Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Tentang Van den Brand dan perbudakan yang dialami ribuan kuli kontrak asal Jawa

VAN DEN BRAND adalah tokoh pembela kaum pribumi di masa kolonial Belanda. Namanya masih kalah populer dibanding Multatuli (Douwes Dekkker) dan Van de Venter. Namun sejarah mencatat bahwa di awal abad ke-20, Van den Brand pernah menggegerkan pemerintahan Belanda melalui tulisannya yang mengungkap perlakuan tak manusiawi para pengusaha perkebunan tembakau di Deli terhadap para kuli kontraknya. Tulisan ini dikemas dalam sebuah brosur berjudul “Millioenen uit Deli (Berjuta-juta dari Deli)“.

Lebih dari seabad silam, saat industri perkebunan tembakau mencapai puncak kejayaannya di tanah Deli, Van den Brand dikenal sebagai penentang sengit poenale sanctie (aturan hukum bagi kuli-kuli yang bekerja di perkebunan) yang diterapkan pemerintahan kolonial Belanda di wilayah itu. Jejak idealisme sang advokat itu terbaca dalam brosur yang ditulisnya, Millioenen uit Deli, terbit di Amsterdam, Belanda, paruh akhir 1902.

Millioenen uit Deli memang membuat heboh karena mengurai derita dan skandal perbudakan yang dialami ribuan kuli kontrak asal Jawa yang bekerja di perkebunan tembakau milik swasta Belanda di Deli. Tak banyak diketahui publik Belanda perihal Deli masa itu, kecuali sebagai pemasok tembakau pembungkus cerutu terbaik di dunia.

Parade kekerasan adalah potret sehari-hari di perkebunan. Millioenen uit Deli mencatat, tuan kebun sesuka hati menghukum kuli yang dianggap bersalah. Kuli dipukuli, ditendang, dicambuk, dihantam rotan dan balok hingga kemudian dijebloskan ke penjara. Seorang kuli perempuan Jawa berusia 15 tahun dijemur sejak pagi hingga senja dalam keadaan setengah telanjang. Kedua tangannya terikat di tiang, disalib seperti Kristus. Sekujur badannya penuh luka tanda bahwa lebih dulu dicambuk. Untuk membuatnya lebih menderita, kemaluannya ditaburi merica!

Baca juga:  Penisik Sepi

Kebanyakan kuli yang bekerja di Deli adalah korban penipuan. Modusnya, para tuan kebun menyebarkan werek (calo) ke desa-desa di Pulau Jawa yang dilanda paceklik dan kelaparan. Werek mengembuskan angin surga ihwal tanah Deli yang indah dan banyak emas murah. Tentu banyak yang tergoda lalu meneken kontrak yang disodorkan.

Kerja werek dukung biro emigrasi (semacam kantor pengerah jasa tenaga kerja) yang tersebar di kota-kota besar di Jawa. Mereka memberi uang kepada werek dan membuat iklan mencari tenaga kerja di media massa. Van den Brand menyebut biro itu “toko tempat membeli kuli”. Kuli-kuli yang diperoleh selanjutnya diangkut dengan kapal. Selama berlayar, mereka ditempatkan bersama peti-peti berisi kopi, kopra, dan dijejal bersama kuda dan sapi Bali.

Derita kuli kian lengkap karena mereka tinggal di pondok-pondok yang tidak laik huni. Kuli yang sakit tidak diobati dengan baik karena dokter dan rumah sakit tidak memadai. Areal pemakaman juga tidak tersedia. Kuli yang meninggal, tulis Van den Brand, dikubur di liang dangkal tanpa diiriingi doa dan upacara adat dan agama kuli bersangkutan. Saat malam tiba, babi liar datang karena hidungnya mencium bau bangkai. Binatang itu kemudian menggali tanah, menemukan mayatnya, lalu memakannya.

Brosur itu memuat pula kemunduran moral masyarakat Eropa yang tinggal di Deli. Mereka jauh dari kehidupan gereja, tulis Van den Brand. Di Deli, mereka tidak merayakan Hari Kebangkitan atau Pantekosta. Daripada membangun sebuah gereja, para tuan kebun lebih suka menghamburkan uang dalam pesta-pesta.

Bergaul dengan pejabat kolonial yang bertugas di Deli, tuan-tuan kebun terbiasa pula menyuap mereka. Akibatnya, bertumpuk kasus kekerasan yang dilakukan tuan kebun tidak ada yang diusut. Tidak ada satu persen kasus-kasus kekerasan yang dilakukan orang Eropa terhadap kuli-kuli sampai ke pengadilan, demikian ungkap Van den Brand.

Baca juga:  Air Kebahagiaan

Millioenen uit Deli juga mencatat praktik pelacuran, perjudian, dan madat sengaja dibiarkan tumbuh subur di perkebunan. Tujuannya, membuat kuli-kuli terus hidup melarat. Van den Brand mengurai, upah yang diterima kuli setiap tengah dan akhir bulan dibiarkan tersedot ke meja judi, bilik pelacuran, dan rumah candu agar hidup mereka selalu terjerat utang. Pada akhirnya, kuli-kuli tidak akan berdaya, kembali meneken surat kontrak kerja berikutnya–untuk tiga tahun lamanya.

Kuli perempuan sengaja diupah rendah agar mereka terus hidup melarat. Bertahun-tahun pun bekerja mereka tak akan pernah mampu membeli sehelai sarung. Kalau ingin membeli, mereka menjadi pelacur bagi kuli-kuli pria asal China. Itu pun, sehelai sarung hanya bisa diperoleh setelah berkencan dengan duapuluh kuli pria!

Semua derita yang dialami kuli disebabkan kebijakan poenale sanctie–biasa juga disebut ‘kuli ordonansi’, terbit berdasarkan keputusan Gubernur Jenderal pada 13 Juli 1889 (Staatsblad no 138). Millioenen uit Deli menegaskan, poenale sanctie tidak boleh dipertahankan karena aturan itu melegalkan terjadinya perbudakan; mengakibatkan rusaknya hubungan saling menghargai sesama manusia; tidak menjunjung perasaan moral dan budi; serta sangat bertentangan dengan ajaran agama.

Isu skandal perbudakan yang diangkat brosur itu tak pelak masuk ke wilayah politik. Majelis Rendah Belanda (Tweede Kamer) membahas brosur tersebut dalam sidang-sidangnya. Kubu oposisi menjadikan isu kekerasan yang dialami kuli untuk menekan pemerintah. Hubungan luar negeri Belanda dengan negara tetangganya turut terganggu. Pemerintah Inggris, misalnya, mengancam memutus hubungan dengan Belanda bila skandal yang diungkap Van den Brand itu benar adanya.

Seperti brosurnya, Van den Brand juga  menjadi sorotan. Sorotan itu lebih berupa kecaman. Pers borjuis, tuan kebun, dan pejabat Belanda pendukung poenale sanctie melancarkan serangan kepadanya. Mereka menuding Millioenen uit Deli hanya kebohongan dan fitnah. Van den Brand, sang penulis, dinilai tidak patriotik, hanya mencari popularitas dan dianggap melawan kebijakan pemerintah Belanda.

Baca juga:  Tjamboek Berdoeri

Meski mendapat tantangan dan tekanan, Van den Brand tidak hilang nyali. Bahkan, tak ingin membiarkan besi panas menjadi dingin, dia menulis Nogs Een: Millioenen uit Deli (Sekali lagi: Berjuta-juta dari Deli; 1903). Pada brosur kedua itu, Van den Brand menyerang balik para pengusaha dan pejabat Belanda yang mengecamnya.

Arkian, brosur-brosur yang ditulis Van den Brand melahirkan sejumlah perubahan. Menteri Idenburg yang berada di Den Haag memerintahkan Jaksa Tinggi JTL Rhemrev di Batavia (Jakarta) menyelidiki tudingan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Deli sebagaimana diungkap Van den Brand. Kantor inspeksi perburuhan dan pengadilan (raad van justitie) kemudian didirikan pula di Medan.

Meraih gelar meester in de rechten (Mr)–gelar lama sarjana hukum–dari Universiteit van Amsterdam, Van den Brand pernah merantau ke Semarang, bekerja sebagai advokat. Kedatangannya ke Medan menyahuti ajakan J Hallerman, seorang Jerman yang memintanya menjadi redaktur di koran Sumatera-Post (terbit 1898) yang terbit untuk mengimbangi pengaruh Deli Courant yang dikenal koran corong tuan kebun.

Belakangan, Van den Brand keluar dari Sumatera-Post, kemudian menjadi advokat. Pengalaman melihat langsung derita kuli-kuli di perkebunan, dia tuangkan dalam Millioenen uit Deli. Pada 17 Mei 1921, Van den Brand diangkat menjadi anggota Volksraad, mewakili kelompok buruh. Duduk di lembaga itu tak membuatnya terlena. Notulen pidatonya di Volksraad menunjukkan itu. Van den Brand wafat pada 5 Desember 1921 di Buitenzorg (Bogor) karena sakit.[]

coverkulikontrak - Kuli Kontrak

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi