Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Dunia Bahagia Ni Wayan Kentel

Hujan kecil-kecil mulai turun ajeg menyiram pagi kampung gamelan di pinggiran Tihingan, Klungkung, Bali. Hari itu, Kamis pagi, akhir September 2013 lalu. Seorang perempuan perempuan sepuh, tengah membersihkan pura keluarga. Gerimis kecil dan tiupan angin yang dingin dari arah perbukitan tak menyegerakan kerjanya untuk usai. Sesekali dia menghisap rokoknya, sembari mencabut rumput di luar pelataran pura.

Ia seolah tidak terpengaruh oleh hiruk pikuk dunia Bali yang gemuruh kontes Ratu Sejagad. Ia begitu berdamai dengan dunianya: Tuhan, rokok, dan hujan.

***

Perempuan itu bernama Mak Sudharma, atau bernama sipil Ni Wayan Kentel. Perawakannya kecil, kulit keriput, dan rambut memutih, namun sisa-sisa kecantikan di masa mudanya masih membekas. Sorot matanya tajam namun penuh kasih, seperti  harapannya pada kasih Sang Hyang Widi bahwa hari esok, ia masih bisa bersendau gurau dengan anak, cucu dan kerabatnya.

Perempuan kelahiran Klungkung tahun 1935 ini adalah sosok ibu yang sempurna. Ibu yang berhasil menjalani beban ganda sebagai seorang ibu bagi anak-anaknya dan seorang pekerja bagi keluarganya. Ia adalah penopang ekonomi bersama dengan almarhum suami. [su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Abu al Zahrawi
Timurlenk
Halal dan Haram
Sang Pemula
Catatan Kaki dari Amuntai
[/su_box]

Ia bercerita, tanpa berolahraga, dirinya telah sehat dengan sendiri. Hampir setiap hari sedari muda, dirinya bekerja keras, berkeliling kampung menjajakan dagangan dan jasanya. Jasa pertanian dan perburuhan apa saja, akan dia ambil. Tidak jarang bersama suami berkeliling kecamatan membawa dagangan. Itu kerja keras mereka untuk menyambung hidup.

Sawahnya kecil. Hanya sebesar 4 are atau sekitar 40 meter persegi. Jumlah ini tentu sangat kecil untuk disebut sebagai sawah. Hanya lahan biasa. Tapi disitu ditanam harapan Wayan Kentel yang besar: besok ia bisa makan dengan sayur dan buah dari kebun sendiri!

Baca juga:  Membaca Etnografi

Ia dan suami selama hidupnya tidak mampu membeli tanah di banjarnya sendiri. Atau pun di sudut lain di Pulau Bali. Orang-orang Jakarta, orang Mancanegara, orang Denpasar, Politisi, dsb telah menjadikan tanah di kampungnya tak terjangkau. Paling murah per are, tanah dikampungnya mencapai 50 juta. Dan harga itu akan terus melambung, sejalan dengan potensi Bali sebagai hunian akhir pekan para orang kaya dan tujuan wisata orang sedunia. Ia semakin menjadi paria di banjarnya sendiri.

Ia menjelaskan, orangtuanya dan suaminya bukan seorang yang kaya. Hidupnya pas saja. Ia tidak mewarisi apa-apa dari orangtuanya, kecuali tanah kecil itu. Pun dengan sang suami, rumah sangat sederhana itulah harta mereka.

Tiga anaknya lahir di rumah mungil itu. Mereka, satu per satu, kini, telah berkeluarga dan mempunyai pekerjaan tetap. Ia bangga akan hal itu. Kini, ia menghuni rumah itu, dengan salah satu anaknya yang telah berkeluarga.

Hidupnya dari dulu ditopang dari buruh tani dan hasil dari sepetak tanah seluas 40 are itu. Namun demikianlah hidup, Ia arif menyikapi.

***

Apa resep panjang umurnya? Ni Wayan Kentel tidak pernah tahu dan memolakan khusus harus bagaimana dengan dirinya. Baginya menjalani hidup saja dengan senang berkumpul-kumpul dengan kerabat dan anak, menjadikannya tidak pernah susah. Ia merasa diawetkan umurnya ketika berkumpul dengan para muda dan cucu-cucunya.

Ia hanya menduga, kerja keras, adalah cara sang Hyang Widi memberinya resep  panjang umur. Sejak kecil dirinya telah bekerja keras membantu orangtua. Kalau tidak menjaga adik-adiknya, ia juga membantu ke sawah.

Baca juga:  Air Kebahagiaan

Ia ingat ketika dirinya kecil, sebagai anak pertama, selalu membantu ibunya mencari ubi dan bonggol pisang untuk dimakan. Tidak ada makanan lain selain bonggol pisang, talas dan ubi. Ibunya akan mencacah bonggol pisang kecil-kecil, dicuci bersih dengan campuran garam, lalu dimasaknya sebagai ganti beras. Kalau beruntung, talas dan ubi akan mengganjal perut mereka. Bala tentara Jepang telah membawa semua hasil panen orangtuanya. Beras, lembu dan ternak lain juga dibawa Jepang. Sepanjang hari ia menangis, dan berhari-hari perutnya diisi makanan seadanya.

Sang Bapak, kenang Wayan Kentel, juga diperlakukan semena-mena oleh Jepang. Dia ditangkap Jepang untuk kerja paksa. Dia dipaksa membangun jalan di Bali.

Ia mengatakan, Bali terlalu kaya tanahnya. Apa saja bisa dimakan di tanah ini. Tidak ada yang mati kelaparan di jaman Jepang. Lapar, lapar saja, tidak sampai mati. Mati itu hanya karena ditembak Jepang katanya.

Kini, soal makanan, di hari tua Wayan Kentel, ia menjalani sebagai orang Bali kebanyakan. Makan ubi, nasi dengan sayur batang pisang, bunga pepaya, parutan kelapa, kuah rempah dan sebagainya. Kegemarannya adalah makanan berbasis sayur dan ikan. Ia tidak bisa lepas dari sayuran.

Hidupnya tidak pernah lepas dari kerja keras. Ketika memutuskan menikah. Ia juga harus bekerja keras. Uang hasil kerja sang suami tidak menentu dan selalu kurang untuk kebutuhan keluarga mereka. Ia pun harus bekerja sebagai buruh tani dan buruh apapun yang diperlukan.

Ia mengenang, ia harus pintar berbagi untuk anak-anaknya dan mencari uang tambahan. Kala itu, sang suami harus sering merantau keluar kampung untuk selalu mendapatkan pekerjaan. Kerja keras apapun telah ia jalani. Tapi ia baik-baik saja. Itulah hidup, jalani saja, katanya. [su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″]

Baca juga:  Story of Z
Biola Berdawai
Bencana Alam Perdana
Budak, Perempuan, Non-Muslim
Buku, Manuskrip, Unta
Al Razi
[/su_box]

Pada senja kini, dirinya masih bekerja seadanya seperti dulu kala. Namun tidak harus sekeras dulu. Dia sudah tidak membutuhkan biaya banyak untuk dirinya ataupun keluarganya. Dia kini hanya butuh bekerja. Anak-anaknya, meski tidak banyak, telah banyak menolong hidupnya.

Ia bersyukur, Sang Hyang Widi mengkarunia tubuh sehat padanya. Pun begitu pada paru-parunya, ribuan rokok kegemarannya telah lama ia hisap. Hanya rokok yang mampu mendampinginya dengan setia di kala kerja keras, susah dan senang. Terdengar berlebihan, tapi itu kenyataan yang dialaminya. Sudah lama sekali dia berkawan dengan rokok. Ia ingat telah merokok sejak umur 15 tahun, sebelum menikah namun sudah bekerja. Sampai kini, Ia masih sehat, dengan kebiasaannya yang dikatakan orang buruk itu.

Untuk kegemarannya, yang dikatakan orang buruk itu, ia bisa menghabiskan tembakau dan cengkih satu plastik kecil. Ia sebut rokoknya sebagai rokok plenter, bikinan sendiri. Lebih dari satu ons lebih untuk konsumsinya dalam seminggu. Ia tidak suka rokok bikinan pabrik, baginya tidak terasa enak, dan kurang berat.  Baginya merokok itu membikin dirinya tambah sehat, karena bisa selalu kumpul dengan orang lain, kawan-kawan dan keluarga sambil. Rokok menjadi semacam alat sosial baginya.

Ia menjelaskan, dirinya tidak kaya, tapi saya sehat, dan berkumpul dengan anak-anak, itu sudah cukup baginya. Melihat sang anak dan cucu bertumbuh kembang, adalah kebahagiaannya. Tidak pernah dirinya menyesal, lahir sebagai Ni Wayan Kentel. []bali - Tuhan, Rokok, dan Hujan

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi