Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Tentang George Birnie

Ada sebuah kota di Jawa Timur yang narasi sejarahnya dimulai pada masa perkebunan Hindia Belanda. Bila dari Surabaya, ia masih berjarak 199 kilometer ke arah timur. Secara administratif, kota ini berbatasan dengan Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Probolinggo di sebelah utara, Kabupaten Lumajang di sebelah barat, Kabupaten Banyuwangi di sebelah timur, dan di sebelah selatan dibatasi oleh Samudera Indonesia.

Iya benar, saya sedang bicara tentang Jember.

Selain dikaitkan dengan tembakau, ada satu nama yang selalu disebut berulang-ulang bila kita membaca sejarah Jember masa perkebunan. Dialah George Birnie. Situs resmi milik Pemda Kabupaten Jember menyebutnya sebagai ‘Bapak Jember modern.’ Meskipun demikian, namanya hanya muncul di narasi-narasi sejarah saja. Tak ada hasil karya yang sengaja dibangun untuk mengawetkan ingatan tentang dirinya. Tak ada nama jalan yang menyematkan namanya, tak ada nama gedung, tak ada satu pun monumen tentang Birnie.

Di Jember, orang kadang tak bisa membedakan mana yang George Birnie mana pula yang Gerhard David Birnie. Hingga ada saja kisah lisan yang menuturkan bahwa nama Jember diambilkan dari nama sepasang suami istri, Djemilah – Birnie. Djembir. Karena ada yang mengeja namanya sebagai Bernie, maka cocoklah otak-atik gathuk tersebut sebagai Djember, Djemilah-Bernie. Padahal lelaki yang menikahi Djemilah adalah Gerhard David Birnie, sepupu dari George Birnie.

Siapakah George Birnie?

George Birnie dilahirkan di Deventer pada 28 April 1831, enam bulan setelah Belgia mendeklarasikan kemerdekaannya dari Belanda. Sedangkan di Jawa baru saja diberlakukan Cultuurstelsel.

Sewaktu Birnie lahir, Ayahnya masih menjelang 28 tahun, Johan Willem Birnie namanya, seorang lelaki Belanda yang tumbuh dengan tradisi Skotlandia. Ia tentu bahagia ketika istrinya yang dua tahun lebih tua darinya, Maria Louiza van Schuppen, melahirkan bayi lelaki yang sehat. Namun sayang, saat George Birnie masih berusia 6 tahun, perempuan kelahiran Utrecht itu meninggal dunia. Ia tak sempat melihat putranya bertumbuh besar.

Sebagai pemilik pabrik karpet di Deventer, Johan Willem Birnie memikirkan pula pendidikan bagi putranya. Kelak sebelum memutuskan pergi ke Hindia Belanda sebagai Inspektur Layanan Sipil Hindia, George Birnie menempuh pendidikan di Dewan Akademi di Delft, dengan tujuan berkarier di Hindia Belanda.

Birnie masih berusia 17 tahun ketika Ayahnya meninggal dunia. Empat tahun kemudian, Birnie berangkat ke tanah Jawa. Dia sepertinya tak tertarik untuk melanjutkan usaha keluarga.

Di salah satu catatan cicitnya, Alfred Birney, dapat saya jumpai bahwa George Birnie berlayar menuju tanah Hindia di tahun 1852. “…Untuk menjawab pertanyaan tentang bagaimana Rabina berakhir di lingkaran Eropa, saya harus kembali ke 12 Oktober 1852, ketika kakek buyut saya George Birnie berlayar menuju Hindia Belanda, melalui Tanjung Harapan.”

Ketika itu terusan Suez masih belum dibuka. Perjalanan laut dari Belanda ke Hindia masih melewati Tanjung Harapan di selatan Afrika. Sering terjadi, orang Belanda yang telah datang ke tanah Hindia Belanda tidak bersedia lagi untuk kembali ke tanah leluhurnya di Eropa. Mereka belajar bahasa Melayu, mempelajari kebiasaan setempat, hingga menikah pun dengan penduduk setempat. Kiranya, pernikahan antara George Birnie dengan Rabina ada di situasi seperti itu.

Birnie dan Jember.

Kali pertama di Jember, George Birnie bekerja sebagai pegawai negeri Belanda di tanah jajahan. Jabatannya adalah controleur untuk administrasi internal.

Karier George Birnie terbilang bagus. Ia lekas naik jabatan, hingga menjadi inspektur. Namun karena sesuatu hal yang prinsipil, George Birnie mengundurkan diri dan meninggalkan dinas pemerintahan untuk bekerja demi kepentingannya sendiri.

Baca juga:  Identitas-identitas Budaya dan Feminisme

Pengalamannya sebagai inspektur di Jember menyebabkan George Birnie mengenal wilayah ini terkait kualitas tanah, air, dan udaranya. Ia telah banyak berkunjung ke perkebunan milik pemerintah. Banyak berjumpa dengan orang-orang dan telah mengerti bahwa penduduk Jember hingga Besuki pandai sekali merawat tembakau bertangkai. Birnie melihat Jember sebagai wilayah yang jarang populasi, dengan hamparan tanah yang masih jarang ditanami. Ia berencana mencoba menanam tembakau Na Oogst untuk bahan cerutu.

Bersama dua rekannya, Mr. C. Sandenberg Matthiesen dan van Gennep, George Birnie mulai merintis usahanya.

Pada 21 Oktober 1859, usaha George Birnie dan dua rekannya disahkan dengan nama NV. Landbouw Maatsccappij Oud Djember atau sering disingkat LMOD.

Pertama-tama ia memilih ladang kering, lalu bersama penduduk pemilik ladang tersebut, ia menganjurkan penanaman tembakau Na Oogst. Setelah masa tanam, ladang diperiksa dengan saksama dari bulan Juli hingga Oktober. Kontrol dilakukan agar terhindar dari pencemaran, kerusakan oleh ulat atau oleh manusia. Memasuki Oktober, Jember sering mengalami hujan. Biasanya itu adalah bulan untuk panen tembakau. Pada bulan-bulan lainnya, penduduk Jember bebas menggunakan tanahnya untuk menanam selain tembakau. Umumnya adalah padi.

Petani pemilik dan penggarap lahan menerima pembayaran sesuai dengan jumlah daun tembakau yang berhasil melewati sortir. Jadi, metode yang mula-mula dilakukan oleh Birnie ibarat kemitraan saat ini.

Perusahaan tentu butuh lebih banyak lagi lahan, tak bisa mengandalkan metode kemitraan saja. Secara perlahan, mereka mulai melakukan sistem sewa lahan, bertahap menebangi hutan, mempersiapkan tanah untuk bikin bedengan penanaman benih, agar benih-benih tembakau itu dapat didistribusikan ke penduduk bila musim tanam telah tiba. Perusahaan juga butuh lahan untuk kantor, butuh gudang-gudang penyimpanan, butuh gudang pengeringan, dan sebagainya.

Di tiga tahun pertama, perusahaan mengalami kerugian.

Jatuh bangun perusahaan perkebunan ini bisa Anda baca di buku laporan 50 tahun perusahaan itu berdiri, berjudul, Landbouw Maatsccappij Oud Djember 1859-1909. Di masa krisis, George Birnie mencoba produksi tanaman lain, seperti kopi dan gula. Ketertarikan itu dibuktikan dengan pembentukan Kongsi Pertanian Hindia, dan Kongsi Budaya Jawa, di mana ia duduk sebagai Presiden Komisaris.

Limabelas tahun sebelum NV. Landbouw Maatsccappij Oud Djember berdiri, Junghuhn telah datang ke Pegunungan Hjang, Argopuro, di usianya yang ke-34 tahun. Catatannya tak hanya berisi tentang rusa, casuarina, edelweiss, kabut tipis yang menyelemuti vegetasi, hingga panorama Argopuro yang memikat mata. Ada disebut juga oleh Junghuhn secara sepintas tentang hamparan kopi di lereng selatan dan timur Argopuro.

Keberhasilan NV. Landbouw Maatsccappij Oud Djember seolah menghapus dengan sempurna jejak-jejak perkebunan kopi di wilayah Jember sebelum 1850an. Ia juga membuat keberadaan perusahaan perkebunan tembakau pertama di Jember tenggelam. Apalagi NV. Landbouw Maatschappij Soekowono hasil rintisan Franssen van de Putte yang berdiri sejak 1856 itu tak bertahan karena sang perintis lebih memilih fokus pada dunia politik kemiliteran.

Situasi tersebut turut mendukung kenapa narasi tentang George Birnie menjadi kuat dan melekat pada sejarah Jember di masa perkebunan. Ia dianggap bisa menyulap wilayah sepi menjadi metropolis agraris di masanya.

Ketika Birnie datang ke Jember, di sepanjang jalan dari Jember hingga ke Bondowoso, polos. Apa adanya. Semakin ke timur, ia ditutupi dengan berbagai sawah, desa, dan perkebunan kopi. Hutan di lereng Hjang yang dulu ditemukan oleh Junghuhn, pada waktu itu telah menghilang. Namun, di sebelah selatan Jember, hampir semuanya adalah hutan-hutan. Pohon-pohon di pekarangan hingga 1904 dari LMOD adalah sisa-sisa bekas kebun kopi. Ketika Birnie datang ke Jember, ia jumpai betapa banyak kayu dari bambu, palem, dan rotan.

Baca juga:  Pahlawan, Kota, dan Ziarah Masa Lampau

George Birnie mengajak kita untuk menengok kembali Jember ketika disebut sebagai kawasan subur namun dihuni oleh sedikit populasi.

Jauh sebelum George Birnie dilahirkan di Deventer sana, pada 1789 onderdistricten Jember hanya memiliki jumlah penduduk berkisar 8.000 jiwa saja. Meningkat sedikit di tahun 1845. Saat itu Jember sudah memiliki 36 desa dengan jumlah penduduk sebesar 9.237 jiwa. Tapi jumlah penduduk itu belum termasuk Puger.

Jember yang ketika itu menjadi bagian dari Bondowoso, masih dianggap murah dan tak memiliki nilai jual. Tanah Besuki (termasuk Jember) bahkan juga pernah diserahkan kepada Han Boe Hin dengan harga dua ratus ribu gulden. Tapi pada 1813, di bawah kekuasaan Thomas Stamford Raffles, Besuki diserahkan kembali pada Pemerintah karena tak ada kompensasi.

Kelak narasi tentang tanah Jember yang subur namun sepi, di antaranya dituturkan oleh para misionaris. Banyak orang datang ke Jember untuk mendapatkan rasa aman, selain tujuan ekonomi.

Birnie dan situasi-situasi yang menguntungkan.

Usaha yang dirintis George Birnie berkembang bersamaan dengan perkembangan kapitalisme di Eropa. Setelah 1870, ekonomi menempuh arah baru di bawah kebijakan liberal. Ia sejalan dengan perubahan sosial dan politik yang luas. Sistem komunikasi menjadi lebih mudah setelah ada telegram dan cara mengirim surat yang lebih efektif.

Di mula-mula masa berdirinya, NV. Landbouw Maatsccappij Oud Djember mengalami kerugian. Ia bahkan mengalami kerugian berturut-turut di tiga tahun pertama, 1859, 1860, 1861. Namun kelak ia menemukan momentumnya, ketika di luar sana pecah perang antara Prancis-Prusia atau Prancis-Jerman. Deutsch-Französischer Krieg. Ia terjadi pada 1870, bersamaan dengan diberlakukannya UU Agraria di Hindia Belanda. Terjadinya perang antara Jerman dan Perancis membuat harga tembakau dunia naik sedemikian rupa. Itu membuat pengusaha di Jember menjadi orang kaya dalam beberapa tahun hingga mampu mengatur bisnisnya secara penuh dalam waktu singkat.

Di sekitar tahun 1874, pengusaha baru yang memutuskan untuk tinggal di Jember semakin banyak, seiring terjadinya kemunduran budaya tanam tembakau di Lumajang.

Perlahan, Jember mengalami kemajuan. Mulai dikenal adanya kejahatan yang sebelum era 1870an tak dikenal. Misalnya, pencurian tembakau kering dari gudang pengeringan. Ada pula pembakaran lumbung-lumbung tembakau secara disengaja, biasanya dilakukan oleh pesaing. Sebelumnya tak dikenal kejahatan yang seperti itu. Urusan persewaan tanah dari perusahaan ke penduduk Jember pun mulai ada masalah. Untuk mengatasi kejahatan yang semakin marak, dilakukanlah perbaikan-perbaikan hingga peninjauan kembali aturan main. Hingga pada 1891, mulai diberlakukan aturan-aturan yang lebih tegas.

Kemajuan ini menyebabkan Jember dijadikan ruang migrasi bagi orang-orang luar Jember yang mencari pekerjaan dan penghidupan yang lebih layak.

Kabar baik tentang perdagangan tembakau dunia hingga kemenangan dari kekuatan politik kaum liberal membuat George Birnie ada di situasi yang tepat. Usahanya semakin maju, berbanding terbalik dengan usaha Franssen van de Putte di Sukowono, Jember. Perusahaan-perusahaan lama maupun baru yang tak kuat bertahan, ditawarkan pada George Birnie.

Perkembangan perusahaan tembakau di Jember berbanding lurus dengan berkembangnya wilayah ini, baik secara administratif maupun secara fisik. Pada 1883, Jember menjadi regentschap sendiri dan terpisah dari Bondowoso. Secara fisik, telah dibangun jalan baru yang menghubungkan satu persil ke persil perkebunan lainnya. Jalan-jalan lama mengalami perbaikan dan pelebaran. Antara tahun 1880 – 1890 misalnya, perusahaan hasil rintisan Birnie membuat jalan yang panjangnya sekitar 140 kilometer. Ia digunakan untuk menghubungkan kantor pusat NV. Landbouw Maatsccappij Oud Djember di distrik Jember dengan kebun-kebunnya yang terletak di distrik Mayang, Gambirono, Wuluhan, Puger, hingga Tanggul.

Baca juga:  Orang-Orang Hokkian di Jember

Ada jembatan-jembatan baru, irigasi, bangunan-bangunan baru, rumah-rumah berdiri dengan arsitektur yang semakin kokoh, pembangunan pasar-pasar di setiap distrik, hingga perintisan jalur kereta api yang kelak di tahun 1897 membelah tanah Jember. Keberadaan transportasi kereta api tentu semakin memperlancar pengiriman hasil perkebunan dari Jember dan Bondowoso menuju Pelabuhan Panarukan, untuk dikirimkan ke Eropa.

Itu semua adalah pondasi bagi lahirnya Staatsblad nomor 322 tanggal 9 Agustus 1928 yang mulai berlaku tanggal 1 Januari 1929. Kelak ketika Indonesia telah merdeka, tanggal 1 Januari 1929 dijadikan Hari Lahir Jember.

George Birnie menikmati masa jaya di Belanda.

Di usianya yang terbilang masih muda, pada 1873 George Birnie memutuskan untuk kembali ke tanah Belanda. Mula-mula ia menetap di Velp. Pada tahun 1876 George Birnie pindah ke kediamannya di Deventer. Rabina, istri Birnie yang berdarah Jawa itu, yang tak bisa bahasa lain kecuali Melayu, ia tentu diajaknya pula ke tanah Belanda. Meskipun berada di Belanda, tentu kendali perusahaan tetap ada di tangan George Birnie. Di Jember sendiri, perusahaan hasil rintisannya dipercayakan pada Gerhard David Birnie.

Perusahaan yang bertumbuh semakin besar itu, dengan cabang-cabangnya, pada 1893 digabung menjadi satu perusahaan saham gabungan, dengan George Birnie sebagai ketua.

Sesekali George Birnie ke tanah Hindia untuk urusan perusahaan. Terusan Suez telah dibuka sejak 1869, perjalanan laut dari Eropa ke Asia Tenggara tentu lebih mudah. Pembukaan terusan Suez adalah penemuan baru yang sangat berguna untuk memperpendek jarak antara negeri Belanda dan Hindia Belanda.

Selama menikmati hidup di tanah leluhurnya, George Birnie lebih banyak menulis dan tertarik pada urusan kuliner, terlebih tentang nilai gizi gula tebu. Tak hanya menuliskan itu, ia juga memperjuangkan hak atas gula agar dilindungi sebagai bagian dari makanan populer. Masa senggangnya ia isi dengan mempelajari fisiologi dan teologi secara mendalam. George Birnie adalah pengagum ajaran Buddha. Ia juga kagum pada gagasan tentang keabadian, sebuah kepercayaan milik orang-orang Hindu.

Pada 20 Mei 1904, dari Deventer terdengar kabar bila George Birnie meninggal dunia di usianya yang ke-73 tahun.

Catatan ini memang tak sempurna. Ia tak menjelaskan perjalanan asmara seorang George Birnie, tak menuturkan bagaimana Birnie melakukan pendekatan kepada masyarakat setempat dan hidup seperti mereka, hanya agar mereka tertarik menanam tembakau Na Oogst, dan sebagainya. Tapi semoga catatan ini dapat mengantarkan Anda mengenal lebih dekat George Birnie, orang yang namanya hidup di arsip-arsip sejarah tentang Jember.

George Birnie. Ia tak ada dalam ingatan kolektif warga.

Di kabupaten Jember, tak ada hasil karya yang sengaja dibangun untuk mengawetkan ingatan tentang dirinya. Tak ada nama jalan yang menyematkan namanya, tak ada nama gedung, tak ada satu pun monumen tentang Birnie. Bila pun dipaksakan, mungkin akan runtuh karena orang tak mengenalnya. Atau karena dianggap kebelanda-belandaan. Lebih parah lagi bila dianggap memuja masa penjajahan. Di sisi lain, Jember begitu membanggakan masa lalunya, begitu membanggakan hari lahirnya.[]

covergb - Satu Nama Terukir di Sebuah Kota

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi