak adanya penghargaan yang selayaknya terhadap mereka, baik dari pemerintahan maupun masyarakat umumnya.[]

ts1 - Penghidupan Seniman

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi