Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Seri Cerita Pendek Historead

Tentu saja Widodo mencintai istrinya. Cantik, kaya dan keturunan orang terpandang. Apalagi istrinya memiliki watak menurut, manut. Dan sungguhlah beruntung dan bahagianya Widodo, memiliki istri begitu setia dan mencintainya.

Istrinya tak pernah menuntut macam-macam. Istrinya tak pernah mengeluh. Menerima fisiknya yang mulai tua. Menerima jenis pekerjaannya yang tidak halus. Menerima hasil pekerjaannya yang tidaklah seberapa. Terutama menerima tidurnya yang berisik dan jorok.

Namun perubahan adalah abadi. Hati orang siapa tahu. Istrinya yang selama ini telah memberikan lima anak, tak pernah meminta apapun, suatu ketika meminta sesuatu yang sulit padanya. Istrinya memintanya marah.

“Marah pak”. Widodo diam. Tak mengerti. Ada apa sebenarnya.

“Marahlah pak”. Widodo memandang mata, bibir istrinya. Mengecup keningnya.

“Marah-marahlah pak”. Karena sudah tiga kali, Widodo bertanya;

“Kamu ini menyuruhku untuk marah, ada apa sebenarnya?”

“Ya pokoknya harus marah”

“Marah kan ada sebabnya. Pada siapa aku harus marah, kenapa aku harus marah?”

“Ah sampeyan pura-pura tidak tahu apa yang seharusnya sampeyan marahin pak?”

“Aku memang tidak tahu bu, kasih tahu aku”

Lalu istrinya menerangkan.

“Itu anakmu paling kecil, sekarang tak mau sholat jum’at ke masjid”.

Widodo diam. Berusaha memahami. Apa mesti dimarahi kalau anaknya paling kecil tak mau sholat jum’at ke masjid? Widodo belum percaya istrinya menyuruh marah hanya soal itu.

“Kenapa si Haris tidak mau sholat jum’at di masjid? Memang sudah berapa kali?”

“Lhoh, sampeyan sebagai bapaknya kok tidak tahu.”

Marah benar ternyata istrinya. Widodo baru sadar kalau istrinya marah, selain semakin cantik, entah mengapa Widodo merasa ketakutan. Lebih tepatnya takut kehilangan.

“Ya sudah, nanti aku tanya sama Haris, mengapa dia tak mau sholat jum’at.”

Rona wajah istrinya tidak marah lagi.

“Sudah dua kali jum’atan Haris tidak datang ke masjid”

Widodo sebenarnya ingin bertanya dan bicara lagi. Namun istrinya keburu pergi mencari Haris dengan memanggil-manggilnya. Namun Haris sudah pergi bermain bola di lapangan.

Namun begitulah manusia. Sering lupa. Ketika Haris pulang, Widodo lupa menanyakan, istrinya juga lupa mengingatkan. Dan lupa itu enak. Widodo sibuk dengan pekerjaan. Istrinya sibuk dengan urusan dapur dan arisan. Istrinya kemudian mengingatkan selepas malam cinta.

Baca juga:  Menyantap Sejarah di Era Virtual

“Sudah tanya sama Haris, pak?”

“Eh, aku lupa”

“Huh”

“Ya besok aku tanyakan padanya”.

“Besok itu hari jum’at pak”.

Tapi besok paginya Widodo tak berani bertanya pada anaknya. Ketika anaknya sarapan, Widodo tambahi lauk pauknya dengan jatah ikannya. Ketika mau berangkat, Widodo sisir kembali rambutnya, dirapikan pakaian dan sepatu, seraya berkata;

“Belajar yang rajin ya nak”.

Anak itu berangkat sekolah seperti biasanya. Widodo tak tega menanyakan ketidakmauanya sholat jum’at dua kali berturut-turut. Widodo tak ingin membebani pikiran anak yang mau ke sekolah.

Selepas pulang sekolah, setibanya di rumah, sembari makan bersama, Widodo mulai mempertimbangkan untuk bicara padanya. Namun sedetik kesadarannya muncul, tentu lebih baik diselesaikan dulu makan dan minumnya. Dan baru setelah minum, Widodo mulai bicara;

“Haris, nanti berangkat sholat jum’at bareng ya”.

Anak itu tidak segera menjawab. Dipandangnya sebentar wajah bapaknya. Widodo pun menunggu. Istrinya datang. Lalu bicaralah Haris;

“Kan anak kecil tak boleh ke masjid sebelum disunat pak” Haris berkata padat.

“Kata siapa anak kecil belum disunat tidak boleh ke masjid nak?” tanya Widodo keheranan.

“Kata pak kaji Yusuf. Itu didengar anakmu waktu dia membacakan khotbah jum’at. Katanya, anak kecil yang belum disunat, orang tua diharapkan jangan mengajaknya sholat lima waktu dan sholat jum’at di masjid”. Istrinya memberikan penjelasan.

“Ah, masak kaji Yusuf bilang begitu? Alasanya apa?” Widodo bertanya pada istrinya.

Haris diam. Istrinya yang menjelaskan kemudian;

“Itu benar pak, tanya Haris kalau tidak percaya.”

Haris masih diam. Istrinya yang kemudian menguraikan;

“Katanya pak kaji Yusuf, anak belum disunat itu belum akil balig, masih membawa najis, karena habis kencing tidak bisa disiram bersih kemaluanya seperti orang yang sudah sunat.”

Haris masih diam. Widodo menyimak. Istrinya melanjutkan bicara;

“Katanya, anak-anak itu seringnya tidak sholat waktunya sholat, mereka malah bermain. Itu jelas mengganggu orang sholat. Candanya, ketawanya, tangisnya bikin gaduh. Belum lagi yang berlari-lari di depan orang sholat, ada pula yang menabrak orang sholat. Anaknya nangis minta pulang, anaknya tiba-tiba merangkul dari belakang minta gendong ketika kita berdiri setelah dua sujud, anaknya tiba-tiba minta dipangku ketika kita duduk di antara dua sujud.”

Baca juga:  Kala Mas Joko Rajin Ke Masjid

Adzan terdengar pertanda dimulainya ritual sholat jum’at. Widodo mengambil keputusan;

“Ah, barangkali itu hanya himbauan. Haris berangkat jum’atan sama bapak ya. Nanti sholatnya bareng sama bapak saja”.

Haris mengangguk. Istrinya masih meneruskan sementara Widodo sudah di kamar mandi;

“Pak kaji mengutip kalimat Arab pak, entah itu ayat, hadis atau pendapat ulama, aku kurang tahu, Haris sendiri tentu tak mengerti”.

Kebetulan yang khotbah jum’at kaji Yusuf, menggantikan kaji Suleman yang masih di rumah sakit. Khotbah jum’at yang dibacakan kaji Yusuf membuat Widodo tidak tertidur. Selama Widodo jum’atan baru sekarang dia mendengarkan keterangan agar orang tua tak usah mengajak anaknya ikut sholat jama’ah dan sholat jum’at di masjid.

“….Masjid itu tempat suci, kita ke masjid sholat itu untuk Allah bukan untuk momong anak….”.

Anaknya duduk di sebelahnya gelisah, mukanya menunduk. Sementara para jamaah jum’at ternyata tenang saja. Sedikit yang menyimak, banyak yang tidur, tak ada yang ngedumel.

Malamnya Widodo datang ke rumah pak modin, sesepuh desa, tokoh agama yang dijadikan panutan ketika Widodo mendapatkan masalah untuk mendapatkan jawaban atau solusi.

“Itu kan hanya himbauan. Bukan kewajiban. Biarkanlah pak kaji Yusuf memberikan pendapatnya. Asal tak memaksa, tak usah kau turuti kata istrimu untuk marah-marah. Kalau kau tak setuju pendapatnya kan boleh saja. Ajak saja anakmu sholat jama’ah dan sholat jum’at di masjid. Aku sendiri berbeda pendapat dengan pak kaji Yusuf. Mendidik anak sejak kecil tentang kebaikan dan agama itu penting. Masjid harusnya jadi tempat mendidik yang baik.”

“Ya pak”. Widodo menyimak.

“Tapi tak usah kau mendebat secara terbuka pada pak kaji Yusuf. Kita orang desa. Pak kaji Yusuf itu lama belajar di kota, lama di luar negeri, di timur tengah. Toh anak-anak masih sholat jama’ah dan sholat jum’at di masjid. Para orang tua juga masih banyak yang mengajak anaknya. Jadi dengan jalan itulah kita mengungkapkan perbedaan pendapat dengan pak kaji Yusuf. Tapi kita harus memberi kesempatan pada pak kaji Yusuf mengeluarkan ilmu yang didapat, siapa tahu nanti ada yang bermanfaat bagi kita semua”.

Baca juga:  Raja atas Diri Sendiri

Memang begitulah. Hanya dua kali khotbah pak kaji Yusuf menghimbau orang tua tidak mengajak anak-anaknya untuk sholat jama’ah dan sholat jum’at di masjid. Satu kali Widodo mendengar ceritanya, satu kali mendengar langsung dari khotbahnya. Namun anak-anak dan orang tua tetap sholat jama’ah dan sholat jum’at ke masjid. Anaknya hanya dua kali jum’atan tak mau ke masjid. Setelah itu anaknya kembali sholat jum’atan ke masjid.

Istrinya tidak menyuruhnya marah-marah lagi. Widodo belajar memberi kesempatan pak kaji Yusuf hidup di desa kembali setelah sekian puluhan tahun merantau. Dalam renunganya, toh pak kaji Yusuf sudah punya istri dan punya anak. Tak mungkin lagi bersaing dengan dirinya untuk mendapatkan perempuan bernama Megawangi, yang sekarang jadi istrinya.

Widodo jadi teringat masa lalu, cerita tentang dirinya, Megawangi dan Yusuf yang sekarang sudah haji. Yusuf mencintai istrinya meski istrinya tidak mencitainya. Yusuf pernah melamar istrinya. Tak peduli dimarahi orang tuanya, istrinya menolak lamaran dan mendekati Widodo.

Ketika masih kecil, masjid itu menjadi saksi Widodo dan istrinya pertama kali bertemu, bermain, belajar ngaji dan sholat. Dan masjid itu menjadi saksi ketika mereka yang muda, setiap malam bulan ramadhan, berangkat dan pulang sholat taraweh, berjalan bersama. Begitu indahnya saat cahaya bulan menerangi. Cinta bersemi.

Malam tiba, sebelum nyanyian cinta, istrinya berkata;

“Masjid itu tempat sujud dan bukti cinta kepada Allah, bukan alasan untuk marah ya pak”.

Widodo diam. Tak tahu. Atau tak mau tahu. Widodo hanya tak ingin marah. Masjid tidak salah. Anak-anak bermain tidak salah. Widodo ingin berdamai dengan masa lalu. Dipandangi rona istrinya. Dan tersenyum. [] Temanggung, Agustus 2016

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi