Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Tentang Usmar Ismail

TANGGAL 30 Maret 1950 adalah syuting pertama film Perfini berjudul “Darah dan Doa” di Subang, daerah Purwakarta, Jawa Barat. Sutradara film itu ialah Usmar Ismail yang meninggal dunia pada 2 Januari 1971. Usianya belum mencapai 50 tahun.

Pada 1935-1939, Usmar Ismail menjadi pelajar MULO (SMP) Padang. Saat itu, dia pecandu film, gemar menonton di bioskop Cinema, Pondok, Padang. Tahun 1938 sebuah film Hollywood yang digemari oleh penonton ialah “Three Smart Girls”, produksi Universal Studios, dibintangi oleh aktris remaja dan penyanyi Deanna Durbin. Film ini berkisah ihwal tiga gadis dalam suka duka kehidupan mereka. Daya tariknya terletak pada nyanyian yang diperdendangkan oleh suara emas Deanna Durbin. Bukan mustahil Usmar Islamil secara langsung atau tak langsung kena pengaruh film “Three Smart Girls”, sehingga dia membuat film berjudul “Tiga Dara” pada 1956, di mana ketiga gadis yang berperan di situ memang tampil sebagai smart girls atau gadis-gadis gesit.

Usmar Ismail membuat film “Tiga Dara” karena sejalan dengan sifat tabiatnya. Dia bukanlah seorang ekstrimis. Dia tidak suka sikap radikal-radikalan. Usmar Ismail menjaga keseimbangannya dan menginginkan harmoni. Sedari masa remaja religiositasnya mendalam. Ayahnya seorang guru sekolah dasar HIS dan pengarang buku Bidang Minangkabau dan ibunya menginginkan agar Usmar kelak bersekolah di Kairo, belajar agama, menjadi ulama, tapi hasrat itu tidak kesampaian. Sebagai gantinya, Usmar mendapat pendidikan Barat, di sekolah HIS Batusangkar, di sekolah MULO Padang dan di Algemene Middelbare School (AMS-A) jurusan Klasik Barat di Yogyakarta.

Di awal revolusi, Usmar Ismail bersama keluarganya mengungsi ke Yogyakarta pada akhir 1945. Dia bergabung dengan Kolonel Zulkifli Lubis dan menjadi Mayor TNI bagian intel. Dia mendirikan majalah Tentara dan kemudian mingguan Patriot. Sebelum pecah aksi militer Belanda kedua, Usmar telah meninggalkan Yogyakarta, kembali ke Jakarta untuk bergabung dengan isteri dan anaknya.

Baca juga:  Lelaki yang Memegang Ekor Naga

Pada suatu malam, rumah Usmar di Pegangsaan Barat digedor oleh Polisi Belanda yang dipimpin oleh Komisaris Polisi Yassin. Usmar akhirnya dijebloskan oleh Yassin ke penjara Cipinang. Di sana, Usmar mendekam beberapa bulan lamanya. Menurut kesaksian wartawan senior yang juga ipar Usmar Ismail, Rosihan Anwar, bahwa Ida Rosihan–isteri dari Rosihan Anwar–kadang-kadang ditemani oleh Penyair Chairil Anwar, naik kereta api listrik stasiun Pegangsaan, menuju ke Jatinegara membawa rantang makanan bagi Usmar. Dia tidak pernah diperiksa di depan sidang pengadilan. Usmar dibebaskan begitu saja.

Setelah keluar dari hotel prodeo, Usmar diajak oleh Andjar Asmara membantunya dalam produksi film di studio Jatinegara untuk “South Pasific Film Corporation”, yaitu “Gadis Desa”. Usmar jadi asisten sutradara, juru kamera seorang Indo Belanda bernama Denninghof, asisten kameramen Max Tera. Selanjutnya, Usmar menyutradarai dua film, di mana Denninghof sebagai produser memegang peran dominan. Itulah sebabnya kemudian Usmar menulis, “Tetapi saya tak dapat mengatakan bahwa kedua film itu adalah film saya, karena pada waktu penulisan dan pembuatannya, saya banyak sekali harus menerima petunjuk-petunjuk yang tidak selalu saya setujui dari fihak produser.” Lalu apakah film Usmar Ismail yang pertama?

Pasca penyerahan kedaulatan, Usmar melakukan persiapan mendirikan sebuah perusahaan film. Dia menerangkan kepada Menteri Penerangan saat itu, Mr. Syamsuddin, bahwa dia tidak mau menjadi pegawai pemerintah, tetapi bila diizinkan oleh pemerintah, dia ingin mempergunakan alat-alat bekas studio Multifilm. Pada 30 Maret 1950, setelah mendirikan perusahaan NV Perfini di depan notaris, rombongan Usmar Ismail dengan kendaraan oplet rongsokan dan membawa kamera Akeley yang telah uzur, menuju ke Subang untuk melaksanakan syuting film “Darah dan Doa”.

Baca juga:  "Batas yang Tertutup dan yang Terurai"

Muslim sebagai umat pertengahan (umat wasatan) atau middle nation yang mengusahakan jalan tengah atau keseimbangan antara lahir dan batin, dunia dan akhirat, mempengaruhi jiwa Usmar. Karena itu dia tidak ekstrem dalam pendiriannya. Rasa ketuhanan dan cinta agama merupakan pendirian Usmar yang diutarakannya dalam kumpulan sajaknya Puntung Berasap yang diterbitkan oleh Balai Pustaka.

Usmar Ismail bersama abangnya Dr. Abu Hanifah dan wartawan Rosihan Anwar mendirikan sandiwara amatir “Maya” yang sejak 1944 hingga 1945 secara teratur mementaskan lakon sandiwara di Gedung Kesenian, Pasar Baru, Jakarta. “Maya” mulai tampil dengan menggelar lakon “Taufan di Atas Asia” karangan El-Hakim (Dr. Abu Hanifah), pasca itu menyusul lakon-lakon yang digubah oleh Usmar sendiri seperti “Liburan Seniman”, “Api”, juga lakon saduran dari pujangga Norwegia, Henrik Ibsen “Little Ayolf”.

Perhatiannya terhadap seni peran dan dunia teater tidak pernah kendor. Karena itu, di samping mengoperasikan studio filmnya Perfini, Usmar aktif sebagai pendiri Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI), tempat melatih para pemain sehingga menjadi profesional. Aktor Soekarno M. Noor almarhum adalah alumnus ATNI, begitu juga dengan mendiang Steve Liem alias Teguh Karya.

Pada 1952, Usmar berangkat ke Amerika untuk belajar sinematografi di UCLA, Los Angeles dengan beasiswa Rockefeller Foundation. Sekembalinya dari sana, dia merintis jalan ke arah membangun studio film sendiri. Dengan studio Perfini, tokoh pendiri Lesbumi-Nahdlatul Ulama ini melaksanakan kaderisasi di bidang artis pemeran maupun di bidang karyawan teknis. Di studio Perfini, dia membibit para penulis skenario, sutradara, aktor dan aktris, juru kamera, penata artistik, penata suara dan sebagainya. Sebutlah nama orang-orang film yang aktif pada periode 1970-an dan 1980-an, seperti Nya Abas Akub, Misbach Yusa Biran, Janis Badar, Sumarjono, M.D. Alif, Fritz Schadt dan lain-lain. Mereka semua pernah mempunyai asosiasi dekat dengan Usmar Ismail dan Perfini.

Baca juga:  Bumi Manusia

Dalam hidupnya yang tak sampai genap setengah abad–lahir di Bukittinggi 20 Maret 1921, meninggal dunia di Jakarta 2 Januari 1971–selain memimpin Perfini, Usmar pernah memegang pelbagai posisi lain. Ia direktur Bank Kemakmuran, Jakarta (1956-1960), Direktur Utama Travel Bureau Triple T (1950-1970), General Manager Miraca Sky Club. Usmar Ismail anggota Pengurus Besar Partai Nahdlatul Ulama (1964-1969). Dia juga anggota DPR-GR periode 1966-1969. Pada 1969 Usmar menerima Anugerah Seni dari pemerintah RI. Dia diangkat sebagai Warga Kehormatan DKI Jakarta dengan SK Gubernur Ali Sadikin.

Arkian, dia dikenal dan terkenal sebagai insan film. Dalam “Apa dan Siapa” yang diterbitkan oleh majalah Tempo, diuraikan hal ihwal Usmar Ismail: “Dia mencoba menjadikan film sebagai media ekspresi kesenian dan berhasil meletakkan dasar-dasar film nasional sehingga dianggap sebagai Bapak Perfilman Indonesia. Namanya diabadikan pada Pusat Perfilman di Kuningan, Jakarta.[]

Usmar Ismai1l - Sang Maestro Film

Usmar Ismail, Sang Maestro Film

 

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi